
Kumpulan Puisi
Perihal Melupakan
Penulis:
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
FKIP Universitas Prima Indonesia
Halaman: xviii+84 hlm.
Ukuran: 14×21 cm
Sampul: Soft Cover
ISBN: 978-602-50947-8-1
Tahun Terbit: Februari 2018
Karya sastra memuat gambaran kehidupan. Sumardjo (1979) mengatakan bahwa karya sastra merupakan cerminan dari sebuah realitas kehidupan sosial masyarakat. Sebuah karya sastra yang baik memiliki sifat-sifat yang abadi dengan mengandung kebenaran-kebenaran hakiki yang selalu ada selama manusia masih ada. Dengan demikian, karya sastra dapat pula dikatakan sebagai catatan kesaksian atas serangkaian peristiwa pada suatu waktu. Melalui karya sastra, penulis menyampaikan pemikiran dan memberi makna lewat tanda-tanda.
Menulis karya sastra dapat dilakukan oleh siapa saja. Dalam dunia akademik, aktivitas menulis karya sastra merupakan salah satu bagian penting di samping berbagai kegiatan akademik lain yang berhubungan dengan karya sastra. Misalnya apa yang disampaikan Todorov sebagaimana dikutip Albert dan Souchon dalam analisis Purbaini (2011) mengatakan bahwa kesusteraan berada di tengah-tengah masyarakat untuk mendidik seseorang dalam arti sempit maupun mendidik masyarakat dalam arti yang luas serta memberi kesenangan bagi pembacanya. Pemikiran tersebut kemudian sesuai dengan argumentasi Schmitt-Viala dalam paparan Purbarini (2011) yang menyatakan bahwa karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang dinilai dapat mendidik manusia dan menghibur manusia.
Dengan dasar pemikiran tersebut, maka karya sastra juga dapat digunakan sebagai media edukasi. Secara khusus dalam dunia pendidikan, menulis dan membaca sastra sangat bermanfaat untuk membantu mentransfer nilai-nilai moral dan sosial. Kemunculan buku antologi puisi Perihal Melupakan diharapkan dapat menjalankan fungsi tersebut. Buku ini menghimpun puisi-puisi dari dua puluh tujuh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Prima Indonesia. Dalam tema yang beragam, pemikiran-pemikiran mengenai berbagai problematika sosial disampaikan.
Perihal Melupakan yang menjadi judul antologi ini memayungi banyak tema. Beberapa di antaranya adalah persoalan sosial yang melibatkan individu penyair dengan masyarakat. Misalnya mengenai kebangsaan, masyarakat sosial, alam, keluarga, dan percintaan. Berikut beberapa puisi yang mengungkapkan tema-tema tersebut.
Perihal Melupakan
Bukan keinginan untuk melupakan
Bukan juga tidak lagi ada rasa
Kini saatnya berhenti berjuang
Demi rasa yang semakin terluka
Berjuang tidak sebercanda itu
Jika hati terasa sesak dalam dada
Melepaskan kini jalan terbaik
Saat aku mulai berpikir untuk berhenti
Berhenti bukanlah keinginan
Perihal melupakan tidaklah aku
Jika keadaan semakin memburuk
Melepaskan pilihan terbaik
Puisi yang ditulis oleh Hotnauli Situmorang itu menampilkan dilema yang sering dihadapi manusia di lingkungan sosial. Secara khusus, ketiga bait puisi tersebut memfokuskan pandangan pada persoalan eksistensi diri. Penyair yang menempati posisi aku lirik menunjukkan bagaimana dirinya bersikap dalam keadaan yang dinilai tidak rasional. Melalui kata-kata yang lugas dan cenderung tidak banyak memanfaatkan gaya bahasa, penyair mengungkapkan fenomena dalam keseharian makhluk sosial dengan tegas.
Tema lain yang muncul dalam buku ini yakni mengenai alam. Salah satunya adalah puisi yang ditulis oleh Claudia Debora Nangin.
Sinabung
Tak henti hentinya meletus
Sampai kapan harus begini
Betapa nasibnya malang
Derita orang dengan letusanmu
Oh sinabung,
Apa maksudnya dengan semua ini
Yang terjadi banyak membuat
Orang menjadi ketakutan
Sinabungku.
Keprihatinan penyair dalam puisi Sinabung juga diungkapkan dengan lugas. Tidak hanya mengeluh dan meratapi keadaan yang melanda masyarakat di sekitar Sinabung, penyair yang menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat yang tertimpa bencana itu menunjukkan upaya ‘membujuk’ Sinabung. Tindakan yang dilakukan penyair secara tidak langsung merepresentasikan kedekatan manusia dengan alam (gunung).
Selain itu, puisi yang menyuarakan kebangsaan dan nasionalisme turut muncul.
Indonesia
Indonesia negaraku
Negara yang harum
Indonesia negaraku
Negara perjuangan pahlawanku
Banyak darah tersimbah demi negaraku
Telah beribu nyawa gugur mempertahankan negeriku
Hingga kami menikmati merdeka.
Indonesia negaraku
Negara yang luas
Negara yang kaya akan hasil bumi
Aku mencintaimu, negeriku
Di tengah problematika bangsa, puisi Indonesia yang ditulis oleh Dernia A.Sinaga mengungkapkan kesadaran aku lirik tentang keberadaan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Puisi tersebut tidak melulu menayangkan kesedihan dan kekecewaan pada negara. Tetapi justru sebaliknya. Penyair menampilkan bagaimana aku lirik kagum pada bangsanya sendiri. Jika dikontekstualisasikan, puisi seperti ini cenderung berbeda dengan puisi-puisi lain yang didominasi oleh ungkapan kemarahan. Namun di sisi lain, puisi ini justru dapat menjadi oase yang memberikan pandangan lain untuk pembacanya.
Semangat itu senada dengan puisi yang ditulis oleh Desi Kemalasari.
Tugas Pemuda
wahai pemuda senja esok kau yang memandu
siapkan bekalmu
jangan berhenti sampai di situ
wahai pemuda negara ini di tanganmu
singsingkan lengan bajumu
jangan sampai beradu
wahai pemuda siapkan alat kerjamu
demi masa depanmu
kobarkan semangat jiwamu
wahai pemuda jangan kalah dipukul angin
kencangkan keyakinanmu
harumkan nama bangsamu
Daripada menghabiskan kata-kata untuk mengungkapkan amarah, penyair memilih memberi motivasi kepada para pemuda. Bagian menarik yang muncul dalam puisi tersebut terdapat pada larik singsingkan lengan bajumu/jangan sampai beradu. Larik yang puitik namun penuh kritik. Terutama jika disandingkan ke berbagai peristiwa keindonesiaan yang saat ini terjadi. Larik itu berpotensi untuk mengkritik fenomena munculnya berbagai gerakan kepemudaan yang mengatasnamakan perjuangan bangsa Indonesia tetapi kerap justru mengalami benturan antarorganisasi sendiri. Alhasil, perjuangan tidak tegak, justru perpecahan yang merajalela.
Permasalahan kebangsaan yang lain ditunjukkan dalam puisi karya Dewi Arni.
Tikus Berdasi
Berhura
Berpesta
Bersenang ria
Menangis
Meraung
Mengeluh
Realita kehidupan dengan perbedaan yang tragis
Huh, siapa yang di atas? siapa pula yang di bawah
Siapa yang menginjak siapa
Kucing yang dikejar tikus
Kebalikan yang tragis
Kenapa?
Karena kucing yang kumuh tapi berani
Dan tikus yang pengecut tapi berdasi
Kenapa?
Karena kehidupan memang begini
Berbeda dengan nada dalam puisi-puisi sebelumnya, Tikus Berdasi lebih berani meluapkan amarah dan berkoar-koar. Persoalan tikus dan kucing yang dalam puisi tersebut digunakan sebagai analogi koruptor dan pihak yang kontra dengannya. Puisi ini sangat terbuka dan tegas. Penyair memaparkan situasi yang melibatkan kedua pihak itu. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang nyinyir, penyair turut menampilkan betapa konflik di antara tikus dan kucing menjadi sangat kompleks.
Di luar persoalan kebangsaan, tema puisi yang ditampilkan dalam buku ini juga banyak bersentuhan dengan keluarga yang secara spefisik membicarakan ayah dan ibu. Misalnya yang ditulis oleh Anisa Ulfandari,
Ayahku
Ketabahanmu menghadapi kami
Keikhlasanmu memenuhi kebutuhan kami
Kesabaranmu mengajari kami
Kegigihanmu membimbing kami
Tak peduli walaupun di mata mereka
kau bukan siapa-siapa
Tapi bagi kami kau tetap pahlawan
Dirimu bagaikan malaikat tak bersayap
Seperhero terkuat yang pernah ada
Kami tak akan pernah malu
Mengakui kehadiranmu
Karna bagi kami
Kau tetap anugerah terindah
Konstruksi keluarga di masyarakat sangat bervariasi. Meski secara komposisi telah disebut sebagai keluarga (ayah, ibu, anak) tetapi kisah di baliknya tentu tidak sama. Puisi Ayah menampilkan hal tersebut. Tidak seperti sosok ayah pada umumnya, penyair mengungkapkan bagaimana ayah dalam kehidupannya adalah figur yang banyak menerima semacam penolakan dari masyarakat. Situasi itu jika ditanggapi serius dan dengan kacamata umum, tentu dapat menyebabkan aku lirik tidak percaya diri dan kemungkinan dapat merusak hubungannya dengan sang ayah. Namun penyair melalui aku lirik menunjukkan pandangan yang berbeda. Aku lirik justru ditampilkan berusaha menerima sosok ayah meski orang-orang membicarakannya. Tidak hanya itu, aku lirik turut mempertegas bagaimana keberadaan sosok ayah bagi dirinya.
Aku Mau Kamu
Aku hanya benci berdiri dalam hujan
Aku hanya benci menghabiskan waktu tanpa adanya kamu
Aku hanya ingin ada kamu
Aku benci ada salju yang turun
Pada saat tidak ada kamu
Dan aku hanya sendiri di sini meratapi bulan
Aku mau kamu yang akan selalu mencintaiku
Cinta dalam bentuk hubungan asmara juga banyak ditulis dalam buku ini. Salah satunya adalah puisi Aku Mau Kamu karya Sabarina Ginting. Kehangatan cinta yang diinginkan penyair agaknya mewakili suara-suara cinta yang juga banyak diungkapkan dalam buku ini.
Hidup Hanyalah Sandiwara
Hidup memang sering dianggap tak adil
Bagi mereka yang sering terjatuh kesakitan namun sadarlah hidup ini hanyalah sebuah sandiwara yang telah diatur oleh skenario
Sang penciptalah sutradara
Maka memohonlah dalam doa dan mintalah peran yang terbaikmu.
Di tengah keberagaman tema yang ditampilkan, puisi Hidup Hanyalah Sandiwara yang ditulis oleh Kerisdiana Ginting seolah menjembatani berbagai polemik itu. Kefanaan yang kerap menjadi pusaran masalah bagi manusia, menurut penyair, hanyalah sandiwara. Dengan demikian, hal yang dapat dilakukan adalah kembali memohon pada sang sutradara lewat doa-doa yang baik.
Beberapa puisi yang saya paparkan di atas setidaknya dapat mewakili puisi-puisi lain yang menyuarakan tema serupa. Dalam keberagaman tema itu, tentu masih banyak yang perlu diperbaiki dan diasah kembali kepenulisannya. Kendati demikian, buku kumpulan puisi ini dapat menjadi langkah awal untuk munculnya karya-karya lain yang lebih besar. Semoga mahasiswa yang menulis semakin semangat mempersiapkan buku-buku selanjutnya. Bagi pembaca, semoga kehadiran buku ini bermanfaat.
Selamat membaca.
Salam,
Editor
Dian Syahfitri, S.S., M.Hum.
Daftar Rujukan
Purbarini, Asti dan Amalia Saleh. 2011. Pengajaran Keterampilan Berbahasa Melalui Kajian Sastra. www. jurnal.unimed.ac.id, diakses tanggal 28 Februari 2018.
Sumarjo, Y. (1979). Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: C.V. Nur Cahaya.