Memaknai ‘Pengakuan’ dalam Puisi

Kumpulan Puisi
Senarai Pengakuan

Penulis:
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
FKIP Universitas Prima Indonesia

Halaman: xiv+77 hlm.
Ukuran: 13.5×20 cm
Sampul: Soft Cover
ISBN: 978-602-51844-3-7
Tahun Terbit: Mei 2018

Setiap orang tentu memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan perasaannya. Melalui pancaindra, seseorang mampu membaca hal-hal yang bersifat realistis dan abstrak. Sama halnya dengan puisi, puisi memiliki sudut pandang yang berbeda dalam masing-masing pembaca. Akan terasa lebih nikmat ketika mampu membaca gejolak yang dirasakan penulis. Pemaknaan pada karya sastra terkhusus puisi dilihat dari kekuatan sebuah puisi tersebut. Bahasa figuratif atau majas lainnya, pematangan diksi, menjadi pegangan dalam melandasi ide dan penjiwaan.

Membaca antologi puisi yang ditulis oleh Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Prima Indonesia memiliki kisah dan keinginan yang lain. Dalam hal ini, mereka mengupas keberagaman perasaan, kejadian di sekitar dan kegelisahan dalam puisi yang sederhana. Antologi puisi “Senarai Pengakuan” masih membutuhkan proses untuk menciptakan kematangan diksi dan bahasa figuratif atau bermajas. Keberanian dalam mengeluarkan aspirasi, mengutarakan perasaan yang patut dilirik dalam antologi ini.

Bukan tanpa alasan seseorang menulis puisi ini, ada kegelisahan yang ingin dibagikan kepada pembaca. Setidaknya, pembaca dapat menikmati ‘pengakuan’ di dalam antologi puisi “Senarai Pengakuan”. Menangkap puisi-puisi yang disajikan dalam buku “Senarai Pengakuan” menurut Wordsworth, puisi bagian dari pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Begitu pula dengan Auden mengemukakan bahwa puisi itu pernyataan perasaan yang bercampur-baur. Pernyataan Auden diaplikasikan secara ‘terang’ oleh Mahasiswa UNPRI. Namun, persoalannya apakah puisi sekadar perasaan yang bercampur baur dan diutarakan dengan lugas?

//Malam hari saat sendiri/ terlalu banyak masalah yang kuhadapi/ pikiranku melayang-layang/ masalah demi masalah selalu mengejarku/ hidupku terasa cemas saat keadaan seperti ini/ dengan siapakah aku mengadu// (Kesendirian, Monika Magdalena Sinaga). Apakah kesendirian identik dengan keresahan dan perasaan gaduh? Lagi-lagi pengakuan menjadi pusat perhatian pembaca. Ia menjabarkan permasalahan akan atas kesendiriannya itu. Terlebih, ada hal-hal yang membuat Monika merasa cemas. Proses pengakuan itu ditujukan kepada siapa ia akan mengadu.

Setiap pengakuan tentu di dalamnya ada emosi yang membangun seseorang untuk mengutarakan permasalahannya. Jausz mengutarkan faktor yang terpenting dalam proses semiotik yang disebut kesusastraan, yaitu pembaca. Pembaca merupakan faktor yang hakiki dan menentukan dalam sastra. Pembaca yang menilai, menikmati, menafsirkan, memahami karya sastra menentukan nasibnya dan peranannya dari segi sejarah dan estetik.

Kerterbukaan semacam ini yang membuat seseorang lebih ‘lega’ tanpa harus ‘buang badan’ pada apa-apa yang dianggapnya benar dan salah. //Aku ingin teriak sekuat-kuatnya/ semuanya itu tidak bisa/ inginku mengadu dengamu/ aku takut pikiranmu tergonjang/ kesalahanku akan kutanggung sendiri/ penyesalanku begitu dalam// (Lanjutan puisi Kesendirian)

Peristiwa serupa juga dijabarkan dalam puisi, lebih kepada protes sosial. Protes kehidupan yang adil, tidak merata diterapkan oleh pihak-pihak tertentu. Nur Intan Panjaitan menekankan protesnya secara umum. Bagian-bagian kecil dari kegelisahannya terhadap Indonesia menjadi pelengkap dalam puisinya,

INDONESIAKU

Negeriku tercinta
negeri terpandang, kaya kebudayaan
bersatu dalam bhineka tunggal ika
Indonesia, tanah tumpah darahku

Teringatku perjuangan para pahlawan
yang rela mati di medan perang
hanya demi kemerdekaan

Indonesiaku kini menangis
melihat tindakan kriminal
yang semakin merajalela
mendengar jeritan suara rakyat
yang meminta tolong
tak ada satu pun yang peduli

Pejabat pun seakan menutup mata dan telinga
tak mempedulikan betapa sengsara rakyat
di mana letak keadilan itu?
kaya akan semakin kaya
miskin akan selalu menderita
akibat tidak adanya kepedulian dari para pejabat

“Tindak kriminal”, Jeritan rakyat jelata”, dan “Kesenjangan sosial” menjadi senarai gejolak dari hasil perjalanan pengamatannya tentang Indonesia. Tolak ukur pengakuan yang dirasakan Intan lebih mengarah pada “Pejabat” dan menjadi subjek yang bertanggung jawab gejolak yang dirasakan rakyat. Alhasil pengakuan-pengakuan tersebut mengecilkan kedalaman puisi  tersebut.

Tentu saja, ini persoalan menginterpretasi perasaan dalam puisi, begitu pula penafsirannya. Hal tersebut menjadi kekayaan tersendiri atas keberagaman olah puisi. Lagi-lagi, Hal yang membuatnya menarik adalah sosol keberanian menjadi pusat perhatian. Tentu menilik pembaca untuk lebih ‘peka’ terhadap hal-hal di sekitar.

Tidak hanya perihal Indonesia, masih banyak lagi puisi-puisi di dalamnya membongkar ‘pengakuannya’ perihal “Ibu”, “Ayah”, “Kesukaannya terhadap suatu benda atau objek tertentu” dan sebagainya. Secara tidak langsung pula, puisi-puisi ini membentuk jalinan yang atas pengakuan dan keberagaman.

Secara Keseluruhan, Antologi puisi “Senarai Pengakuan” karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNPRI mendeskripsikan kejujuran. Terlebih, penerapan dan olah puisi juga beragam dan menarik untuk disimak. Semoga lahirnya buku puisi ini mampu menjadikan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNPRI lebih berkembang dan menguatkan tindak proses. Sebab, dengan berproses lebih tekun, menghasilkan puisi-puisi yang sederhana namun bermakna kompleks. Selamat Berproses!

Dian Syahfitri, S.S., M.Hum.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Prima Indonesia

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.