
TAMU TERAKHIR
kepada Sapardi Djoko Damono.
di tempat yang jauh
Chairil melambai ke arahmu
namun kau tak juga hirau
sebab di ranjang itu
matamu mengabur;
hanya cahaya hitam dalam pandang
lalu sebuah kalimat terdengar
“aku tamu bagimu. bagi seluruh sakit-hancurmu.
bagi seluruh kata yang telah selesai tugasnya. bagi
apa yang tak pernah kita tahu: sampai-tidaknya,
marah-tangisnya, sekarang-esoknya. tapi aku tamu
bagimu. yang menjemput sekaligus mengantarmu.”
kau seperti dengar puisi tuk terakhir kali
tak lama kemudian, waktu melambat & merambat
tepat di lehermu. tepat ketika Chairil melambai
dari tempat yang jauh & mengatakan sesuatu
“di sini tempat kita, pak Sapardi!”
2020
SALIB AKU DI DADAMU
kepada Kakek.
orang-orang datang dari arah
kesedihan, suara mereka
mirip hiena & wajah mereka
adalah salamander
di tanah ini, tak ada doa
kaki ajal berlarian di punggungku
wajahmu membayang di langit
& waktu merangkak perlahan
paku mencekik tanganku
“aku kan menanggung segala rindu!”
darah bercucuran & dikumpulkan
ialah anggur paling segar
minumlah!
sekumpulan hering terbang
di atas rambutku, serupa
malaikat pencabut bahagia.
2019-2020
SALIB AKU DI DADAMU, 2
kepada Janete Stephanie.
mereka datang, Jane, dari tempat
yang kita benci. tangan-kaki mereka
berduri & tubuh mereka penuh luka
di tempat ini, tak ada keselamatan
maut telah merambat di leherku
ketika kesedihan penuh di matamu
serupa ucapan selamat tinggal
darah mewarnai tanganku
“kau kan mengingatku lebih lama!”
lalu mengalirlah semua kecewa
adalah air mata berwarna muram
teguklah!
seekor merpati terbang
di atas kepalaku, seumpama
maut mengepak sayapnya.
2020
MENCINTAIMU DENGAN MINGGU
kepada Janete Stephanie.
lonceng berbunyi
& nyanyian terus melagu;
tanda & suara memanggilku.
namaku: kata yang termaktub
dalam buku harian & injilmu.
minggu adalah arsitektur gereja
seorang maria & kepalan tangan
ketiganya merupakan kasih sayang.
tapi mencintaimu ialah bismillah
pada pagi & bismika setiap malam.
di sana, kau dengar kumandang azan
sedang di sini, aku menguduskan engkau.
2020
BIODATA
Titan Sadewo. Lahir di Medan 2 Desember 1999. Mahasiswa Pend. Bahasa Indonesia FKIP UMSU. Belajar menulis di FOKUS. Puisinya dimuat Tempo, Riau Pos, Haluan Padang, Bali Post, Banjarmasin Post, Rakyat Sumbar, Analisa, Buruan.co, Kibul.in, Apajake.id, Buletin Lamun, Buletin Filokalia, dan Buletin Lintang.
Puisinya juga termaktub dalam antologi Syair Maritim Nusantara (2017), Tugu, Anggrainim, dan Rindu (2018), Kunanti di Kampar Kiri (2018), Merdeka dari Pusaran Narkoba (2018), Puisi untuk Lombok & NTB (2018), Membaca Asap (2019), Lelaki yang Mendaki Langit Pasaman Rebah ke Pangkal (2019).
Redaksi menerima kiriman puisi, cerpen, dan esai, tema bebas, tidak melanggar hak cipta orang lain. Karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Puisi dikirim sebanyak 4-6 judul, cerpen maksimal 9.000 karakter, dan esai maksimal 6.000 karakter. Kirim ke surel: obelia.publisher@gmail.com
Satu pemikiran di “PUISI-PUISI TITAN SADEWO”
Manttap puisinya.