
Sehimpun Puisi Pilihan
Halakah Panggang
Penulis:
Damiri Mahmud
Halaman: xii+95 hlm.
Ukuran: 14×21 cm
Sampul: Soft Cover
ISBN: 978-602-51844-6-8
Tahun Terbit: Juni 2018
Sebelum diizinkan untuk membongkar arsip-arsip pribadi Damiri Mahmud, saya hanya membaca karya-karya beliau di sejumlah surat kabar lokal dan nasional. Dalam pembacaan itu, yang melekat kuat pada ingatan saya adalah Damiri Mahmud dan puisi-puisinya merupakan satu kesatuan jati diri Melayu. Untuk berbagai persoalan, Damiri mengungkapkan pemikiran-pemikirannya dengan gaya ungkap seorang Melayu dan tentunya kosakata lokal yang kadang tidak saya pahami. Bagi saya yang lebih banyak dirasuki modernitas ini, kekhasan puisi-puisi Damiri Mahmud sangat tidak mudah dilupakan.
Berbekal pengalaman itu, suatu hari, saya meyakinkan diri menerima permintaan Pak Damiri Mahmud (begitu saya memanggil beliau) untuk membantunya memilah puisi-puisi yang akan diterbitkan dalam buku ini. Dugaan awal saya, dalam proses pemilahan nanti saya akan berhadapan dengan puluhan atau ratusan sajak-sajak Melayu. Meski tinggal di Tanah Deli, latar belakang sosial dan keluarga saya tidak mendukung kefasihan saya memahami banyak kosakata Melayu. Kekhawatiran kecil sempat tebersit. Namun saya meneruskan keyakinan saya untuk turut dalam proses pemilihan itu.
Di perjalanan membaca, saya dipertemukan dengan hal-hal di luar dugaan. Sekawanan puisi modern berbaris rapi pada sebuah periode. Mereka diwujudkan dengan gaya tutur yang sangat berbeda dengan pemahaman saya soal puisi-puisi Damiri Mahmud. Selain itu, mereka membicarakan persoalan-persoalan kesunyian masyarakat modern dan dibangun pula dengan jumputan kata-kata modern. Saya melanjutkan penelusuran pada periode lain. Ternyata saya dipertunjukkan beberapa puisi sufistik dengan berbagai pengungkapan tajam tentang keberadaan diri manusia dan penciptanya. Perbedaan kecenderungan tema itu, menurut saya, sekaligus menandai perjalanan pemikiran penyair.
Dalam tiga persimpangan tersebut, saya dan Pak Damiri Mahmud berdiskusi lebih banyak untuk menentukan lajur mana yang hendak disilakan kepada pembaca. Berdasar pada beberapa pertimbangan, akhirnya kami sepakat untuk menyusun buku ini dengan puisi-puisi yang bernuansa Melayu. Selain karena tema-tema itu mendominasi karya-karya Damiri Mahmud sepanjang periode kepenyairannya, penting kiranya menyatukan puisi-puisi yang sebelumnya tercerai berai itu ke dalam satu rumah. Ialah yang akan abadi dan mewarnai perpuisian Indonesia dengan karakteristik Melayunya.
Kami memilah puisi-puisi yang terbit sejak tahun 1978 sampai 2018 kemudian memilihnya menjadi 64 puisi. Puisi-puisi inilah yang kuat menunjukkan identias Damiri Mahmud dalam kancah perpuisian Indonesia. Akhir kata, saya berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk terlibat dalam proses kelahiran buku ini. Saya berharap, puisi-puisi yang kami hantarkan dengan penuh kesungguhan ini dapat bermakna dan memberi kenangan tertentu, kenangan yang melekat pada sanubari.
Maka, biarlah mereka sampai pada lubuk hati.
Selamat membaca.
Editor,
Sartika Sari