-Cerita dari Lapak Buku episode 2-
Oleh: Alda Muhsi

Sastra koran begitu populer sejak tahun 2000-an awal. Masing-masing Koran menyediakan rubrik sastra yang berhonor bagi para pengisinya. Walaupun ada beberapa yang secara sadar dan jujur mengaku tidak mampu untuk memberinya. Ketersediaan wadah itu membuat bermunculannya penulis-penulis baru yang tumbuh dan berkembang melalui koran. Dan tidak usah ditanyakan lagi mentalitas para penulis yang pernah berjuang di masa itu. Kebanyakan penulis baru itu berasal dari kalangan mahasiswa, terlebih jurusan sastra. Apalagi ketika diiming-imingi oleh para dosen akan otomatis mendapat nilai A apabila karyanya terbit di Koran. Semangat menulis tentu akan berkobar sampai puncaknya. Dapat nilai bagus plus dapat honor pula.
Dewasa ini, zaman berubah. Teknologi menyelimuti masa-masa itu. Bukan saja rubrik sastranya yang tutup, beberapa koran pun padam, berhenti cetak, beralih ke digital. Jangan tanya rubrik sastranya, bisa gaji karyawan saja sudah mantap. Kehilangan wadah itu saya anggap menjadi salah satu alasan mengapa sulit untuk menemukan penulis-penulis baru. Walaupun faktanya saat ini media-media digital di luar Medan/Sumut menyediakan rubrik sastra dan berhonor. Persaingan yang sangat lebar itu membuat calon penulis kalah sebelum berperang.
Akhir Agustus 2024 ketika buka lapak di Taman Budaya Sumatera Utara, Kompleks PRSU Jalan Gatot Subroto, kami bertemu dengan beberapa kolega. Acara yang berlangsung selama tiga hari itu bertajuk Festival Sastra Pelajar Sumut yang ditaja oleh Komunitas Katakata. Saya bertanya kepada salah satunya, ketika yang bersangkutan mampir di meja kami.
“Gimana anak-anak, Pak, masih belum ada yang nulis?” kata saya, maksud saya nulis ini adalah nulis karya sastra, baik puisi, cerpen, dan novel.
Beliau adalah pengajar, akademisi, dosen sastra di salah satu universitas yang punya prodi sastra Indonesia.
“Ya, gitula. Mereka kan bukan dibentuk untuk menjadi penulis, tapi untuk jadi peneliti, akademisi sastra.”
Saya tersenyum saja sambil ngucap dalam hati: udah seribu kali kudengar kalimat itu.
Karena dilihatnya saya diam dan tidak merespons, bapak itu gentian bertanya mengenai seberapa banyak buku-buku yang laku. Saya menjawab tanpa kata, hanya mengecap dan sedikit menggeleng. Kemudian saya tawarkan beliau untuk borong. Jawabannya sangat membuat cengang.
“Gak tebacaku itu nanti.”
Enteng saja ucapannya. Lalu ia pamit sambil menggendong tripod yang baru saja ia gunakan untuk merekam acara (sebagai materi konten).
Saya memandang meja yang padat, kurang lebih 80 judul buku, baik dari penerbit dan penulis lokal Sumut, maupun luar daerah. Saya jadi tahu satu alasan lain mengapa kita sulit menciptakan penulis-penulis baru.

3 pemikiran di “Menemukan Penulis Baru”
Prihatin ya gan.
Gitulah gan, apa mau dibilang lagi