“Menulis Perjalanan” : Membaca Rekam Jejak dan Pemikiran

Serumpun Puisi
Menulis Perjalanan

Penulis: Alumni dan Mahasiswa Sastra Indonesia UNIMED

Halaman: xii+97 hlm.
Ukuran: 14×21 cm
Sampul: Soft Cover
ISBN: 978-602-60302-7-6
Tahun Terbit: September 2017

Rekam jejak dan respon terhadap situasi sosial budaya dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah teks sastra. Sebagai produk pemikiran yang bersinggungan langsung dengan tatanan hidup masyarakat, lingkungan, pendidikan, dan faktor lainnya, sastra menawarkan kerangka berpikir makro dan mikro.

            Dalam konteks tersebut, keberadaan karya sastra juga tidak dapat dilepaskan dari ideologi. Hal ini turut didukung oleh posisi pengarang sebagai bagian dari masyarakat sosial yang memiliki konsep berpikir dan tingkah laku tertentu. Mengingat bahwa memang ideologi berkaitan erat dengan gagasan dan tindakan-tindakan individu, maka karya yang dihasilkan pengarang, secara langsung atau tidak, mengandung ideologi pengarangnya. Ide atau gagasan sastrawan yang dituangkan dalam karya sastra bisa mempengaruhi opini publik (Sambodja, 2011:179). Dengan demikian, teks sastra adalah representasi ideologi pengarang (Mahayana, 2012:183). Karya sastra menyodorkan kepada pembaca untuk melakukan pemihakan, perlawanan, atau kesadaran yang berkaitan dengan penyikapan pada nilai-nilai kemanusiaan.

            Buku kumpulan puisi ini mengusung semangat yang sama. Meski ditulis oleh pengarang yang lahir dan bergiat sastra pada tahun yang berbeda, puisi-puisi yang termaktub dalam buku ini merespon peristiwa-peristiwa dan situasi sosial yang cenderung sama. Misalnya tentang religiusitas, cinta, dan kritik sosial. Dalam ketiga tema tersebut, keberadaan teknologi pun menjadi bagian penting. Kecenderungan kebudayaan yang direpresentasikan menunjukkan karakteristik millennial yang banyak melibatkan teknologi dalam berbagai aktivitas.

Tema religiusitas, misalnya muncul dalam puisi “Ummati” yang ditulis oleh Hasni Raudati.

Tak semua
Ada yang menangis karena cintanya
Bergejolak karena rindunya
Tak berjumpa
Ntah bila
Namun cinta tetap untuk-Nya
Meski tak seluas cintanya
Meski tak sedalam rindu nya
Ummati ummati ummati
Ummati ummati ummati
Ummati hingga ajal mengakhiri

            Puisi tersebut menyampaikan bentuk kecintaan yang begitu dalam pada sang Maha Kasih. Kecintaan itu sekaligus didampingi oleh keyakinan bahwa yang dituju pun telah mempersiapkan cinta yang lebih besar. Puisi-puisi yang menyinggung persoalan religiusitas turut ditampilkan dalam beberapa puisi lain. Selain mengenai religiusitas, puisi tentang kerinduan pada manusia dalam hubungan sosial lain pun turut menghiasi kumpulan puisi ini. Misalnya, dalam puisi yang ditulis oleh Susanna Hutabarat dan Alda Muhsi.

Pulang

Pergiku takkan lama

Untuk sekadar melepas rindu

Lama tak bersua andai taulan

Aku mungkin akan merindu

Nanti kita akan berjumpa jua

Genggamlah erat senandung janjiku

Aku Ingin Menjadi Kopimu

Aku ingin celupkan sebiji bola mataku ke dalam kopimu
dan satunya lagi ingin kubenamkam ke dalam hatimu
agar kuracik penawar gundah dadamu yang terbiar,
terbakar oleh angan serupa matahari

Aku ingin menjadi kopimu
penenang malam, pereda sandaran
penghilang penat, peneman lelah
kau cumbu penuh hasrat

            Kedua puisi di atas mengungkapkan rasa cinta dan rindu untuk subjek yang cenderung berbeda. Puisi “Pulang” yang ditulis oleh Susanna menampilkan cinta dan rindu kepada andai taulan yang terkesan lebih umum ditujukan pada teman, rekan, dan keluarga. Sedangkan dalam puisi “Aku Ingin Menjadi Kopimu”, Alda Muhsi secara khusus menujukan cinta dan rindu pada seseorang.

            Di samping kedua tema tersebut, tema yang juga mendominasi dalam kumpulan puisi ini adalah kritik sosial. Pemikiran-pemikiran kritis terhadap situasi masyarakat disampaikan dengan karakteristik yang variatif. Misalnya puisi yang ditulis oleh Prihartini Simbolon, Mhd. Anggie J. Daulay, S.S., M.Hum., dan Sartika Sari.

Sebatas Mulus dan Kakus

Ternyata kesempatan hanya milik mereka yang beruntung

Bukan mereka yang berteriak meminta keadilan

Ternyata kesempatan hanya milik mereka yang beruang

Bukan mereka yang bersimbah darah mengemis kebenaran

Hai tuan penikmat kekuasaan!

Kemana hendak kau palingkan muka itu

Paras wajah penuh perbawa dan mulus nian

Bukan seperti muka mamak bapakku yang penuh tanah dan debu

KANIBALIS SOSIALIS

Bertapa sosok di penghujung radang

Merajang karang dayu merayu dalam nikmat tinggi

lalu berjabatlah tangan-tangan gelap pencakar

Tanda menikam,

Menggerus,

Menampar dan menyekang

Sedang sayap-sayap keras

padamkan api kecil-kecil untuk memulai konstruksi fasik

            Puisi “Sebatas Mulus dan Kakus” yang ditulis oleh Prihartini mengkritisi keadaan pemerintahan yang dinilai tidak adil dan telah mengakibatkan kerugian besar yang dirasakan oleh masyarakat. Dengan perspektif yang sama, puisi “Kanibalis Sosialis” yang ditulis oleh Mhd. Anggie J. Daulay menyampaikan bagaimana polarisasi antara masyarakat dan kaum kanibalis sosialis. Kedua puisi itu pada akhirnya menyuarakan kritik terhadap situasi pemerintahan.

            Dengan cara yang berbeda, Sartika Sari melalui puisi “Laku Hambeging Samodra” menyampaikan kritik dengan cara yang cenderung berbeda.

Laku Hambeging Samodra

sementara jembatan layang terus mengular

nuju sepi ke sepi

pelipisnya dicucuki kenangan di sebuah terminal

tempat biasa petugas perhubungan berceracau

dengan tukang parkir, supir angkot,

dan penumpang percut yang gemar menunggu

sampai malam

Inang tak biasa pulang kosong tangan

biar kernyit dahi bercak cacing

kucing-kucing mengendap ke telinga,

pagi menunggunya berkali-kali

bertubi-tubi

            Tidak ada suara-suara keras untuk mengkritik pemerintahan. Namun Sartika menunjukkan dengan detail dan metaforis bagaimana kehidupan masyarakat kelas bawah yang dalam konteks makro adalah pihak yang merasakan efek pemerintahan.

            Dalam ketiga tema tersebut, para alumni dan mahasiswa program studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan ini menyampaikan pemikiran-pemikiran mereka. Buku Menulis Perjalanan sekaligus menjadi bukti konkret salah satu sumbangsih para akademisi sastra pada masyarakat. Saya sangat mengapresiasi kehadiran buku ini. Kepada pembaca, selamat menikmati dan menelusuri berbagai peristiwa yang disajikan dalam puisi-puisi Menulis Perjalanan.

Dr. Isda Pramuniati, M.Hum.
Dekan Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Medan

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.