Oleh: Wahyu Wiji Astuti*

Membaca puisi-puisi Seiska menenggelamkan saya pada perasaan yang mendalam. Seperti halnya kebanyakan puisi-puisi pengarang perempuan yang intens dalam mengejawantahkan perasaan ke dalam kata-kata, puisi dalam buku Lepas Muasal juga padat dengan rasa. Boleh dikatakan bahwa Lepas Muasal dominan pada puisi liris. Menyajikan perasaan pribadi, yang paling dekat dengan hati.
Memang pada dasarnya puisi liris seolah-olah hanya menceritakan sesuatu yang bersifat introvert mengenai dirinya sendiri. Pengarang menceritakan diri (lirik) sendiri, tanpa peduli pada gejolak fakta-fakta yang terjadi. Sehingga biasanya puisi liris identik dengan perasaan, alam, sunyi, hampa, dan cinta pribadi, yang keseluruhannya merupakan perasaan yang sangat individual.
Oleh Seiska sebagai pengarang, perasaan-perasaan itu disembunyikan dalam bahasa. Meminjam tanda-tanda tubuh dan alam untuk dijadikan pengungkapan. Ia telah menjadi sesuatu yang lain, menjadi sesuatu yang baru, terlepas dari muasalnya. Dalam hal ini dikatakan Derrida bahasa mengalami ketergelinciran makna. Bahwa bahasa yang digunakan dalam puisi-puisi ini tidak lagi memiliki makna yang sebenarnya, namun telah dikonstruksi ulang sehingga mengalami perubahan akibat daya kreativitas pengarangnya. Dikatakan Derrida sebagai konsep Metafora dan Metonimi. Pesan dalam puisi dikonstruksi menggunakan bahasa simbolis/figuratif/kias/penuh unsur penandaan.
Perasaan-perasaan yang mengendap itu, menjadi pengalaman puitik dan dituangkan ke dalam bahasa yang estetik. Bahasa yang memainkan imaji dan metafora. Bahasa sendiri merupakan sebuah sistem tanda yang mewakili konsep-konsep petanda. Dengan kata lain tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain. Puisi adalah hamparan tanda-tanda. Maka dalam kegiatan membaca puisi itu, kita sedang membaca rangkaian tanda-tanda.
Membaca tanda-tanda berkaitan erat dengan cara kerja semiotika. Menganalisis dengan pendekatan semiotik terhadap puisi dapat dikembangkan dalam pembelajaran puisi karena pendekatan semiotik cukup mendasar dalam memaknai puisi (Yukiarti, 2014). Membaca puisi, memerlukan interpretasi yang mendalam untuk mencapai makna yang disembunyikan itu. Maka terlebih dahulu pembacaan heuristik dan hermeneutik perlu dilakukan dalam memahami teks puisi. Hermeneutika sendiri berasal dari bahasa Yunani hermeneuein memiliki arti mengartikan atau menginterpretasikan (Ratna, 2013).
Dekonstruksi membuka luas pemaknaan sebuah tanda, sehingga makna-makna baru mengalir tanpa henti dari tanda tersebut. Munculnya ideologi baru bersifat menyingkirkan (menghancurkan atau mendestruksi) makna sebelumnya, terus-menerus tanpa henti hingga menghasilkan puing-puing makna yang tidak terbatas. Jadi secara ringkas bahwa Derrida memperkenalkan model semiotika dekonstruksi.
Dekonstruksi ini merupakan sebuah alternatif untuk menghilangkan segala keterbatasan penafsiran atau penyimpulan yang baku. Konsep ini membongkar produk pemikiran rasional yang mempercayai kemurnian realitas. Dekonstruksi memungkinkan sebuah tanda untuk ditafsirkan seperti apa saja, tidak ada batasan dalam pemaknaan. Luasnya pemaknaan sebuah tanda membuka peluang bagi lahirnya makna-makna dan ideologi baru yang tidak terbatas dari sebuah tanda.
Judul buku “Lepas Muasal” diambil dari salah satu puisi yang terdapat di dalam buku tersebut. Menilik judul Lepas Muasal mengisyaratkan kita tentang proses melepaskan diri dari tempat asalnya; sesuatu yang terlepas dari asalnya. Merepresentasikan sebuah pembebasan; perubahan; progres; perpindahan dan semacamnya.
Namun puisi Lepas Muasal sendiri menceritakan tentang harapan yang tidak pernah sampai. Sejengkal dari dagu/ debar tak pernah dusta/ berlagu detak tanpa ragu/ sampai waktu patah dalam pinta. Hal ini dilihat dari baris terakhir dalam puisi sampai waktu patah dalam pinta. Bahwa “pinta” mewakili keinginan, harapan, hasrat, doa, cita, impian, yang telah lama dinantikan “waktu” harus “patah” (hancur, rusak) sehingga tidak sempat terwujud.
Pada baris sejengkal dari dagu yang kemudian diikuti debar tak pernah dusta, menandai sesuatu yang berada sejengkal jaraknya dari dagu. Sesuatu yang berdebar, murni, suci, jujur, tidak pernah berdusta. Berlagu detak tanpa ragu, terus berdetak sepanjang hidupnya.Hamparan tanda tersebut menghimpun pemaknaan yang mengerucut pada “jantung”. Jantung merupakan sumber kehidupan manusia. Bagian paling vital pada tubuh manusia. “jantung yang berlagu dan berdetak tanpa ragu” mengisyaratkan keinginan dan harapan kebahagiaan yang mendalam dan ingin segera dipenuhi. Namun, ketika keinginan berubah menjadi permintaan dan permintaan itu tak kunjung kesampaian, maka lepaslah segala muasal, lepaslah segala yang menjadi inti asali diri manusia, yaitu keinginan.
Dalam kacamata poststruktural, hubungan antar tanda tidak akan pernah selesai. Bahwa konsep dari sebuah tanda, adalah mata rantai yang akan terus berulang. Sebab tanda merupakan rangkaian dari tanda yang lain, yaitu berupa konsep-konsep yang terus memerlukan tanda yang lainnya. Maka “keinginan” sebagai tanda, juga tidak akan pernah selesai dan akan terus tertunda. Melepaskan keinginan, atau melepaskan hasrat paling muasal dari diri manusia pun tidak akan pernah mencapai kepuasan. Keinginan adalah sumber penderitaan. Melepaskan keinginan adalah kunci kebahagiaan. Akan tetapi, yang jadi persoalan, membebaskan keinginan itu juga merupakan keinginan.
Berkenaan dengan puisi sebagai tanda, hal lain yang menarik dari buku puisi ini adalah terdapat banyak kata “dada” yang tersebar dalam beberapa puisi. Di antaranya terdapat dalam puisi Sunyi (6), Rindu yang Patah (18), Penguburan Puisi (20), Perihal Desember (29), Pembatalan Rindu (40), Ibu (42) Bila Hujan Jatuh di Bahumu (44), Sepasang Dada (55), Buih Karam (87), Dongeng seekor Kijang (88), Misalnya Kau Pergi (90), Peliharaan (95), Kabar Matahari (97), Penyair yang Kehilangan Judul (98), Bunga Rinte 8.30 Malam (100), Alasan (102) dan lainnya.
Ada apa dengan “dada”?
Dada merupakan bentuk metafora baru yang khas dari penyair. Lakoff-Johnson menerangkan bahwa metafora yang belum disepakati akan dapat melahirkan metafora baru. Penyair telah mengkonstruksi metafora baru yang segar. Dada membangun penafsiran yang lebih konkret, terindra, dan maskulin. Jika dada merupakan representasi dari hati/jantung, maka hati/jantung merupakan representasi dari keinginan, cinta, hasrat, dan kehendak. Dada menjadi semacam kata kunci atau dalam konsep Riffaterre disebut sebagai matrix. Bertaburnya penanda “dada” membentuk jalinan makna yang utuh, bahwa penyair telah berhasil menghadirkan tanda baru dalam jagad penandaan sebagai wujud konkretisasi pesan dan sekaligus juga merupakan upaya untuk menegaskan diri penyair (yang adalah seorang perempuan) untuk berkompetisi bersama penyair-penyair laki-laki yang memang selama ini mendominasi dunia sastra. Dada ada simbol keberanian dan nyali. Sebagaimana kata Bung Karno ketika menantang para imperialis, “Ini dadaku, mana dadamu!”
Selain bertaburnya tanda “dada” dalam buku ini, penyair juga menyandingkan “dada” dengan “kiri”. Seperti dalam pembuka pada buku puisi ini, “Doadoa yang berteriak di dalam kepala, juga membakar sebagian dada kiri./ Maka kutulis ia, sebelum luka menjelma nyala.
Begitupun beberapa puisi lain yang menggunakan kata “dada kiri” yang erat maknanya dengan jantung, organ penting yang menjadi sumber kehidupan. Berfungsi sebagai pemompa darah, mengalirkannya ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Misalnya dalam puisi Perihal Desember tanda “Dada kiri” juga dihubungkan dengan tanda “debar”. Hal ini terdapat dalam bait puisi, Kini Desember lagi datang, masih membawa gerimis yang sama kita cintai. Namun kau tak lagi menunggu debar/dari dada kiriku./ Dan aku, tak lagi berkelakar tentang ijab yang terbengkalai.
Perihal “dada kiri” juga terdapat dalam puisi berjudul “Dongeng Seekor Kijang” (88), pada bait pertama puisi tersebut dituliskan seekor kijang melintas di dada kiri/ mencuri jantung yang sedang berdegup/ ia berlari secepat anganangan/ lolos pula dari jeratan. Dada kiri dalam puisi tersebut menandai letak dari organ jantung. “Dada kiri” merupakan konsep penandaan baru. “Dada kiri” dapat dimaknai sebagai tempat bersemayamnya jantung. Tapi, makna ini juga dapat menghasilkan makna lain, seperti “kehidupan” atau “keinginan”. ”Dada kiri” memberikan kesan visual, konkret, terindra, dibandingkan “jantung” yang relasi tandanya masih bersifat umum, karena berbasis metafora biologis.
Pada puisi yang berjudul “Sepasang Dada” (55), tanda “dada” disandingkan dengan kata “sepasang”. Menjadi sepasang dada. Sepasang dada menandai apa yang ada di dalam dada itu, sesuatu yang murni. Yang lagi-lagi berkutat pada perasaan mendalam. Misalnya kita lihat dalam bait pertama, Baru saja kulepas sepasang dadaku. Di sudut timur kota ini/ Mereka berumah. Kubayangkan mereka tidur/ Di pembaringan saling berpelukan./ Malam mengawini kelam berkali-kali/ Namun tak ada yang terlahir, tidak pula cahaya./ Sepasang dadaku terlahir dari perkawinan hati dan rasa./ Mereka buah cinta yang dipetik masih putik/ Diperam dalamdalam. Mereka menjelma cahaya di tiap gelap bola mataku, penghasil serbuk musim semi/ Juga udara bagi napasku.
Dalam puisi ini, sepasang dada menandai sesuatu yang amat dicintai. Yang menjadi sumber dari kasih sayang, harapan, dan cinta kasih. Jika dada kiri menandai tempat bersemayamnya jantung, maka pada sepasang dada menandai ada sesuatu yang lain di sebelah jantung, yaitu hati. Kedua organ ini merupakan organ vital yang mempengaruhi kehidupan manusia. Hati secara harfiah merujuk pada organ tubuh. Namun hati pada konteks ini merujuk pada konsep perasaan; sesuatu yang mendalam; tempat menyimpan segala perasaan batin; kasih sayang; cinta; dan sejenisnya. Yakni hal-hal yang bersifat abstrak.
Tanda “sepasang dada” lain juga terdapat dalam puisi “Bila Hujan Sempat Jatuh di Bahumu” (44). Dalam bait pertama, Bila hujan sempat jatuh di bahumu, dengarkanlah bunyi rintiknya. Sebab tiap tetes yang turun dari langit itu, membawa kisah yang tak pernah sama. Kau mungkin mendengar tawa kanakkanak di tetesan awal, suarasuara bisikan para kekasih merayu sepasang dada di tetesan kedua, tembangtembang penghantar tidur malam yang mendayudayu di tetes berikutnya, atau rekaman kata cinta dari kenangan di dalam ingatanmu sendiri. Pada puisi ini “sepasang dada” lebih jelas menandai sesuatu yang dicintai, diinginkan, dan diharapkan kehadirannya untuk memenuhi kebahagiaan.
Pentingnya dua organ vital jantung dan hati, sebagai sesuatu yang sangat mempengaruhi kehidupan pengarang kemudian dikonkretisasi menjadi “sepasang dada”. Konsep yang konkret dan abstrak itu kemudian bersatu dan dikonkretisasi dalam tanda “sepasang dada”. Sepasang dada kemudian menjelma menjadi tanda atas objek yang dicintai. Maka dalam hal ini “sepasang dada” merupakan wujud dari permainan bahasa pengarang, sebuah bentuk baru dari tanda. Yang bagi Derrida adalah bentuk dekonstruksi pengarang terhadap konsep-konsep yang umum.
Kata-kata dalam puisi, pada dasarnya adalah perwakilan dari makna/maksud/kehendak pengarang. Pemaknaan tanda tidak akan pernah usai yang disebut Derrida dengan Différance (berbeda dan tertunda). Teks puisi yang merupakan tanda, dapat dimaknai secara berbeda-beda. Tidak ada pemaknaan tunggal. Makna juga akan terus tertunda/ tidak akan pernah selesai, karena setiap petanda sebenarnya juga merupakan tanda yang mewakili petanda-petanda lain.
Akhir kata, semoga Lepas Muasal menjadi penanda tonggak lahirnya kebahagiaan, setelah terlepas dari muasal yang penuh kegamangan. Hingga segala yang patah kembali tumbuh. Memenuhi seluruh dada yang pernah dibakar luka, menjadi taman bunga-bunga. Meski segala “pinta” sejatinya tidak akan pernah selesai begitu saja, dan akan terus menjadi rangkaian-rangkaian “pinta” yang berikutnya.
*Penulis merupakan Dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan