Oleh: Alda Muhsi

Penulis tidak bisa terlepas dari undangan berbagai instansi untuk menjadi pembicara seminar, workshop kepenulisan, narasumber bedah buku, atau sekadar jumpa penggemar. Hal itu mutlak tidak dapat dihindari sebab ketika memutuskan menjadi penulis, keadaan yang mengharuskan seorang (penulis) melayani publik seperti disebutkan di atas secara otomatis ikut melekat.
Seorang teman bercerita ada banyak kasus yang terjadi berkaitan dengan undangan penulis untuk mengisi sebuah acara. Dan, kebanyakan kasus itu memiliki persoalan yang sama, yaitu “honor” si penulis yang diundang.
Penulis A diundang untuk mengisi acara di kampus Y. Si Penulis dikejar-kejar panitia untuk mengirimkan bahan yang akan dipresentasikan dua hari sebelum acara. Si Penulis dengan tanggung jawab yang besar segera menunaikan kewajibannya, namun selesai acara honor tak kunjung mendarat di kantong ataupun dalam rekening.
Ada kasus lain yang nyaris serupa, hanya saja penulis disuguhkan makan siang beserta kudapan (barangkali sebagai pengganti honor karena honornya tak kunjung sampai juga ke kantong maupun rekening).
Padahal bagi beberapa penulis yang menggantungkan kelangsungan hidupnya dari kegiatan tulis-menulis mendapat undangan jadi pembicara merupakan kabar yang membahagiakan.
Menengok kasus di atas apakah lantas kita jatuhkan vonis salah hanya kepada panitia penyelenggara? Ehm… belum tentu. Di sini juga terdapat sisi kelemahan penulis yang bersangkutan. Penulis tidak memiliki “harga jual” atas pekerjaannya menjadi pembicara. Biasanya terjadi karena penulis merasa minder, tidak tegaan, dan alasan konyol lain yang membuatnya enggan memasang tarif.
Sebenarnya sah-sah saja karena tiap-tiap penulis punya ideologi yang berbeda terkait itu. Apalagi bagi penulis yang aktivitas menulis merupakan hobi atau aktivitas sampingan (penulis yang memiliki pekerjaan pokok sebagai pegawai swasta atau PNS) yang penghasilan bulanan sudah terjamin. Bagaimana dengan penulis yang benar-benar mengharapkan penghasilan dari kegiatan menulis dan undangan menjadi pembicaranya? Sungguh mengharukan, Bukan?
Barangkali sebagai masukan untuk antisipasi para penyelenggara “nakal” tadi, para penulis bisa membentengi diri dengan membuat syarat atau aturan tertulis yang wajib dipenuhi pengundang untuk memakai jasanya. Di kalangan artis atau musisi biasa dikenal dengan sebutan riders.
Semua penulis, baik yang mengaku penulis, yang ingin menjadi penulis, yang menjadi penulis sampingan, dan penulis murni yang menjadikan dunia kepenulisan sebagai ladang penghasilan wajib memiliki riders ini. Tujuannya untuk membawa profesionalitas penulis melangkah lebih maju dan disegani.
Riders berisi syarat yang harus dipenuhi panitia penyelenggara apabila ingin mengundang penulis untuk menjadi pembicara. Termasuk besaran honor yang wajib dibayar serta teknis pembayarannya; konsep acara; target jumlah peserta; besaran panggung/gedung; konsumsi; dan sebagainya yang semuanya dapat dikondisikan sesuai dengan kebutuhan si penulis.
Sehingga riders ini nantinya membuka mata pihak-pihak yang ingin mengundang para penulis untuk hadir ke berbagai acara yang mereka buat. Dan mereka tidak bisa main-main dengan waktu, pemikiran, keringat, dan kerja keras para penulis. Harapannya juga mudah-mudahan kasus penulis-penulis yang diundang menjadi pembicara tidak dibayar semakin berkurang dan pelan-pelan hilang.
Selain itu, bisa jadi membuka peluang untuk melegalkan profesi penulis itu sendiri. Karena kalau bukan para penulis yang menghargai diri dan profesinya siapa lagi yang akan melakukannya?