
Kumpulan Esai
Budaya, Agama, Seksualitas
Editor: Aquarini Priyatna, Mega Subekti, Witakania S. Som
Halaman: viii+240 hlm.
Ukuran: 14×21 cm
Sampul: Soft Cover
ISBN: 978-602-60302-1-4
Tahun Terbit: Januari 2017
Mengembangkan sebuah buku yang mendokumentasikan berbagai penelitian yang sudah dilakukan oleh mahasiswa dan dosen serta para peneliti dalam kajian budaya, terutama yang berhubungan dengan isu gender, seksualitas dan agama sudah lama menjadi agenda Departemen Susastra, dan Kajian Budaya, UNPAD. Departemen SKB telah cukup lama aktif menyelenggarakan berbagai seminar yang berhubungan dengan tema tersebut dan buku ini lahir dari berbagai kegiatan yang secara intensif dibangun oleh Departemen Susastra dan Kajian Budaya.
Program Magister Sastra Kontemporer dan Program Magister Kajian Budaya FIB UNPAD menawarkan mata kuliah Gender, Seksualitas dan Kajian Budaya, yang salah satu program rutinnya adalah menyelenggarakan seminar hasil penelitian mahasiswa yang terbuka untuk diikuti oleh publik umum. Meski mungkin dapat dikategorikan sebagai seminar kecil, melalui kegiatan ini mahasiswa memaparkan hasil penelitiannya dan mendiskusikannya dengan para peserta seminar yang datang bukan saja dari FIB UNPAD, melainkan juga dari fakultas, bahkan dari universitas serta institusi lainnya. Setelah melalui proses presentasi dan mempertimbangkan berbagai masukan serta melalui proses review dan revisi, paper yang dianggap layak diterbitkan dalam buku kumpulan tulisan ini.
Buku ini juga diperkaya dengan tulisan dari para peneliti yang mempunyai ketertarikan dalam tema yang menjadi fokus penerbitan buku ini yakni: Budaya, Agama, dan Seksualitas. Semula, kami merencanakan untuk menerbitkan dua buku dengan judul tersebut, Agama dan Budaya, serta Seksualitas dan Budaya, tetapi setelah kami membaca kembali berbagai paper yang masuk, kami menemukan bahwa diskusi mengenai budaya, agama, dan seksualitas seringkali saling berkaitan sedemikian sehingga kami memutuskan untuk menjadikannya satu buah buku yang mengilustrasikan berbagai kajian interdisiplin yang mengelaborasi kompleksitas isu yang dibahas.
Beberapa paper dengan jelas menunjukkan saling keterkaitan antara ketiga fokus tema, misalnya tulisan Juwariyah yang membicarakan iklan produk kecantikan dan fashion untuk “muslimah”. Tulisan ini menunjukkan betapa konstruksi gender sangat berkaitan erat dengan isu agama dan budaya sedemikian sehingga paper seperti ini hanya dapat didekati dengan kajian interdisiplin. Topik lain dalam relasi agama, gender, dan seksualitas adalah sebagaimana dibicarakan oleh Kurniasih, yang membicarakan konteks kecantikan muslimah, yang merupakan bentuk “spin off” dari konteks kecantikan yang ‘konvensional’.
Tulisan lain, seperti yang ditulis Gian, menunjukkan bahwa isu seksualitas, dalam hal ini homoseksualitas, di pesantren tidak dapat secara sederhana dibicarakan sebagai isu seksualitas karena ruang tempat isu berkembang adalah pesantren yang biasanya dianggap lebih sebagai persoalan agama. Lebih jauh lagi, bahkan persoalan homoseksualitas di pesantren tidak cukup dibahas dengan pendekatan mengenai seksualitas dan agama, ia juga harus dipahami dengan mempertimbangkan isu budaya tempat pesantren itu sendiri tumbuh, dan bahkan budaya yang secara spesifik berkembang di pesantren itu sendiri. Dalam hal ini, buku ini mengambil posisi budaya sebagai bagian dari praktik kehidupan sehari-hari (Certeau, 1984). Tulisan Gian dengan sangat menarik membicarakan berbagai praktik yang berkembang di pesantren terkait dengan isu [homo]seksualitas dan nilai-nilai serta ajaran agama dalam konteks keseharian kehidupan di pesantren.
Sebagai pembuka buku ini kami menempatkan tulisan Aliyuna Pratisti yang membicarakan isu kejawen dan isu toleransi atas tafsir yang seringkali berpotensi menimbulkan konflik. Tulisan Aliyuna diikuti oleh tulisan Widyo Nugrahanto yang memetakan kemunculan dan perkembangan berbagai aliran kebatinan di Indonesia. Juga dibicarakan bagaimana aliran kebatinan ini juga mengalami pasang surut dalam penerimaannya baik dalam ranah negara maupun ranah sosial. Sebagaimana dibicarakan Aliyuna, pembicaraan mengenai tafsir atas ajaran agama juga terjadi dalam konteks aliran di dalam ajaran agama [Islam] itu sendiri, seperti yang dibahas oleh Kunto Sofianto yang membicarakan tentang Ahmadiyah. Pada prinsipnya, buku ini membahas isu agama dalam hubungannya dengan agama karena perspektif buku ini adalah bahwa agama harus disikapi juga melalui perspektif budaya. Tulisan Hazbini yang berjudul Islam dan Kebudayaan menunjukkan saling keterkaitan antara ajaran agama, interpretasi agama dan praktik budaya, terutama sebagaimana yang dilakukan setiap hari. Karena ajaran agama pada intinya berupa interpretasi atas ajaran agama itu maka berbagai “praktik agama” dapat menjadi situs perdebatan dan perbedaan pendapat, misalnya praktik poligami. Tulisan Anggraeni membahas praktik poligami di Indonesia dalam perspektif feminis. Isu poligami memang merupakan isu yang kompleks dan dalam tingkatan tertentu dapat menjadi sangat sensitif. Membicarakannya dalam perspektif feminis akan berkontribusi signifikan terhadap wacana poligami di Indonesia.
Berbagai tulisan lain membicarakan isu seksualitas dan budaya dalam konteks sosial media dan juga media. Tulisan Ali Mecca membicarakan konstruksi gender sebagaimana ditampilkan dalam media sosial facebook. Menurutnya penampilan foto di social media tidak terlepas dari nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat serta berkaitan erat dengan isu kelas dan budaya. Juga berbicara dalam konteks media adalah tulisan Dita, yang membahas media gay sebagai alternatif dari media sosial arus utama yang cenderung menjunjung nilai-nilai heteronormatif. Resistensi terhadap konstruksi gender dan seksualitas yang normatif juga dibahas dalam tulisan Ezzah yang membicarakan film Madame X, yang tokoh utamanya adalah seorang transgender. Film ini menurut Ezzah berusaha mengartikulasi suara seksualitas dari konstruksi gender yang queer. Tulisan Ezzah menjadi penting karena ia menunjukkan bagaimana film Indonesia sudah mulai berusaha menangkap berbagai isu yang biasanya tidak diungkapkan karena dianggap tabu atau tidak pantas. Film Madame X, menurut Ezzah menunjukkan bagaimana konstruksi seksualitas yang heteronormatif seringkali menghasilkan opresi dan marjinalisasi kelompok yang tidak dikategorikan sebagai “normal”. Ranah lain yang juga mempunyai potensi untuk meresistensi konstruksi gender normatif adalah games online yang memungkinkan terjadinya cross gender atau juga disebut gender switch, sebagaimana dibahas oleh Fathurahman. Melalui pembahasan atas identitas dan performavitas gender dalam games online ditunjukkan adanya fluiditas konstruksi gender di satu sisi, tetapi di sisi lain juga ada konstruksi gender normatif yang termanifestasi dalam praktik sosial di dalam games online yang dibahas dalam paper. Isu agama dan seksualitas dalam kajian media juga dibahas dalam konteks reality show The Return of Superman, yang ditulis oleh Muri Iryanti. Dalam papernya, Muri membahas konstruksi ayah sebagaimana ditampilkan di dalam program tersebut. Media lain yang menjadi objek penelitian adalah majalah berbahasa Sunda Mangle. Dalam papernya ini, Taufik Rahayu membahas Konstruksi Perempuan dalam Majalah Mangle pada Masa Orde Baru.
Topik lain yang dibahas berfokus pada konstruksi gender dalam berbagai ranah, misalnya dalam penari ronggeng, sebagaimana dibahas oleh Neng Komala, dalam teks paririmbon Sunda, yang dibahas oleh Nia Kurnia, dan dalam seni lukis anak, sebagaimana dibahas oleh Surya Gumilang. Tulisan Miravianti Andiani dan Witakania S.Som membahas secara spesifik isu tubuh dalam karya sastra, yakni Novel Un Hereux Evenement karya Eliette Abecassis. Dalam kajian feminis, tubuh adalah isu penting karena tubuh merupakan manifestasi dan situs dari berbagai pergulatan ideologi. Membicarakan tubuh, apalagi tubuh perempuan, adalah membicarakan bagaimana masyarakat mengonstruksi perempuan melalui tubuhnya.
Sebuah tulisan yang meski agak berbeda dengan konteksnya, tetapi sangat menarik dalam hal isinya, disampaikan oleh Ari Ariyanto. Dalam papernya, Ari membahas fenomena perempuan fans klub sepakbola Persib dan Persebaya. Diskusi mengenai kelompok perempuan pendukung klub sepakbola masih sangat terbatas, oleh karena itu penelitian Ari menjadi penting karena ia menunjukkan berbagai isu yang berkaitan dengan bagaimana perempuan fans sepakbola mengonstruksi dirinya yang perempuan di dalam domain yang secara normatif didominasi oleh laki-laki. Ari juga membahas bagaimana fans perempuan ini dipersepsi oleh fans klub sepakbola yang pada umumnya laki-laki.
Ditulis sebagai usaha untuk memahami dan mengeksplorasi berbagai ruang yang menuntut untuk diinterpretasi ulang, buku ini adalah mozaik dari berbagai pemikiran dan berbagai argumentasi atas apa yang berlangsung di sekitar kita, berkenaan dengan apa yang mengganggu kita, apa yang telah mendefenisi dan membentuk konstruksi diri kita selama ini. Agama, seksualitas pada akhirnya bukanlah hal yang jelas batasannya karena keduanya ada di dalam konteks budaya, dalam apa yang disebut Certeau sebagai praktik kehidupan sehari-hari kita. Seksualitas bukanlah perkara hitam dan putih, pemahaman atas agama juga termanifestasi dalam beberapa gradasi antara hitam dan putih, berbagai warna abu dengan intensitas yang berbeda-beda.
Sebagai buku yang ditulis bersama-sama oleh dosen dan mahasiswa, buku ini tentu juga menyisakan ruang untuk perbaikan dan eksplorasi yang lebih mendalam. Sebagai editor, kami berharap buku ini akan memungkinkan terjadinya diskusi dan perdebatan lebih lanjut. Dalam konteks yang lebih luas, meski buku ini sederhana saja, kami berharap ia dapat ikut berkontribusi terhadap pengembangan pengetahuan dan diskusi kritis atas agama dan seksualitas sekait dengan budaya.
Sebagai penutup, sebagaimana karya akademik lainnya, kelahiran buku ini hanya dimungkinkan oleh kerja bersama semua pihak, penulis, editor, penerbit, termasuk semua unsur dan elemen dalam setiap prosesnya. Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu dalam segala aspek penerbitan buku ini: Penerbit dan Sartika Sari untuk segala bantuan yang berhubungan dengan penerbitan, Kholil Siregar Hariro atas desain sampul yang berhasil menangkap berbagai argumentasi penting dalam kumpulan tulisan ini, dan semua penulis yang bersama-sama membangun wacana kritis dalam bidang budaya, agama, dan seksualitas.
Akhirnya, selamat membaca.
Aquarini Priyatna,
Mega Subekti,
Witakania S. Som.