
Menyingkap Tabir Langit
Sajak-sajak Tsi Taura
Penulis:
Damiri Mahmud
Halaman: viii+133 hlm.
Ukuran: 14×21 cm
Sampul: Hard Cover
ISBN: 978-602-51844-7-5
Tahun Terbit: Juni 2018
Puisi-puisi dalam antologi “Pengantin Kabut Laut” ini layaknya seperti bisik-bisik dari dunia dalam. Terhadap Tuhan, manusia dan alam. Atau sebuah solilokui atau senandika untuk mencerahkan perasaan dan pikiran yang terkadang tumpat oleh lalu-lintas penglihatan dan pendengaran yang menerpa setiap saat.
Larik-larik dalam baitnya yang ringkas ingin menyatakan bahwa apa yang selalu didengar, dilihat, diucapkan, tidak selamanya benar bahkan pun apa yang keluar dari hati sanubari sendiri, harus ditapis dan disaring oleh doktrin yang diyakini kebenarannya.
Maka kita akan melihat banyak dari larik-larik, bait dan ungkapan dalam Antologi Puisi ini bergaya paradoks dan ironi. Suatu hal atau peristiwa yang selalu bercanggah dengan apa yang didesain oleh jiwa atau satu ungkapan yang sengaja diperdengarkan untuk menguatkan makna.
Kebenaran adalah Sabda Tuhan. Kebenaran mutlak milik Tuhan. Dialah, Sang Maha Kuasa, yang dapat melaksanakan kebenaran secara bulat dan utuh. Kebenaran turun ke permukaan berupa alam semesta ini. Tiba kepada manusia, kebenaran harus dibagi-bagi menurut jabatan dan fungsinya. Apabila dikuasai oleh satu pribadi, dia akan menjadi despot, seperti yang kita saksikan pada seorang Raja, Kaisar atau Diktator. Bumi akan miring dan tidak berimbang. Sedang kita disuruh menjaga keseimbangan (QS 55:7).
Puisi-puisi dalam antologi ini tampaknya selalu berusaha menjaga keseimbangan itu. Dalam tema-tema sosial-politik yang banyak terekam dalam antologi ini, penyair tidak menghardik atau memvonis satu pihak, lalu memprovokasi atau mengipasi pihak lain. Secara arif dan berkias penyair menyatakan kekeliruan dan kesalahan satu pihak sembari menuntun dan mengarahkan pihak lain yang dirugikan atau dizalimi, supaya menyelesaikan masalah dan peristiwa yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan cara seperti inilah, menurut penyair, kebenaran tidak menumpuk pada satu pihak belaka, sehingga terjadi keseimbangan itu.
Hal ini menyangkut dan berkaitan erat dengan tema-tema religius yang diyakini penyair harus sebagai pondasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak semua memang masalah dan peristiwa dapat diatasi dengan kecanggihan otak dan kehebatan kekuatan fisik semata. Kita harus dengan rendah hati mengakui keterbatasan, sebagaimana gairah otak dalam tempurung kepala, yang ternyata hanya sebagian kecil saja yang aktif dan bekerja, selebihnya diam dan tertidur.
Maka doa adalah obat manjur bagi kekecewaan, terapi paling mujarab memulihkan kelelahan kekuatan dan energi, untuk kembali bersemangat menutupi lubang-lubang kekecewaan, menata serpihan-serpihan dan rimah-rimah yang terserak, ditinggal pemain ronggeng yang telah berpesta pora hingga larut malam di negeri ini. Doa dan bakti kepada kedua orang tua, ibu bapak, bukan hanya ungkapan klise dan barang klasik belaka. Penyair menyatakan bahwa Ibu adalah semangat hidup itu sendiri, yang memutar roda kreativitas, menggerakkan mesin-mesin yang berkarat, mengolah rawa-rawa yang penuh dengan onak dan duri, mengubahnya menjadi ladang-ladang sebagai sumber energi, berkelindan taman-taman membentuk harmoni yang indah dipandang mata.