Merangkai Aksara Menjadi Puisi

Kumpulan Puisi
Aksara Pemikat Hati

Penulis:
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
FKIP Universitas Prima Indonesia

Halaman: xiv+85 hlm.
Ukuran: 13.5×20 cm
Sampul: Soft Cover
ISBN: 978-602-51844-5-1
Tahun Terbit: Mei 2018

Sastra adalah hasil kreativitas pengarang yang bersumber dari kehidupan manusia secara langsung melalui rekaan dengan bahasa sebagai medianya (Retno Winarni, 2009: 7). Pernyataan di atas menunjukkan bahwa sastra memberikan ruang kepada manusia untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Bagaimana sebuah realitas hubungan kehidupan manusia dengan lingkungan sekitar dapat dikisahkan melalui media bahasa dengan mengedepankan nilai-nilai humanis. Hal ini menjadikan keadaan lingkungan sekitar sangat berpengaruh dalam proses penciptaan sebuah karya sastra. Tidak terkecuali dalam menulis puisi.

Ide untuk menulis puisi bisa didapatkan dari pengamatan dan pengalaman. Baik itu pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain yang diamati dengan jeli. Segala perbuatan mengamati itu sudah dapat dikatakan cikal bakal proses kreatif penciptaan puisi (pencarian dan pengumpulan ide). Sebagaimana yang dikatakan Jabrohim, dkk (2003: 31-33) menulis puisi bermula dari proses kreatif, yakni mengimajikan atau mengembangkan fakta-fakta empirik yang kemudian diwujudkan dalam bentuk puisi. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan itulah para mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Prima Indonesia, berproses untuk menuang aksara demi aksara menjadi kumpulan puisi yang termaktub dalam buku “Aksara Pemikat Hati”.

Sebagian besar puisi-puisi yang tertuang mengutarakan perasaan cinta. Cinta kepada kekasih, cinta kepada sahabat, cinta kepada keluarga, cinta kepada alam dan lingkungan. Perasaan cinta yang mendalam itu kemudian berkembang menjadi kerinduan. Kerinduan yang menciptakan kenangan-kenangan dan harapan dalam kepala. Kenangan itu masih akan menciptakan kebahagiaan atau kesedihan. Maka ada beberapa subtema lagi yang akan ditemukan dalam buku ini, setelah tema besar perasaan cinta, yakni persoalan kerinduan, kenangan, dan harapan. Proses menuang (mengalihkan) perasaan menjadi puisi mengalir apa adanya. Oleh karena itu ketika membaca puisi-puisi dalam buku ini pembaca akan menemukan kejujuran tutur yang disampaikan para penulis.

Gabungan antara perasaan cinta, rindu, kenangan yang melahirkan kesedihan, dan harapan itu bisa ditemukan dalam puisi Aksara Pemikat Hati (yang menjadi judul buku) berikut,

AKSARA PEMIKAT HATI

lelaki dengan sebuah pena,
yang selalu menuliskan kisahku dalam buku hidupnya
garis demi garis, lembar demi lembar
gambaran kisah rumit sisakan kenang yang bersejarah
akhirnya, ia berhenti menulis kisah
lembaran ditutup bersama runtuhnya air mata
tak sanggup mata membaca, tak mampu mulut bersuara
tak henti hati tercabik

ia kecewa,
lembaran kertas rintihan air mata, disimpan hingga berdebu
menghapus kesedihan dan lanjutkan kisah lembaran baru
hidup yang gelap telah berubah pancarkan warna
lelaki dengan sebuah pena
aksara ini kutujukan padamu
Sang pemikat hati
Yang lahir dari jari jemari puisi

Oh
Lelaki penakluk hati
Kau telah hadir di hidupku
Membawa cahaya di pagiku
Kau bukan lagi sekedar pemikat hati,
kau adalah inspirasi bagi bait-bait sajakku
ke mana langkah pergimu

Penulis menyatakan perasaan cinta dan kerinduan aku lirik terhadap seorang lelaki pemikat hati dengan menghadirkan keping-keping kenangan. Di mana penulis menyajikan suasana yang terasa mengalir, seolah-olah pembaca tengah berada dalam suasana itu. Tidak terasa seperti keadaan yang dipaksakan (dibuat-buat). Perpindahan-perpindahan yang disusun dengan rapi membuat pembaca lena dan hanyut menikmati puisinya.

Puisi dengan tema serupa juga dapat dilihat dalam puisi Aksara Hujan berikut,

AKSARA HUJAN

Ada yang begitu kukagumi
Dari setiap rintikmu yang jatuh ke bumi
Dari aksaramu aku mampu membaca 
dan menemukan segalanya
Cinta, rindu, sedih dan duka
Semua mampu kau lukiskan dalam sekejap
Kau campur aduk dalam genangan yang tersisa
sehabis kau turun

Kenangan tentang hujan menyisakan kerinduan yang mendalam. Ada kisah cinta yang masih harus dituntaskan, namun dengan segala keterbatasan ruang dan waktu akhirnya pertemuan mesti diakhiri. Penulis mengibaratkan sesuatu yang dicintainya dengan diksi hujan. Pemilihan diksi hujan barangkali untuk mempertegas kedekatan hubungan penulis dengan lingkungan. Dan bisa jadi pula di balik hujan tersimpan segala harapan untuk kebaikan.

Dua puisi di atas dianggap dapat menjadi perwakilan puisi-puisi di dalam buku ini. Puisi-puisi yang berkutat seputar persoalan percintaan. Namun begitu, konsep percintaan yang dihadirkan tidak sama dengan percintaan ABG yang menggelikan. Justru puisi-puisi dalam buku ini menghadirkan percintaan yang membuat hati pembaca terenyuh.

Puisi-puisi dalam buku ini merupakan hasil interaksi para mahasiswa dengan lingkungan sekitarnya. Dengan pengolahan dan permainan kata sehingga terciptalah puisi yang utuh. Walau demikian, tidak semuanya mampu berhasil menghadirkan puisi-puisi terbaik. Sebagai langkah awal tentu saja masih banyak hal yang mesti diperbaiki dalam buku ini. Akan tetapi sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sudah sepatutnya langkah para penulis diberikan apresiasi. Karena dengan terbitnya buku kumpulan puisi, “Aksara Pemikat Hati” artinya para mahasiswa sudah mengabdikan diri pada ruang sastra, ruang yang mereka geluti. Semoga ke depannya dapat menjadi pemicu untuk membangkitkan gelora sastra generasi berikutnya, dan semoga karya-karya berikutnya akan semakin baik lagi. Selamat membaca.

Dian Syahfitri, S.S., M.Hum.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Prima Indonesia

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.