Bilamana

Bilamana

Kumpulan Puisi

Penulis:

Alia Amanda Anwar

El Monica

Bebby Hutapea

 

Saya teramat senang ketika bertemu dengan orang-orang baru, apalagi yang memiliki kesamaan minat terhadap sesuatu. Kesenangan itu bisa direfleksikan dengan pertemuan yang intens hanya untuk membicarakan satu topik, terlebih sampai pada membuat satu project bersama-sama.

Orang baru selalu punya hal tersembunyi yang menarik untuk ditelisik. Oleh karenanya pertemuan dengan orang baru bagi saya memperpanjang napas segar yang bersirkulasi dalam dada. Sebab selama ini saya kerap diapit oleh hal-hal yang membuat dada terasa sesak. Khususnya, pada bidang perbukuan dan sastra yang saya geluti.

Alia Amanda Anwar, El Monica, dan Bebby Hutapea, secara garis pertemanan saya lebih dulu mengenal Alia, walau hanya melalui media sosial, mungkin sekitar lima tahun lalu. Pada pertemuan pertama dengannya yang berlangsung di Pos Bloc, Sabtu, 3 Juni 2023, saya turut dikenalkan dengan El Monica. Saat itu mereka mengisi acara ulang tahun Ngobrol Buku dengan pembacaan puisi. Harusnya mereka bertiga, bersama Bebby yang membentuk kelompok Rimbun Kata. Tapi sampai saat tulisan ini dibuat saya belum juga bertemu dengan Bebby.

Pertemuan pertama yang singkat itu berlanjut ke pertemuan selanjutnya untuk membahas draft kumpulan puisi mereka bertiga yang sudah ada sejak 2016. Kemudian dengan kesepakatan draft tersebut diperbarui dan ditambahkan puisi-puisi baru agar sekaligus memberikan kesan dramatis untuk mengenang satu dekade kepenyairan mereka. Ya, mereka adalah penggagas Malam Puisi Medan pada tahun 2013 silam. Maka jadilah buku “Bilamana: Kumpulan Puisi Satu Dekade Alia Amanda Anwar – El Monica – Bebby Hutape” ini.

Al – El – B, begitu mereka akrab dipanggil. Walaupun sudah berteman lama, tapi warna puisi mereka berbeda. Masing-masing memiliki gaya dan keunikannya sendiri. Al, memiliki pandangan yang luas terhadap tema. Ia menyenangi tema umum yang melibatkan kepentingan banyak orang dalam puisinya. Berbeda dengan El, yang membahas apa yang dekat dengan dirinya, seputar keluarga tentunya. Namun, tema itu menjadi tidak monoton karena El mampu memikat pembaca dengan permainan bolak-balik kata, yang menimbulkan irama ketika kita membacanya. Sementara B, secara tema lebih dekat dengan El, membicarakan hal-hal personal, namun dengan gaya naratif ia menjadi bisa mengaduk-ngaduk perasaan pembaca, menyentuh titik paling sensitif manusia.

Satu kesamaan tulisan mereka yang saya temukan adalah sama-sama memperhatikan rima. Hal itu bisa jadi karena ketika menulis puisi mereka sudah membayangkan akan membaca puisi itu di hadapan publik. Bagi mereka puisi dengan rima akan lebih ramah didengar dan sampaikan.

Akhirnya saya mempunyai harapan semoga Bilamana dapat diterima baik oleh publik, dan mendapat pembahasan-pembahasan yang asyik untuk menambah wawasan perpuisian kita.

 

 

Salam,

Alda Muhsi

Editor

Kategori: Tag: ,

Deskripsi

Bilamana

Kumpulan Puisi

Penulis:

Alia Amanda Anwar

El Monica

Bebby Hutapea

 

Saya teramat senang ketika bertemu dengan orang-orang baru, apalagi yang memiliki kesamaan minat terhadap sesuatu. Kesenangan itu bisa direfleksikan dengan pertemuan yang intens hanya untuk membicarakan satu topik, terlebih sampai pada membuat satu project bersama-sama.

Orang baru selalu punya hal tersembunyi yang menarik untuk ditelisik. Oleh karenanya pertemuan dengan orang baru bagi saya memperpanjang napas segar yang bersirkulasi dalam dada. Sebab selama ini saya kerap diapit oleh hal-hal yang membuat dada terasa sesak. Khususnya, pada bidang perbukuan dan sastra yang saya geluti.

Alia Amanda Anwar, El Monica, dan Bebby Hutapea, secara garis pertemanan saya lebih dulu mengenal Alia, walau hanya melalui media sosial, mungkin sekitar lima tahun lalu. Pada pertemuan pertama dengannya yang berlangsung di Pos Bloc, Sabtu, 3 Juni 2023, saya turut dikenalkan dengan El Monica. Saat itu mereka mengisi acara ulang tahun Ngobrol Buku dengan pembacaan puisi. Harusnya mereka bertiga, bersama Bebby yang membentuk kelompok Rimbun Kata. Tapi sampai saat tulisan ini dibuat saya belum juga bertemu dengan Bebby.

Pertemuan pertama yang singkat itu berlanjut ke pertemuan selanjutnya untuk membahas draft kumpulan puisi mereka bertiga yang sudah ada sejak 2016. Kemudian dengan kesepakatan draft tersebut diperbarui dan ditambahkan puisi-puisi baru agar sekaligus memberikan kesan dramatis untuk mengenang satu dekade kepenyairan mereka. Ya, mereka adalah penggagas Malam Puisi Medan pada tahun 2013 silam. Maka jadilah buku “Bilamana: Kumpulan Puisi Satu Dekade Alia Amanda Anwar – El Monica – Bebby Hutape” ini.

Al – El – B, begitu mereka akrab dipanggil. Walaupun sudah berteman lama, tapi warna puisi mereka berbeda. Masing-masing memiliki gaya dan keunikannya sendiri. Al, memiliki pandangan yang luas terhadap tema. Ia menyenangi tema umum yang melibatkan kepentingan banyak orang dalam puisinya. Berbeda dengan El, yang membahas apa yang dekat dengan dirinya, seputar keluarga tentunya. Namun, tema itu menjadi tidak monoton karena El mampu memikat pembaca dengan permainan bolak-balik kata, yang menimbulkan irama ketika kita membacanya. Sementara B, secara tema lebih dekat dengan El, membicarakan hal-hal personal, namun dengan gaya naratif ia menjadi bisa mengaduk-ngaduk perasaan pembaca, menyentuh titik paling sensitif manusia.

Satu kesamaan tulisan mereka yang saya temukan adalah sama-sama memperhatikan rima. Hal itu bisa jadi karena ketika menulis puisi mereka sudah membayangkan akan membaca puisi itu di hadapan publik. Bagi mereka puisi dengan rima akan lebih ramah didengar dan sampaikan.

Akhirnya saya mempunyai harapan semoga Bilamana dapat diterima baik oleh publik, dan mendapat pembahasan-pembahasan yang asyik untuk menambah wawasan perpuisian kita.

 

 

Salam,

Alda Muhsi

Editor

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Bilamana”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.