-Cerita dari Lapak Buku episode 4-
Oleh: Alda Muhsi

Pertengahan tahun 2023, salah satu komunitas pegiat HAM menghubungi kami untuk berpartisipasi menggelar lapak buku di acara diskusi yang mereka selenggarakan. Karena pada prinsipnya kami terbuka untuk bekerja sama dengan siapa saja, dan tidak perlu bayar biaya sewa lapak, kami menyambut baik ajakan itu. Terlebih kegiatan itu kategorinya nonsastra, tentunya kami punya harapan Obelia akan dikenal semakin luas.
Penyelenggara memberi tahu kepada kami bahwa acara berlangsung pukul 15.00-22.00 WIB, begitu juga informasi yang tertera di poster. Sebagai orang baru kami datang dua jam lebih awal, sekalian berkenalan secara langsung dan persiapan menyusun meja dan buku-buku. Saat itu kami membawa sekitar 40 judul buku. Buku-buku yang kami bawa sengaja kami pilih yang bersangkutpaut dengan politik. (Maksudnya merangsang ketertarikan calon pembeli yang berlatar mahasiswa hukum atau setidaknya yang mengaku aktivis).
Apa yang terjadi di lokasi? Sepertinya kita semua paham bahwa acara akan terlambat dimulai. Satu jam? Dua jam? Hmm … sesaat sebelum azan magrib acaranya baru dimulai, dan berhenti sejenak ketika azan berkumandang. Sumber azan berjarak dua rumah dari tempat acara, sehingga lengking suaranya membuat kegiatan memang harus tertunda.
Saya melihat bahwa narasumber yang mengisi diskusi adalah tokoh-tokoh yang punya pekerjaan tetap, yang punya jam kerja wajib. Begitu juga sebagian penampil pertunjukan. Masalahnya kenapa jam acara yang tertera di poster/undangan pukul 15.00 yang jelas-jelas kita tahu itu masih jam kantor? Lucu sekali komunitas ini dalam bayangan saya, mereka ingin membereskan kasus-kasus HAM yang melimpah ruah, tapi membereskan diri sendiri saja belum bisa.

Saya tidak ingin menjabarkan apa yang menjadi titik diskusi. Bisa jadi tidak adil karena kita dibekali perspektif masing-masing sesuai dengan kecakapan berpikir.
Jagung dan kacang rebus, harum semerbak terhidang bagi pembicara maupun peserta. Buku-buku kami dihinggapi nyamuk dan lalat. Sekitar pukul 21.00 setelah sesi diskusi berakhir dan acara diisi pertunjukan puisi kami memutuskan untuk menyusun buku-buku kembali ke kardus, rumah yang tepat bagi mereka.
Di pertengahan proses itu seorang lelaki menghampiri, ia mengambil 1984 milik George Orwell. Akhirnya pecah telur di masa injury time.
Sebelum pulang kami pamit, seorang panitia yang mengundang banyak-banyak mengucap terima kasih, bermohon maaf apabila mengecewakan, dan tak lupa menghadiahi nasi bungkus untuk makan malam. Ah, urusan perut biar bagaimana pun selalu lebih penting.