
Antologi Cerpen
Perempuan dan Belati
Penulis: M. Raudah Jambak
Halaman: xii+101 hlm.
Ukuran: 14×21 cm
Sampul: Soft Cover
ISBN: 978-602-60302-9-0
Tahun Terbit: November 2017
Naskah pemenang Sayembara Manuskrip Buku cerpen Obelia Publisher 2017
Istana yang berdiri megah sudah pasti memiliki pondasi yang kokoh. Begitu juga dalam kancah kesusastraan. Bagaimana sastra mampu bertahan, tak mudah roboh tergerus waktu dan tetap eksis di tengah masyarakat sangat bergantung pada pondasi-pondasi yang kuat. Bukti nyata pondasi-pondasi tersebut katakanlah karya-karya sastra yang tersiar di berbagai surat kabar, dan karya-karya yang diterbitkan menjadi sebuah buku. Merayakan setahun berdirinya Obelia Publisher, kami tergerak untuk berpartisipasi dalam membangun peradaban kesusastraan ke arah yang lebih baik lagi. Dengan penuh suka cita kami menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Sayembara Manuskrip Buku Cerpen Obelia Publisher 2017.”
Dari sejumlah naskah yang kami terima, dewan juri memutuskan dan menetapkan kumpulan cerpen M. Raudah Jambak, “Perempuan dan Belati” terpilih sebagai pemenang. Secara garis besar cerita-cerita dalam antologi ini menyajikan realitas kehidupan yang terjadi dan berkembang di tengah masyarakat. Realitas kehidupan yang muncul sejak dahulu dan masih tetap eksis, tak lekang pula hingga sekarang. Dengan gaya penyampaian yang metaforis, membuat kita hanyut menikmati setiap perpindahan peristiwa yang terjadi. Kita merasa dekat, dan dengan mudah menyelinap ke dalam cerita. Seolah-olah kita berada di dalamnya atau sedang menjadi tokoh dalam cerita. Dan yang menjadi pokok paling penting adalah pembaca mampu menjaring pesan-pesan tersirat dalam lautan cerita-cerita yang termaktub dalam antologi ini.
Tema yang diangkat beragam. Secara keseluruhan menyangkut masalah sosial mulai dari persoalan rumah tangga, tradisi dan budaya, religiusitas, masalah lingkungan, kritik sosial dan masalah kepribadian (konflik batin). Pada beberapa cerita M. Raudah Jambak juga berhasil menggabungkan beberapa konflik tersebut. Dibungkus dengan alur yang menarik sehingga tidak terasa sekat-sekat pembatas yang mengganjal perpindahan-perpindahan dari satu konflik ke konflik lain.
Dalam cerpen “Pagar” tokoh aku dihadapkan pada sebuah pergolakan batin yang mengguncang pikirannya. Akar permasalahan ketika penghasilan tokoh aku sebagai seorang pengajar yang pas-pasan membuat ia dan anak-istrinya mesti menumpang tinggal di rumah mertuanya. Namun tinggal di rumah orang tua atau mertua tidaklah selalu membuat nyaman. Perselisihan akan selalu ada, dan tidak bisa terelakkan. Setelah meminjam ke sana kemari akhirnya mereka pindah ke rumah kontrakan. Akan tetapi masalah terjadi lagi karena rumah tersebut tidak memiliki pagar yang kembali membawa pertengkaran pada rumah tangga mereka. Sang istri yang memiliki sifat tempramen tidak mampu meredam emosinya lantas selalu menuntut yang lebih kepada tokoh aku, tanpa ia mengetahui apa yang tengah dipikirkan dan direncanakan suaminya. Tidak terjalinnya komunikasi yang baik antara suami dan istri menjadi pangkal permasalahan.
“Ketika Deru Bunyi Kereta” menyajikan gaya penceritaan yang berbeda. Dialog demi dialog dirasakan begitu dekat karena menggunakan bahasa umum (sehari-hari). Tokoh aku masih berperan sebagai guru, namun sudut pandang sentral dalam cerita ini justru hadir di tengah cerita, yakni Agung. Seorang murid SMA yang diterpa masalah keluarga. Ketidaksiapan Agung dalam menghadapi masalah membuatnya harus melakukan hal-hal di luar nalar dan dugaan. Pertengkaran hebat terjadi di pinggir rel kereta antara Agung dan seorang lelaki tua yang ingin menikahi ibunya menyita seluruh pandangan. Akhir cerita harus ditutup dengan anarkis. Itulah yang terjadi ketika gejolak yang mendobrak batin tak mampu ditahan. Jika kita memakai konsep psikoanalisis yang dikemukakan Sigmund Freud artinya terjadi ketidakseimbangan antara id, ego, dan superego yang dimiliki tokoh Agung.
“Jerahap Sebarok” bercerita tentang seorang seniman yang hidupnya awut-awutan, berlatar di kedai kopi. Seniman bernama Jerahap Sebarok diyakini sebagai pembawa sial. Pertemuannya dengan perempuan yang ternyata pengedar narkoba membuat seisi warung kopi ditahan polisi dengan tuduhan sebagai komplotan. Orang-orang tidak dapat menerima itu. Termasuk istri pemilik warung kopi yang terpancing marah besar. Termasuk dirinya sendiri yang ditemukan tewas tergantung di kamar mandi. Runtutan penceritaan begitu jelas dan teratur. Pada bagian 1 kita bertanya dan pada bagian lain akan menemukan jawabannya. Di sinilah letak keterpaduan gaya bercerita M. Raudah Jambak. Ia menggiring pembaca untuk mengikuti alur demi alur agar tak terlewat untuk mendapatkan dan memaknai cerita seutuhnya.
“Gugat” berkisah tentang dua sahabat yang berasal dari Minang Kabau. Suatu waktu berpisah lantaran memiliki perbedaan prinsip dan pemahaman perihal Tuhan. Memakai latar Minang Kabau membuat cerita diwarnai dengan budaya, sejarah, dan bahasa daerah sebagai unsur memperkaya cerita. Keterpisahan yang cukup lama rupanya mengundang kerinduan. Tokoh Datuk selalu terbayang sahabatnya hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang pemuda dalam sebuah undangan yang berkata-kata persis seperti kata-kata yang pernah diucapkan sahabatnya dahulu ketika mereka bercengkerama. Pergolakan batin tokoh Datuk dibenturkan antara keinginan dan harapan. Akhirnya muncullah bayang-bayang itu. Tapi apakah itu hal yang sebenarnya atau hanya imajinasi semata.
“Perempuan yang Berumah pada Malam” menghadirkan pergolakan batin tokoh perempuan yang harus menjual kehormatannya demi membiayai sekolah dan membeli obat untuk ibunya yang sakit. Bayangan-bayangan mulai muncul mengganggu pikirannya. Bayangan-bayangan yang muncul akibat kesalahan-kesalahan yang dilakukannya. Akibat fakta hidup yang tidak semestinya. Orok-orok yang diaborsi tiba-tiba menjadi hidup ketika malam, membuat nyala kesedihannya semakin terang. Membuat hatinya bercampur aduk. Di satu sisi naluri perempuannya sangat menginginkan kehadiran seorang bayi, namun sisi lain ia harus menyadari bahwa orok-orok yang hidup dalam bayangannya adalah orok-orok yang menuntutnya. Orok yang tak semestinya ada. Dalam istilah medis hal ini dikenal dengan skizofrenia, gangguan mental, gangguan proses berpikir yang pada umumnya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi atau paranoid. Seperti sebuah garisan takdir bahwa sesuatu yang diawali dengan keburukan akan berakhir pula dengan keburukan. Cerita dikemas tanpa meninggalkan bekas kejanggalan. Artinya cerita berkembang sebagaimana kita meyakini realitas kehidupan. Terjadinya sinkronisasi antara permainan diksi, konflik, klimaks dan antiklimaks yang menyihir pembaca untuk menikmati sajiannya. Pada cerpen ini kita kembali melihat kekuatan cerpen ada pada permainan alur, yang memaksa pembaca untuk mengikuti peristiwa demi peristiwa dan membuat pertanyaan-pertanyaan, yang akhirnya segala pertanyaan terjawab pada penutup cerita.
Jika pada cerpen “Gugat” menyajikan tradisi dan budaya Minang Kabau, dalam cerpen “Irama Sunyi Sungai Deli” disajikan pula tradisi suku Melayu, serta kebiasaan-kebiasaan penduduk yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Deli. Konflik yang mencuat seputar masalah kritik sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Bagaimana seharusnya kita menciptakan ekologi yang baik dengan lingkungan sekitar. Pada kenyataannya orang-orang tak peduli dengan lingkungan, membuang sampah ke sungai, membiarkan kejernihan Sungai Deli menjadi keruh dipenuhi sampah dan menebarkan bau yang teramat menyengat. Seolah-olah kita melupakan hubungan sebab akibat, meniadakan hukum alam yang berlaku. Tapi pada akhirnya kita diberi pelajaran bahwa apa yang kita perbuat maka itulah yang akan kita terima. Seperti cerpen-cerpen yang lain, M. Raudah Jambak memiliki keahlian dalam memadukan beberapa konflik menjadi deretan peristiwa yang sangat rapi. Perpindahan demi perpindaham secara rinci mengalir mengiringi jawaban yang memecah bongkahan tanda tanya.
Kesalahan tidak akan menjadi kebenaran walau berulang kali diumumkan, sebaliknya, kebenaran tidak akan menjadi kesalahan walau tak seorang pun mengetahuinya – Mahatma Gandhi. Seperti itulah kenyataannya, kebenaran selalu bersinar walau tertutup selimut hitam kebohongan. Cerpen “Pak Guru Kusno” membuktikannya lewat kesabaran dan keikhlasan Pak Guru Kusno dalam menghadapi pelbagai persoalan kehidupan. Bahkan cobaan terberat yang dihadapinya ketika harus mendekam dalam jeruji besi karena dijebak sebagai pengedar narkoba oleh muridnya, seorang anak kepala sekolah. Buah sabar, syukur dan ikhlas ternyata mampu membalikkan keadaan, kebenaran menguap setelah dua minggu mendekam dalam penjara, kebebasannya dijamin oleh kepala sekolah, yang akhirnya menerima kenyataan bahwa sang anak memanglah aib keluarga, pegedar dan pemakai narkoba. Cerpen ini mengajak kita untuk menjunjung tinggi sebuah kebenaran walaupun segala macam ancaman datang menyerang. Cerpen ini membuktikan bahwa kebenaran tidak pernah kalah di muka bumi.
Persoalan rumah tangga yang terjadi pelan-pelan akan merambat pada konflik batin manusia. Tak bisa dipungkiri, ketika beban kehidupan yang menyerang tak dapat ditampung, maka akan mengakibatkan pergeseran tingkah laku. Biasanya orang akan lebih senang menyendiri, menangis, tiba-tiba tertawa, berbicara sendiri ketika membayangkan hal-hal yang menimpanya. Dalam cerpen “Perempuan dan Belati” rentetan peristiwa tersusun sebagai gambaran yang dimaksud. Di mana tokoh perempuan yang dikelabui lelaki yang dicintainya menyebabkan pergeseran tingkah laku itu. Pengkhianatan membuat dirinya berlumur kesalahan. Bagaimana reaksinya dalam menyesali kesalahan-kesalahan itu? Karena ketiadaan daya untuk melawan akhirnya tokoh perempuan hanya bisa pasrah memelihara dendam yang mengendap dalam batinnya, yang kemudian membuatnya melakukan hal di luar batas kesadaran. Seperti cerpen “Ketika Deru Bunyi Kereta”, jika kita memakai konsep psikoanalisis yang dikemukakan Sigmund Freud artinya terjadi ketidakseimbangan antara id, ego, dan superego yang dimiliki tokoh perempuan.
Setelah menghadirkan tradisi Minang Kabau dan Melayu dihadirkan pula tradisi suku Anak Dalam (orang-orang rimba) pada cerpen “Segayo”. Ketidakadilan dalam perlakuan membuat suku Anak Dalam harus menelan kepahitan hidup. Sebagaimana perih hati lebih menyakitkan daripada perih di badan. Begitulah perasaan yang menaungi hati orang-orang rimba. Dalam cerpen ini M. Raudah Jambak mengajak kita untuk lebih peduli kepada saudara-saudara kita yakni suku Anak Dalam. Keserakahan orang-orang terang (orang desa dan kota) menjadi momok besar nan menakutkan. Hutan-hutan tempat mereka berekosistem disulap menjadi gedung-gedung, tempat peradaban baru bagi orang-orang terang yang justru mengganggu keharmonisan hubungan dengan orang rimba. Mempersempit ruang gerak, tempat tinggal, dan aktifitas. Dan bukan tidak mungkin lama-kelamaan hutan-hutan tergerus yang merusak ekosistem dan menghabiskan populasi orang-orang rimba. Di sinilah teguran keras yang dilakukan M. Raudah Jambak dengan mengangkat konflik yang tengah dihadapi orang rimba untuk menjadi perhatian bersama.
Perempuan suka es krim dan cokelat, tapi lebih suka kepastian (Sudjiwo Tedjo dalam bukunya Jiwo J#ncuk). Pernikahan memang menjadi bukti kesucian cinta. Bagi dua insan yang menjalin hubungan kasih tidaklah pantas rasanya mengumbar kemesraan tanpa berani mengikrarkan janji suci atas nama pernikahan. Cerpen “Lelaki yang Mencari Cinta” menunjukkan bahwa 8 tahun menjalin hubungan bukan jaminan untuk memasuki fase pernikahan. Justru ketidaksiapan itu sebenarnya muncul dari hati, yang dalam cerpen ini timbul dari masa lalu lelaki. Kehidupan orang tuanya yang tak menikah. Hancurnya kehidupan keluarganya sebab lelaki yang menjadi ayahnya menikahi perempuan lain dan meninggalkan ibunya membuatnya terpukul dan memendam kesedihan tentang sebuah pernikahan. Sejak saat itu ia enggan atau bahkan takut untuk melangsungkan pernikahan, dan harus merelakan harapan yang sudah sewindu dibangun pupus di tengah jalan. Akhir cerita terkesan religius karena perasaan trauma yang dialami sang lelaki bisa diobati dengan berserah kepada sang pemilik cinta hakiki.
Kecantikan memang selalu menjadi sorotan dan mahkota yang diperebutkan. Memiliki paras cantik tak selamanya menjamin kebahagiaan. Setidaknya itulah yang dirasakan tokoh perempuan dalam cerpen “Zulaikha dan Segelas Air yang Tertumpah dari Tangannya”. Memiliki kecantikan yang dibalut emas kecerdasan membuatnya menjadi primadona. Namun justru sekaligus menjadi sebuah petaka. Naluri keperempuanannya yang butuh seorang teman untuk melabuhkan kasih membuatnya mudah goyah oleh rayuan-rayuan lelaki. Hingga menyebabkan sebuah peristiwa nista terjadi dan ia melahirkan seorang bayi, yang kemudian diperdebatkan siapa ayahnya. Persoalan-persoalan yang datang kemudian menyerang batinnya tak mampu dielaknya lagi. Sampai pada suatu malam ia yang berniat menelan beberapa pil obat tidur untuk menenangkan diri, tapi justru tertidur lebih awal dan menemukan bayinya menggelepar pada suatu subuh dengan mulut penuh buih.
Ada saja cara lelaki untuk membahagiakan istrinya. Namun kalau dengan cara yang salah apakah sang istri lantas bahagia? Atau berpura-pura bahagia? Dalam cerpen “Suara yang Mengetuk Daun Pintu” tokoh istri digambarkan sebagai seorang yang religius, taat sembahyang dan berdoa. Terlebih ketika ia divonis mandul. Suatu subuh doa-doanya terjawab dengan ketukan pintu dan kehadiran seorang bayi di depan pintu rumahnya. Suami istri itu menyambut dengan sukacita. Tapi siapa sangka bayi itu adalah hasil perselingkuhan suaminya dengan perempuan lain, yang pada subuh kemudian mengetuk pintu rumah mereka dan ikut tinggal di sana menjadi pengasuh bayi itu. Prahara menjadi jelas, di satu subuh setelahnya kebohongan itu terbongkar, sang istri merasa dikhianati. Dan rumah tangga akhirnya berantakan.
Cerpen “Bulan” menceritakan sebuah kerusuhan yang terjadi di satu kota. Pengeboman. Orang-orang tidak bisa lari, hanya sembunyi di sebuah ruang bawah tanah. Hingga akhirnya ruang bawah tanah itu dibom juga menyebabkan banyak orang meninggal. Termasuk anak-anak dan orang tua renta. Metafor yang dipakai adalah bulan, ini menarik karena dianggap lari (keluar) dari kebiasaan, dari hal yang lumrah. Biasanya bulan dipakai sebagai perumpamaan segala yang indah. Dalam cerpen ini M. Raudah Jambak menyita perhatian dengan memutarbalikkan kebiasaan untuk memaksa pemahaman kita menyetujui bahwa bulan bisa menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan. Bulan itu adalah bom yang meledak-ledak. Di mana-mana, di setiap penjuru tempat, dan di dalam dada tokoh Fitri, yang menemukan putrinya yang bernama Bulan dilahap ledakan bom di tempat persembunyian.
Religiusitas hadir dalam cerpen “Halomoan”, di mana seorang tokoh bernama Halomoan yang selama ini dikenal berperilaku tidak baik tiba-tiba saja berubah jelang bulan Ramadhan. Cerpen ini diperkaya oleh sajian-sajian tradisi suku Batak, seperti marpangir, ritual yang biasa dilakukan dalam menyambut kedatangan Ramadhan. Kemudian kenangan tokoh Halomoan terhadap istri dan anaknya yang meninggal diterjang Tsunami Aceh, membawa kita kembali pada masa lampau, di mana Tsunami pernah terjadi di Aceh pada tahun 2004. M. Raudah Jambak benar-benar memiliki beragam kekayaan pada ceritanya. Seperti sebuah kotak yang di dalamnya terdapat rumah-rumah. Ia tidak sedikit pun melewatkan rumah-rumah itu. Rumah yang dikunjunginya secara teratur membuat cerita tergambar begitu jelas dan menyajikan kekayaan intelektual bagi pembaca. Dalam cerita ini kita bisa pula menemukan gambaran realitas kehidupan, bagaimana adanya hukum sebab akibat. Itu terlihat pada perubahan tokoh utama yang dijadikan olok-olokan teman-temannya. Yang membuat ia memutuskan ingin kembali kepada keluarganya, yang sudah berada di dunia berbeda. Seolah-olah menegaskan bahwa keluarga adalah harta paling berharga. Ketika orang-orang menatap sinis kepada kita maka keluargalah tempat berpulang.
“Calon Gubernur” merupakan sebuah bentuk kritik sosial terhadap kehidupan masyarakat saat ini. Di mana banyak orang yang berlomba-lomba ingin menjadi politisi. Seakan-akan politisi adalah gerbang menuju surga dunia. Dalam cerpen ini M. Raudah Jambak menggambarkan dengan jelas bahwa betapa egoisnya sifat manusia ketika dihadapkan dalam persoalan politik. Politik tidak mengenal keluarga. Ayah, ibu, paman, uwak, kakek, istri, semua berlomba-lomba mencalonkan diri sebagai gubernur. Tak mengenal profesi apa sebelumnya. Semua berlomba-lomba mencari wakil. Sebab keserakahan telah menyelimuti hati. Dan semestinya ini menjadi tamparan keras bagi kita, terlebih bagi para politisi.
Memaknai cerpen-cerpen yang termaktub dalam antologi Perempuan dan Belati memang akan selalu terasa kurang, mengingat karya sastra selalu berkembang sebab adanya aspek-aspek lain yang masih harus disusuri. Kami hanya menyajikan sebuah bentuk penafsiran dari satu sisi. Para pembaca tentu memiliki asumsi dan apresiasi lain. Semoga hadirnya buku ini dapat menjadi pondasi sebagai penopang istana-istana kesusastraan kita.
Medan, November 2017
Redaksi Obelia Publisher