Deskripsi
Dari Senin ke Ahad
Buku Puisi Ilham Wahyudi
Revolusi besar di bidang teknologi komunikasi dan digital telah membunuh imajinasi orang-orang. Kini peran para penyair telah digantikan oleh inflasi informasi yang dipasok dengan masif oleh berbagai platform media.
Orang-orang tidak lagi mencari kedalaman makna pada sepotong sajak atau puisi. Mereka dengan sukarela menyerahkan sel-sel otaknya untuk dibusukkan oleh kedangkalan aneka konten medsos yang serba cepat dan instan.
Dalam sengkarut dunia yang sedang mendangkal dan membusuk inilah Sidi Ilham dengan berani dan konsisten masih berjibaku di jalan yang sepi. Dia tetap melahirkan sajak walau—mungkin—minim audiens.
Sidi Ilham melipir, berlalu diam-diam dalam tema-tema yang kini mungkin tidak dikenal banyak orang. Di kumpulan puisinya yang diberi judul “Dari Senin ke Ahad”, ia mengumpulkan sisa-sisa energinya buat merekonstruksi jejak-jejaknya para salik. Yakni orang-orang yang melakukan perjalanan ruhaniah ke dalam dirinya.
Apakah ini sebuah pilihan yang sadar? Bisa jadi Sidi Ilham tidak sedang bahagia, tersadar larut dalam realitas masyarakatnya yang banal di sana-sini. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk berlabuh dalam kehangatan spiritualitas para salik. Mencoba mencicipi nikmatnya “hidangan” yang dikirim oleh langit.
Sebagai konsekuensinya, para pembaca mungkin harus mengeluarkan effort ekstra untuk bisa memahami sebagian besar puisi Sidi Ilham. Pesan-pesannya diramu dalam kode-kode (idiom) sufistik. Beberapa di antaranya bahkan jelas-jelas di bawah pengaruh kisah alegorisnya Sheikh Fariduddin Attar dalam kitab Mantiqut Thair (Musyawarah Burung). Sedang sebagian lainnya juga meminjam kisah-kisah Israiliyat. Seperti perjamuan kudus di hari Ekaristi. Mereka yang tidak memiliki basis pengetahuan minimum tentang dunia tasawuf, biasanya akan buru-buru menyimpulkan bahwa ini adalah tipikal “puisi gelap”.





Ulasan
Belum ada ulasan.