Kembali ke Hari Itu

Cerita Pendek Nurul Khofifah Siregar*

Pada hari itu kita ingin kembali ke belakang, di masa-masa yang membawa kita seperti sekarang. Kita benar-benar akan merindukannya. Jatuh, bangkit, gagal, berdiri gagah melewati semua rintangan sampai pada titik tertinggi saat ini. Untuk melewati hari yang baik dan buruk adalah memori penuh perjuangan. Apa pun yang selalu kita jalani tiap detiknya, tidak ada hal yang bisa disembunyikan sebagai bentuk pengalaman. Seperti sekarang contohnya, kita tetap kembali bersama, tidak terjadi lagi pertengkaran karena emosi masa remaja yag menguasai diri kita, dahulu kita hanya sibuk memikirkan diri sendiri dengan berbagai hal kesibukan.

“Ayo kumpul, jangan sok sibuk,’’ ucap salah satu yang paling keras di antara kami berempat.

“Maaf, aku sibuk,’’ ucapku.

Tiap kali aku mengucapkan kata  maaf  pada  mereka hanya ada rasa penyesalan yang terbit di dalam hati, bahwa temanku juga bagian dari perjuangan masa depanku. Tetapi setiap kali aku mengucapkan kata maaf di hatiku juga terbesit, “Kau akan jadi bagian orang yang akan kubahagiakan saat perayaan kuseksesanku.”

“Jangan merasa paling sibuk, aku juga punya kesibukan pribadi. Ayolah, ibarat kata (lama tidak ketemu dan sekali kita bertemu tidak akan lama), hanya memakan waktu 5 jam paling lama, yang sebenarnya ingin kuatmosferkan seluruh waktu untuk pertemuan kita.”

“Kau tidak akan mengerti. Coba kita berganti posisi.”

“Bullshit. Jangan pernah menghubungiku lagi!” ucapnya.

Sementara  yang lain hanya mengasihani waktu yang terbuang hanya tentang kami yang bertengkar membahas pertemuan, waktu yang kami punya semakin tidak kualitas, sehingga akulah orang yang tersingkir di antara mereka. Aku menjauh demi kebaikan yang ada, barangkali memang ada yang harus aku tuntaskan terlebih dahulu untuk membahagiakan mereka. Toh aku percaya dengan kalimat “Yang paling mengerti dirimu, akan tetap tinggal bersamamu.” Meskipun begitu aku akan tetap mengikuti perkembangan mereka sebisa mungkin di belakang mereka, tidak apa-apa.

Puncaknya aku tetap merasakan kegagalan atas semua ambisiku untuk berjuang sendirian. “Gagal lagi,” ucapku melihat muka penuh tunggu dari kedua orangtuaku. Aku melakukan semua usaha yang kubisa. Belajar larut malam, menon-aktifkan media sosialku, mencari banyak informasi, dan sering  ikut pelatihan. Pada akhirnya, aku hanya melihat raut murung dari kedua orangtuaku. Susah kerasnya aku berjuang sendirian, aku sampai berkorban menjadi anak anti sosial, aku selalu menunggu tahun penuh kejutan untuk ikut tes kepegawaian. Ujungnya, aku gagal untuk kedua kalinya.

Sampai tahun berikutnya, aku berdiri di sana dengan pasrah. Mungkin ini adalah tes terakhir, jika aku gagal kembali dan hanya pulang menyambut nada kecewa dari orangtuaku. Tapi ternyata aku berhasil!

Dan pada hari ini…

Kami bertemu kembali dengan suasana yang canggung, seolah kami tidak pernah bertemu sebelumnya, aku tetap merasakan penyesalan, sedikit menyesal aku tidak melihat perkembangan mereka dari depan dengan kenyataan bersama mereka bisa melakukan apa pun dunia.

Si keras kepala sudah jadi dancer terkenal di kotaku, dua yang lain si penasihat sudah jadi guru honorer di masing-masing tempat mengajarnya, mereka tersenyum seolah-olah melihat apa yang aku perjuangkan sudah berhasil.

“Selamat! Sudah jadi ASN, sesuai dengan impian yang selalu katakan tiap waktu dulu,” ucap sang guru yang sudah semakin cerdas kulihat.

Aku tersenyum, sekaligus haru, menyesal kenapa dulu seharusnya aku tetap egois, saat mereka tidak peduli lagi denganku, seharusnya akulah yang mengejar mereka. “Terima kasih, kalian juga sudah kelihatan sebaik yang aku kira kalian cuma mau bertemu bertiga, tanpa a…”

Si keras kepala pun memotong, “Kami melihat perkembangan di media, setidaknya kami sudah melihat perjuanganmu akhirnya membuahkan hasil, kami tidak sia-sia dulu memberimu ruang sendiri untuk mengejar impianmu.’’

Mataku berkaca-kaca dan terharu, ternyata mereka bukan meninggalkanku, hanya memberi ruang untukku. Tapi menurutku, itu lama sekali rasanya aku seperti ditinggalkan.

“Sini peluk…”

Kami semua saling memeluk satu sama lain, ah sudah lama rasanya kami tidak seperti ini.

“Kami bangga padamu, perjuanganmu masih panjang, lanjutkan dan ikutkan kami di dalamnya, kami selalu mendukungmu,” ucap mereka. Aku mengeratkan pelukanku pada mereka, nyatanya tidak semua yang kita lihat dengan kaca mata kita sendiri adalah hal negatif, ternyata banyak hal bisa diambil pelajaran dari semua ini. Dan seandainya aku kembali ke hari itu, aku akan melakukan hal yang sama seperti sekarang. Dengan kata yang akhirnya membuat mereka bangga.

*Penulis merupakan mahasiswa Sastra Indonesia UNIMED angkatan 2018 yang saat ini sedang magang di Obelia Publisher

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.