-Cerita dari Lapak Buku episode 1-
oleh: Alda Muhsi

Kegiatan yang berbentuk gelar wicara (talkshow), seminar, lokakarya, dan sejenisnya sudah lumrah kita lihat dilengkapi dengan adanya meja-meja berjejer yang menjajakan produk. Bagaimana konsep kegiatan dan siapa penyelenggaranya akan sangat menentukan meja-meja itu akan diisi oleh produk apa saja. Pastinya produk-produk yang dijual tidak lari jauh dari tema kegiatan.
Semisal kegiatan sastra, tentu produk-produk yang ditawarkan adalah karya sastra berupa buku-buku. Selain buku, peluang lainnya yang masih berkaitan adalah kaos bergambar sastrawan, poster/kartu pos dengan petikan karya sang tokoh, pembatas buku, dan sebagainya. Begitu pula dalam acara musik, tentulah produk yang ditawarkan berupa kaset/album musik, poster, dan merchandise lainnya yang bersentuhan dengan seni musik.
Akan tetapi, pada perkembangannya tiap-tiap dahan kesenian itu bisa berkolaborasi dalam hal ini. Maksudnya bisa saja dalam kegiatan sastra terdapat meja-meja yang menjajakan produk musik, seni rupa, atau seni lainnya. Demikian sebaliknya, pada kegiatan seni musik atau seni rupa terdapat pula meja-meja yang menjual produk sastra.
Beruntungnya kami pernah terlibat dan merasakan hal di atas. Awal November (2024) lalu kami diajak untuk menggelar lapak buku dalam acara musik selama dua hari: talkshow dan showcase (konser). Terus terang karena waktu itu pertama kalinya kami buka lapak di acara nonsastra, kami tidak berharap muluk atau tidak memasang target penjualan dalam kegiatan tersebut. Kami niatkan hanya untuk silaturahmi dan “mengamati” bagaimana kelompok seni musik mengadakan acara, termasuk bagaimana para penggemarnya, cara berpakaian, cara bicara, bahkan sampai perilakunya. Memang tidak akan mendalam, hanya sebatas apa yang tertangkap mata saja.
Bagaimana hasilnya?
Apa yang tidak kami harapkan itu pada kenyataannya adalah hal yang lebih menarik untuk diungkap di sini, daripada membicarakan hasil “pengamatan” awam yang sudah kami targetkan sejak awal. Dalam dua hari itu buku-buku kami terjual sebanyak 7 eksemplar. Jumlah yang lebih banyak dua kali lipat daripada ketika kami menggelar lapak di tempat sakral bagi jagat sastra, yaitu Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) dengan tajuk acara Festival Sastra Pelajar Sumut yang dihelat selama tiga hari pada Agustus (2024).

Sungguh menarik, Bukan? Sementara ini kami belum bisa memastikan secara detail dan perinci mengapa hal itu bisa terjadi. Tapi menurut percakapan kami dengan para pembeli ditambah asumsi pribadi, kami bisa menarik simpulan seperti ini:
– minat baca masyarakat masih tinggi. Bagi yang suka baca akan susah meninggalkan kebiasaan membaca tersebut dan akan sulit menahan godaan untuk tidak membeli buku. Bagi pembaca baru akan tertarik membaca dengan melihat bagaimana “judul dan sampul” dapat memikat dan mengesankan pandangan pertama.
– buku-buku yang laku di acara musik didominasi oleh buku-buku terjemahan. Perbandingannya 1:2. Sementara buku yang laku di acara sastra adalah buku-buku penulis Indonesia yang spektakuler atau penulis yang dikenal oleh pembelinya.
Dari dua simpulan itu yang menjadi PR kita adalah bagaimana menggaungkan penulis-penulis Indonesia (apalagi lokal) agar karyanya diminati oleh pembaca yang lebih luas (bukan hanya kalangan sastra). Untuk meraih pembaca baru, pengemasan/postur buku yang menawan dinilai sangat penting dan efektif. Dan pengemasan itu juga harus diimbangi dengan materi isi buku yang berkualitas baik agar pembaca baru menjadi pembaca tetap.
Kemudian perlu adanya kolaborasi lintas seni yang bisa saling berbagi dan mengisi. Patutnya inilah yang mesti sering dilakukan, sehingga dapat meminimalisir kelompok-kelompok seni yang menganggap diri superior dan merasa eksklusif. Tujuannya jelas: agar karya bisa dinikmati oleh masyarakat luas tak terbatas.