Antara Baca Buku Cetak dan Buku Elektronik

Oleh: Alda Muhsi

Perkembangan teknologi yang semakin canggih membawa peradaban baru bagi pembaca buku. Buku-buku cetak konvensional mulai ditinggalkan sebagian pembaca, dan mereka mulai gandrung dengan buku-buku elektronik yang sangat mudah didapat. Tentunya melalui jalan baik-baik, bukan jalan haram (pdf bajakan).

Buku-buku elektronik yang legal itu bisa dibaca salah satunya melalui aplikasi iPusnas. Aplikasi resmi besutan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dengan jargon “Ciptakan SDM Unggul Menuju Indonesia Maju Melalui Membaca” kita bisa membaca ribuan judul buku dengan batas waktu peminjaman sekitar satu minggu dengan opsi bisa diperpanjang.

Tidak hanya iPusnas di pihak pemerintah, pihak swasta pun gencar meluncurkan platform-platform buku elektronik yang sangat mudah diakses. Mulai dari yang gratis hingga berbayar. Ada yang berkualitas ada pula yang hanya sekadar pemuas.

Hal ini menjadi paradoks di tengah masyarakat kita. Pada satu sisi pembaca begitu diuntungkan dengan sajian bermacam-macam bacaan yang gratis dan sangat mudah diakses. Namun, pada sisi lain jika memakai kaca mata penulis, bukankah penulis menjadi waswas ketika bukunya terbit dalam bentuk cetak? Takut-takut tidak ada yang mau beli. Bukan menduga-duga, buruk sangka, ataupun mengukur dengan jengkal jari, realitanya di tengah kondisi sulit ekonomi seperti saat ini tentunya orang-orang lebih memilih yang gratis ketimbang berbayar.

Satu dua penulis yang sudah punya nama besar dan basis pembaca yang banyak memang tak perlu khawatir, bagaimana dengan penulis-penulis baru yang ingin tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang mengandalkan tulisan-tulisannya untuk melanjutkan hidup? Jelas ini menjadi tantangan baru dan ujian mental bagi penulis yang dimaksud.

Sikap bijak untuk menghadapi persoalan ini sangat perlu dimiliki. Solusi kecil yang konkret perlu dipraktikkan, misalnya menyeimbangkan antara baca buku cetak dan buku elektronik dengan menyesuaikan fungsinya masing-masing, baca buku cetak ketika punya waktu luang sedangkan baca buku elektronik melalui gadget saat menjelang tidur atau ketika tidak punya banyak waktu yang menuntut kepraktisan membaca.

Nah, kalau Obelian bagaimana menyikapi hal ini? Boleh dong bagi-bagi dengan kita. Hehehe….

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.