Kata Ody Soal Malim Pesong

ODY dipermainkan! Dari awal Ody sudah fokus pada cerita si Lasma dan Sonti. Kirain akan berakhir ke cerita soal latar belakang si Sonti. Namun kok lama-lama bahas konflik Lasma di perantauan? Sampai akhirnya itu kan ditutup dengan adegan Lasma yang sedang cerita ke ibunya, kan? Ternyata pas dibaca lagi bukan itu. Lasma bukan cerita ke ibunya. Ini kan mengejutkan. Bikin Ody harus baca berkali-kali dulu baru bisa ngerti.

Terus cerita soal “Hikayat Lampion Jingga di Kota Kami”, Ody suka kali cerita itu. Ya, selain karena memang judulnya sangat menarik, pas Ody baca, ceritanya juga unik. Hal yang paling berkesan adalah soal perspektif yang ada dalam cerita. Kalau selama ini yang Ody temukan dalam cerita-cerita lain itu kan monoton, satu sudut pandang, satu pikiran, udah cukup. Namun di cerita ini enggak.

Sayangnya, Ody nggak bisa nemu perasaan itu di cerpen “Malim Pesong”. Dari baca paragraf awal, Ody banyak nggak ngerti. Bahasanya sastrawan kali. Ody coba baca lagi sampai setengah, tetapi terus makin bertanya-tanya dan agakpusing: siapa sebenarnya sih Malim Pesong?Ody nggak dapat juga jawabannya.

Satu lagi, ini penasaran dan (agak)bikin Ody kesal. Mengapa di cerita “Pengkolan Buaya”, pas Palti lagi jalan sama ibunya, tetapi terus tiba-tiba lompat ke cerita lain? Mengapa ibunya ngilang begitu saja dan nggak kasih klarifikasi? Yang lebih bikin kesal lagi, kan di awal sudah diceritakan soal buaya dan dari tanda-tanda yang diceritakan itu, buaya identik dengan orang jahat. Lha, tapi mengapa si Palti justru cerita kalau ayah ibunya buaya? Dia (Palti) juga mengapa ingin jadi buaya? Huh!

Cerita-cerita dalam buku ini ngalahin perspektif pembaca kali. Yang tadinya Ody pikir apa, eh rupanya bukan begitu. Namun ini bagus sekali untuk dibaca banyak orang supaya nggak cuma fokus sama satu perspektif. Meskipun lewat cerita-cerita dan bahasa yang agakberat, tetapi kita harus baca supaya generasi milenial nggak cuma baca yang ringan-ringan dan sekadar bikin fun saja.

Cerita-cerita dalam buku ini juga bikin bangga. Mengapa? Misalnya di cerita “Tio Na Tonggi”. Generasi seusia Ody pasti ngira ini cerita rakyat, padahal enggak lho. Ini cerita modern! Kisah khas Sumatera Utara itu dilestarikan dalam buku ini. Pokoknya buku ini harus disebarluaskan. Harus kita baca. Ayok, tes nalar!

Audrey Farima (Ody); alumnus Program Kelas Menulis Puisi bagi Siswa SMP Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (2019) dan mengikuti Program Pertukaran Pelajar ke Pennsylvania, Amerika Serikat (2021—2022).

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.