
Antologi Cerpen
Enggan
Editor: Maulana Satrya Sinaga
Halaman: viii+83 hlm.
Ukuran: 14×21 cm
Sampul: Soft Cover
ISBN: 978-602-60302-8-3
Tahun Terbit: Oktober 2017
Ketika diletakkan pada konteks sosial, persoalan cinta tidak lagi menjadi hubungan khusus antara segelintir orang tetapi telah menjadi bagian penting dari kehidupan publik. Dalam karya sastra, persoalan tersebut banyak direpresentasikan oleh pengarang. Problematika cinta diolah dalam berbagai bentuk cerita, alur, dan konflik. Tema-tema tersebut pun menjadi salah satu tema terpopuler terutama sejak Balai Pustaka menerbitkan Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, Siti Nurbaya dari Marah Rusli, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, dan Layar Terkembang dari Sutan Takdir Alisyahbana. Tidak hanya dalam periode itu, hingga saat ini dalam perkembangan kesusastraan kontemporer, tema cinta terus digarap dan menyorot perhatian pembaca.
Keuniversalan cinta diterjemahkan dalam berbagai bentuk oleh para pengarang. Di dalamnya, unsur-unsur intrinsik maupun ekstrinsik yang terlibat, dikerangkai oleh pemikiran budaya dan agama. Dengan demikian, persoalan cinta menjadi masalah kompleks yang tidak hanya diwakili oleh interaksi privat tetapi juga telah menjadi interaksi publik.
Cerpen-cerpen dalam antologi ini didominasi oleh persoalan cinta dengan tokoh utama sepasang kekasih. Kendati demikian, relasi tokoh utama dengan lingkungan, budaya, dan elemen masyarakat yang lain turut menjadi bagian dalam permasalahan yang ditampilkan.
Sejumlah cerpen yang menampilkan kisah cinta sepasang kekasih dalam antologi Enggan disusun dengan alur dramatik yang berbeda-beda. Pada cerpen “Sebuah Pilihan” yang ditulis oleh Nuraini persoalan cinta ditampilkan sebagai hubungan yang dikerangkai oleh kuasa keluarga atas diri perempuan. Nadia, tokoh utama dalam cerita, harus menerima perjodohan dari kedua orang tuanya. Meskipun ia telah berusaha untuk mempertahankan keberadaan Arya, lelaki yang dicintai, nyatanya Nadia tidak berhasil. Kedudukan Nadia dalam keluarga tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menolak permintaan kedua orang tuanya. Maka seksualitasnya sebagai anak perempuan sebagaimana yang ditegaskan Beauvoir (2003) tidak didefenisikan sebagai miliknya sendiri. Hal yang sama muncul pada cerpen LAS yang ditulis oleh Araska Sastranegara. Dengan teknik ungkap yang metaforis, penulis menutup cerita dengan menampilkan orang tua (ayah) sebagai pengambil keputusan untuk perasaan yang dimiliki para tokoh.
Polemik percintaan dalam bentuk lain misalnya ditampilkan dalam cerpen “Minggu Kedua Bulan Agustus” yang ditulis oleh Nurwahidah Ramadhani Waruwu. Kedudukan perempuan dalam kerangka kebudayaan memang kerap dilingkari berbagai norma. Perempuan ditempatkan sebagai makhluk yang pasif. Dalam urusan percintaan, pada beberapa kebudayaan, mengungkapkan cinta kepada laki-laki adalah hal yang tabuh bagi perempuan. Potret tersebut menjadi salah satu bentuk penghakiman masyarakat, yang dimaknai sebagai laki-laki terhadap perempuan yang dinilai sebagai makhluk inferior (Beauvoir, 2003).
Masalah yang sama ditampilkan dalam cerpen “Lilin yang Basah” yang ditulis oleh Sri Lestari Tampubolon. Nisa, tokoh utama dalam cerita, menjadi sorotan dalam pergaulannya karena belum menikah. Oleh karena itu, teman-temannya berusaha menjodohkan Nisa dengan seorang laki-laki. Awalnya ia menolak tapi atas beberapa pertimbangan, akhirnya Nisa menerima.
Problematika percintaan yang menampilkan ketidakberdayaan perempuan turut ditampilkan dalam cerpen Enggan yang ditulis oleh Perempuan Angin. Kamila, seorang perempuan, mengidap penyakit parah dan sudah divonis oleh dokter bahwa ia tidak akan mampu bertahan hidup lama. Kamila menjalin hubungan dengan Riza, kekasih yang ia cintai, tetapi harus putus karena ia dijodohkan dengan laki-laki lain oleh orang tuanya. Kamila kemudian menikah dengan laki-laki pilihan kedua orang tuanya. Namun ternyata hidupnya tidak bahagia hingga pada suatu hari, suami Kamila mencari Riza untuk dinikahkan dengan Kamila. Sayangnya, Kamila tidak bertahan hidup lebih lama.
Selanjutnya, cerpen “Cinta Terpendam” yang ditulis oleh Amrudly, menampilkan tokoh utama perempuan yang lemah dan cenderung membutuhkan pertolongan laki-laki. Bayu yang memendam perasaan kepada Sandra selalu berusaha menjaga dan mengawasi kemana pun Sandra pergi. Ia khawatir kalau gadis yang dicintainya itu disakiti orang lain.
Maraknya perjodohan yang ditampilkan dalam cerpen-cerpen tersebut, menunjukkan bahwa belum atau tidak menikah adalah sesuatu yang tidak biasa. Dengan kata lain, pernikahan menjadi suatu kewajiban, terutama bagi perempuan. Simone De Beauvoir dalam Second Sex (2003) menyatakan bahwa pernikahan adalah takdir tradisional yang diberikan kepada perempuan oleh masyarakat. Perempuan selibat (lajang) didefinisikan sebagai orang yang frustasi, pemberontak, atau bahkan acuh tak acuh dengan institusi pernikahan.
Pernikahan menjadi satu-satunya syarat bagi perempuan untuk mengintegrasikan diri ke dalam komunitasnya. Jika tidak menikah, perempuan akan dipandang sebagai “sampah” secara sosial. Oleh karena itu, para orang tua selalu berusaha keras mengatur pernikahan bagi anak-anak perempuannya (Beauvoir, 2003). Tekanan ini juga yang membuat pernikahan dijadikan standar sosial untuk mencapai kebahagiaan. Apabila tidak menikah, seseorang, terutama seorang perempuan, akan dianggap tidak bahagia.
Berbeda dengan cerpen-cerpen tersebut, cerpen “Juli” yang ditulis oleh Fitria Panjang menampilkan upaya rekonstruksi atas konstruksi diri perempuan. cerpen ini menampilkan tokoh utama perempuan yang menolak perjodohan karena bersikukuh dengan pilihannya pada seorang laki-laki. Meski pada akhirnya ia menjadi perawan tua dan menerima banyak hujatan dari masyarakat, perempuan yang diceritakan dalam “Juli” tetap pada pendirian.
Senada dengan itu, cerpen “Sayana, Penyair itu Kesepian” yang ditulis oleh Maulana Satrya Sinaga dan cerpen “Wajah di Balik Cadar” yang ditulis oleh Tyook turut menampilkan tokoh perempuan yang ditempatkan sebagai tokoh pengendali tokoh laki-laki. Jika pada beberapa cerpen lain perempuan ditempatkan pada posisi kedua atau pasif, pada kedua cerpen tersebut perempuan ditampilkan sebagai pihak yang berpengaruh besar dalam kehidupan tokoh laki-laki. Gambaran itu menggugat pemikiran Nietzsche sebagaimana yang dikutip Beauvoir (2003) yang merespons permasalahan ini dengan memberi tafsiran tentang cinta dari dua subjek yang berbeda, yaitu laki-laki dan perempuan. Menurutnya, bagi perempuan, cinta tidak hanya kesetiaan, cinta adalah penyerahan total akan tubuh dan jiwa, tanpa pamrih, tanpa harapan mendapatkan imbalan apa pun. Sifat mutlak dari cinta itulah yang membuatnya menjadi kesetiaan (cetak miring dari Nietzsche), satu-satunya yang dimiliki perempuan. Sementara bagi laki-laki, jika mencintai seorang perempuan, apa yang ia inginkan hanyalah cinta dari perempuan; sebagai konsekuensinya ia jauh dari mendalilkan perasaan yang sama baginya seperti pada perempuan; jika memang ada laki-laki yang juga merasakan hasrat terhadap kepasrahan total, menurut Nietzsche, mereka tidak akan menjadi laki-laki.
Argumentasi Nietzsche diperkuat oleh pernyataan Cecile Sauvage via Beauvoir (2003:525) bahwa “Perempuan harus melupakan personalitasnya saat jatuh cinta. Ini adalah hukum alam. Seorang perempuan tidak ada artinya tanpa seorang tuan. Tanpa seorang tuan, ia adalah sebuah karangan bunga yang tercecer.” Pemikiran-pemikiran Nietzsche dan Sauvage, menjadi salah satu sumber kegelisahan dalam gerakan perempuan. Sebab totalitas dalam percintaan justru berpotensi melemahkan kualitas diri dan subjektivitas perempuan. Kendati demikian, Beauvoir (2003) cenderung menganggap tafsiran Nietzsche dan Sauvage tersebut sebagai sebuah “kutukan yang dibebankan kepada para perempuan dalam belenggu feminin”. Beauvoir (2003) juga menegaskan bahwa situasi tersebut tidak berlaku pada perempuan secara keseluruhan.
Selain ketiga cerpen di atas yang menggugat pemikiran Nietzsche dan Sauvage, cerpen “Miserable” yang ditulis oleh Nadya Rizki Ardhani juga menampilkan pemikiran yang sama. Cerpen “Miserable” menampilkan tokoh perempuan yang berani bersikap untuk menolak keputusan orang tua yang ingin menjodohkannya.
Bentuk cinta yang lain ditampilkan dalam cerpen “Yang Terbuang” yang ditulis oleh Muhammad Arif. Cerpen tersebut menampilkan potret kesenjangan sosial kaya dan miskin dalam masyarakat. Bagaimanapun, peristiwa tragedi yang kerap direpresentasikan sebagai bagian dari permasalahan masyarakat modern ini tidak lepas dari keberadaan ideologi sebagaimana yang dikatakan Althusser (2006) bahwa ideologi berperan memerintah golongan, sehingga dalam ideologi yang berbeda perspektif terhadap suatu permasalahan akan berbeda. Tragedi inilah yang ditampilkan dalam cerpen “Yang Terbuang” melalui keluarga Bang Ilham dan subjek “aku”.
Demikian hasil pembacaan saya terhadap cerpen-cerpen dalam antologi Enggan. Di balik persoalan cinta yang saya paparkan di atas, tentu masih banyak persoalan-persoalan lain yang belum diungkap, dan tentu masih banyak yang perlu penelaahan ulang dari pendapat dan penafsiran saya di atas. Hal-hal yang diurai dalam pembahasan ini dapat menjadi alternatif pemaknaan dan dapat pula diabaikan. Para pembacalah yang memperkaya dan melengkapi kerumpangannya. Selamat membaca dan mengapresiasi cerita-cerita pendek yang disajikan dalam buku ini.
Sartika Sari, esais, penyuka cerpen
Daftar Rujukan
Althusser, Louis. 2006. Ideology and Ideological State Apparatus (Notes towards an investigation), dalam Meenakshi Gigi Durham & Douglas M. Kellner (Eds.), Media and Cultural Studies: KeyWorks, Revised Edition, Victoria Australia: Blackwell Publishing.
Beauvoir, S. d. (2003). Second Sex: Kehidupan Perempuan (T. B. F. d. N. Juliastuti, Trans.). Jakarta: Pustaka Promethea.