-Cerita dari Lapak Buku episode 3-
Oleh: Alda Muhsi

Bicara mengenai dosen sastra yang tidak suka atau tidak sempat baca buku sastra tidak adil jika kita menggeneralisir. Tentu saja itu hanya bagian dari oknum. Masih banyak dosen sastra yang doyan mengonsumsi bacaan sastra, percaya tidak percaya, kita hanya perlu peka untuk memperhatikan dan menemukannya. Masih di universitas yang sama dengan dosen yang tidak sempat baca buku di episode 2 (Menemukan Penulis Baru), kali ini saya bertemu dengan salah satu dosen sastra yang senang baca, apalagi karya-karya penulis lokal Sumatera Utara.
Tepatnya Oktober 2022, waktu yang cukup lama untuk saya mengingat-ingat peristiwa itu. Kami buka lapak di USU, saat itu kegiatan Ngobrol Buku membicarakan Malim Pesong: 10 Cerpen Hasan Al Banna. Audiens yang hadir adalah mahasiswa, jumlahnya hampir seratus. Menurut pandangan saya, ruang kuliah si dosen, yang saat itu jadi pembicara, dipindahkannya di sana.
Yang menarik adalah dosen yang menjadi pembicara itu bertugas di Unimed, otomatis mahasiswa-mahasiswa yang menjadi peserta juga dari universitas yang sama. Malahan, mahasiswa tuan rumah (USU) hanya ada beberapa orang saja yang menjadi panitia acara. Peserta? Nihil.
Apa yang mau saya soroti di sini ada beberapa hal.
Pertama, memang perlu adanya sosok berpengaruh yang bisa mengarahkan agar mahasiswa sastra melek terhadap acara-acara sastra. Apalagi kegiatan yang dihadiri menunjang pemahaman mereka. Kita tentu masih ingat kalimat mahasiswa sastra tidak dididik untuk menjadi penulis, tapi menjadi peneliti/akademisi sastra. Saya rasa kegiatan semacam Ngobrol Buku inilah menjadi bekal awalnya. Memancing bagaimana respons pembaca terhadap apa yang dibacanya.
Kedua, dosen patutnya menjadi contoh kepada mahasiswanya agar apa yang ingin dicapai bisa diperoleh mahasiswa secara konkret. Artinya bila dosen menugaskan mahasiswa untuk menganalisis novel, contohkanlah bagaimana caranya, teori apa yang bisa dipakai, serta barang jadi (hasil analisis) yang sudah dilakukan/ditulis sang dosen. Dengan begitu para mahasiswa tidak lagi berada di ranah hitam atau abu-abu.
Ketiga, sangat perlu strategi yang tepat untuk menjangkau peserta kegiatan yang lebih luas. Apalagi kalau kita ingin meraup pembaca luar/umum yang bukan dari lingkup komunitas sendiri.
Keempat, bagian ini yang sangat disayangkan, yaitu kurangnya kecakapan atau keberanian mahasiswa memberikan pendapatnya di acara tersebut. Apakah hal ini ada kaitannya soal mentalitas? Karena acara dilaksanakan bukan di rumah (kampus) mereka, jadinya ada keengganan untuk berpendapat. Atau dugaan satu lagi karena mereka memang belum membaca bukunya sehingga tidak tahu mau bilang apa? Seandainya kedua hal ini benar, siapa yang perlu bertanggung jawab?
Di akhir diskusi hujan turun sangat deras membuat langkah pulang tertunda. Tapi hal itu tak lantas membuat buku-buku dilirik para penghuni gedung yang katanya calon akademisi.