Oleh: Amalia Utami*

Seroean Kemadjoean
– Puisi Pergerakan Perempuan di Sumatra Utara 1919-1941-
Penulis: Sartika Sari
Halaman: xiv+250 hlm.
Ukuran: 14×21 cm
Sampul: Soft Cover
ISBN: 978-602-5963-17-9
Tahun Terbit: Oktober 2018
Hari gini masih bahas emansipasi wanita? Ya, tentu saja. Dari masa ke masa begitu banyak topik yang selalu membahas tentang pergerakan wanita, termasuk pada Buku “Seroean Kemadjoean: Puisi Pergerakan Perempuan di Sumatera Utara 1919-1941” karya Sartika Sari ini. Bagi kamu yang suka membahas tentang feminisme dan emansipasi wanita, Aku sangat rekomendasikan untuk membaca buku ini. Dalam buku ini menampilkan berbagai surat kabar dan hasil karya puisi perempuan dari tahun 1919-1941. Terfokus dengan subjudul, beliau memfokuskan untuk membahas tentang persoalan dan pergerakan perempuan di Sumatera Utara pada masa itu. Tak luput pula sejarah dan teori yang disajikan tidak semata-mata hanya subjektif pengarang, melainkan berdasarkan sumber terpercaya layaknya tesis, skripsi, sejarah Indonesia yang disusun rapi oleh beliau. Cukup menarik untuk dibaca, bukan!
Isinya sebagian besar membahas tentang puisi pengarang wanita pada tahun 1919-1941 di Sumatera Utara, yang dibagi menjadi beberapa hal. Pada bab I membahas tentang Perempuan dan Surat Kabar, dilanjutkan pada bab II Isu Perempuan 1919-1941, masih membahas tentang perempuan dalam surat kabar. Pada Bab III membahas Puisi dan Konteks Sosial 1919-1920. Bab IV membahas tentang Puisi dan Konteks 1920-1930. Bab V Puisi dan Konteks Sosial 1930-1941 hingga pada bab terakhir Bab VI membahas pada Puisi Perempuan Sumatera Utara dalam Sejarah Sastra Indonesia.
Buku Seroean Kemadjoean adalah buku yang memihak pada perempuan. Di sampul depannya dibuat dengan sederhana namun mengandung arti yang dalam, yaitu berdiri seorang sosok perempuan tegar dengan raut wajah yang mengisyaratkan hak-hak perempuan harus diperjuangkan dan dengan berlatar berwarna merah menunjukkan sisi seorang wanita.
Halaman terfavorit saya adalah pada halaman 29 “Situasi tersebut berlanjut sampai ketika perempuan menjadi ibu. Menurut Beauvoir (2003) saat menjadi ibu, perempuan bertindak menjadi ibunya sendiri.” Di mana seorang wanita kelak akan menjadi seorang ibu ketika sudah menikah dengan melakukan segala sesuatu yang dilakukan oleh seorang ibu seperti merawat anak dan suami, serta mengurus segala urusan rumah tangga. Hal itu memang sebuah tanggung jawab namun juga membatasi pola pikir dan kreativitas perempuan untuk berkembang. Dengan inilah muncullah pergerakan wanita untuk melakukan perubahan.
Buku ini sesuai dengan apa yang saya ekspetasi mengenai feminisme yang terkaji dalam buku. Terlebih lagi surat kabar dan puisi yang dituangkan terkadang membuat hati saya sebagai perempuan menggebu saat membacanya. Dengan demikian buku Seroean Kemadjoean sangat disarankan untuk dibaca khususnya para wanita dan pecinta feminisme.
*Penulis merupakan mahasiswa Sastra Indonesia UNIMED angkatan 2018 yang saat ini sedang magang di Obelia Publisher