Doa Singkat Sebelum ‘Membaca’ Ayu Harahap

Antologi Puisi
Masa Silam Rahimmu

Ayu Harahap

Halaman: xii+87 hlm.
Ukuran: 14×21 cm
Sampul: Soft Cover
ISBN: 978-602-60302-4-5
Tahun Terbit: Agustus 2017

Jujur, inilah kali pertama saya didaulat membuat kata pengantar sebuah antologi puisi. Saya terkejut saat Ayu Harahap menghubungi saya via inbox di FB. Mengapa saya? “Biar lebih jujur dan beda kak,” jawab Ayu. Duhhh, saya jadi was was. Mudah-mudahan saja saya bisa jujur, dan kejujuran saya bisa membaca tiap peristiwa yang terjalin dalam kata kata Ayu…

* * *

Membaca puisi puisi Ayu seperti membaca diri sendiri. Segala rasa tumpah ruah dan tubuh-tubuh pun ikut bicara. Ayu sangat ingin menelisik setiap hal yang terjadi dalam kehidupan sekelilingnya. Hampir semua peristiwa jadi incaran kata-katanya, bahkan “Punggung” pun punya makna yang begitu dalam, pada antologi ini. Hampir seluruh puisi Ayu sangat nikmat untuk dibaca, Ayu lihai memainkan peristiwa dalam tiap judul. Dari beberapa puisinya, ada tiga judul yang menarik saya untuk membacanya berulang-ulang. Salah satunya puisi berjudul “Perempuan” di bawah ini.

PEREMPUAN

kelamin asing, kau berpayung matahari

di dadamu aku pernah menyadap percakapan.

“aku benci angin,” kata daun pada suatu siang

kau diam sambil menampung keringat

“aku benci hidup,” jawabmu dan gagang sapu mengerat di tangan

“apa yang sedang kau cari?” tanyamu pada tabur debu di udara

“ruang,” jawabnya di antara himpitan roda kenderaan

“lalu kau?”

“waktu,” mencuri dan menandai lagi tanggal kematian

oih, kau senantiasa menggelar percakapan pada tuhan

memutar mata punggung, hati, jantung dan telinga

menyisiri hari kematian.

Pada puisi “Perempuan” di atas, Ayu bukan mengupas hal-hal umumnya perempuan, melainkan memberikan peristiwa yang berbeda. Cuplikan percakapan tentang hal lain, seperti pada lirik: “aku benci angin,” kata daun pada suatu siang/ kau diam sambil menampung keringat//. Percakapan ini sangat puitis dan bermakna, sehingga kata perempuan tidak hanya sebatas pada hal-hal yang feminim, tetapi lebih dari pada itu.

“ada yang tak pernah terpikir oleh punggungmu
mataku siap menyala
membakar dan melenyapkan segala”

Puisi “Punggung”? Ah, baru kali ini saya membaca sebuah puisi berjudul demikian dan nyaris di beberapa karya puisi tak ada yang sedemikian detail menempatkan ‘punggung’ menjadi judul puisi. Pada puisi ini, ‘punggung’ benar benar menjadi nyawa sekaligus menjadi napas pada peristiwa kata-kata, menarik dan hampir dipastikan kita sebagai pembaca akan larut dalam imaji yang lebih liar.

Nah, puisi yang terakhir teramati saya dalam antologi ini adalah “Pulang”. Entahlah, kata ‘pulang’ sering kita dengar, hanya saja, pada puisi ini Ayu berupaya memberi gambaran ataupun peristiwa lain kepada khalayak. Mari kita simak keseluruhan lirik “Pulang” berikut: mataku tawar./ di kamar ini, cermin saling bunuh/ dan kenang hidup dari debar jantung./ waktu aku bercakap-cakap pada jelaga./ selain gelisah,/ wajahmu dikandung air mata./ bagian mana lagi yang ingin kupertengkarkan?/ halaman, atap, pintu/ adalah bau tubuhmu/ yang setiap malam menidurkanku/ dalam doa./ mak, aku ingin pulang./ tapi, apa yang nantinya/ pantas untuk aku kotori,/ tubuh atau nisanmu?//.

Mmhh, di tangan Ayu, “Pulang” pun menyisakan pertanyaan yang kadangkala penting dijawab, tetapi kadangkala cukup dipendam semata…

* * *

Demikianlah, masih banyak lagi puisi puisi Ayu yang sangat nikmat dibacakan, dan di salah satu judul, Ayu tak lupa menyematkan bahasa daerah Ayu berasal, sehingga antologi ini menjadi komplit.

Untuk itu semua, saya ucapkan selamat atas Antologi puisi ini Selamat Ayu Harahap! Selamat Perempuan Penyair! Selamat Medan!

Selamat Menikmati!

Devie Matahari; penikmat puisi dan kreator musikalisasi puisi Deavie’s Sanggar Matahari.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.