Tradisi Lisan – Cerita Rakyat Pulau Samosir

Tradisi Lisan
Cerita Rakyat Pulau Samosir
(Sidabutar, Sigale-gale, Siallagan)

Penulis:
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Unimed 2010

Halaman: viii+112 hlm.
Ukuran: 14×21 cm
Sampul: Soft Cover
ISBN: 978-602-51844-0-6
Tahun Terbit: April 2018

Mengembangkan kompetensi mahasiswa melalui penelitian merupakan salah satu bentuk implementasi hasil pembelajaran yang berdaya guna. Melalui penelitian, mahasiswa yang telah dijejali berbagai keilmuan baik secara teoretis maupun praktis dapat mengaplikasikan sekaligus memanfaatkan potensi akademiknya untuk kepentingan publik.

Buku ini hadir sebagai bukti bahwa kompetensi mahasiswa itu dapat bersumbangsih bagi masyarakat, terutama pada bagian pendokumentasian dan penelitian cerita rakyat yang kemudian dapat digunakan untuk berbagai kepentingan pengetahuan. Buku ini merupakan produk dari mata kuliah metodologi penelitian yang merekam tiga cerita rakyat atau sastra lisan di Pulau Samosir, yaitu Sidabutar, Sigale-gale, dan Huta Siallagan. Ketiga cerita tersebut merupakan warisan kebudayaan yang sudah semestinya dilestarikan.

Pada bagian pertama, kelas Dik Reguler B 2010 meneliti tentang cerita-cerita yang berkembang di  masyarakat terhadap makam Raja Sidabutar  dengan faktanya (setelah dilakukan penelitian). Ada banyak versi yang menceritakan seluk-beluk dan riwayat raja Sidabutar dan setiap versi meyakini kebenarann cerita masing-masing. Dari hal inilah pengidentifikasian masalah bermula, kemudian dirumuskan masalah-masalah dalam bentuk pertanyaan, dan pada akhirnya masalah diproses dengan fakta dan teori yang dipercaya.

Kedua,  kelas Dik Reguler C 2010 meneliti kisah Si Gale- gale­ pada komunitas masyarakat Batak di daerah Samosir. Sigale-gale merupakan sebuah boneka yang berubah menjadi cerita mistis, hidup dalam benak masyarakat di Batak Toba. Boneka tersebut bisa menari-nari sendiri, bahkan bisa menangis. Bagi  masyarakat  Batak  yang  berada  di Tapanuli Utara, cerita rakyat Si Gale-gale di samping berfungsi sebagai alat penghibur, juga   sebagai  sarana  memuliakan  roh  atau  memanggil  roh  nenek   moyang. Pemanfaatan   Si Gale-gale untuk memanggil roh nenek moyang seperti itu sudah ada.

Ketiga, kelas Ekstensi B 2010 meneliti tentang Huta Siallagan. Huta adalah kelompok rumah yang berdiri di sebuah kawasan yang dihuni oleh beberapa keluarga yang terikat dalam satu kerabat. Huta ini dibangun sebagai identitas yang akan menjelaskan asal usul kekerabatannya, maka selanjutnya huta akan dinamai sebagai huta marga. Begitu pula halnya dengan marga Siallagan (turunan Raja Naiambaton garis keturunan dari Raja Isumbaon anak ke-2 Raja Batak). Mereka membangun sebuah huta/perkampungan yang dinamakan Huta Siallagan dan dipimpin oleh Raja Siallagan.

Kumpulan tulisan dalam buku ini menunjukkan bahwa sastra lisan masih menjadi tema krusial yang penting untuk dibahas. Serangkaian tulisan yang tersaji di dalamnya menawarkan perspektif yang beragam tentang sastra lisan yang ada di Pulau Samosir. Kami berharap kehadiran buku Tradisi Lisan ini dapat menjadi arsip yang bermanfaat dalam pelestarian kebudayaan dan warisan leluhur.

Editor,

Drs. Syamsul Arif, M.Pd.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.