Ruang Mahasiswa
Oleh: Sry Ayu M. Manalu dan Yusmita Kusumawati*
Meluasnya virus corona di tengah kehidupan masyarakat khususnya di Indonesia menimbulkan kerugian sangat besar di berbagai lini. Virus yang muncul di Cina tepatnya kota Wuhan pada bulan Desember tahun 2019 lalu itu nyaris melumpuhkan sektor perekonomian dan pendidikan. Banyak pekerja yang diberhentikan atau di-PHK tanpa digaji. Selain itu, pendidikan saat ini dilaksanakan secara daring (online). Banyak tuntutan untuk memenuhi kebutuhan para anak didik agar bisa mengikuti proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan jarak jauh. Orangtua harus mampu menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan, seperti android atau laptop, kuota internet, dan pakaian sekolah. Bukan hanya itu saja, lokasi juga menentukan kelancaran dalam pelaksanaan daring tersebut, karena tidak semua daerah memiliki jaringan yang bagus. Lalu, bagaimana dengan orangtua yang memiliki penghasilan dengan pas-pasan? Itulah saat ini yang menjadi beban bagi masyarakat.
Aktivitas setiap individu kini terhalang oleh timbulnya virus corona ini. Namun, bagaimana dengan para sastrawan dalam menghadapi kehidupan saat ini? Memang, pandemi ini mengharuskan setiap orang untuk berdiam diri di dalam rumah. Sebab, jika bersikeras untuk keluar rumah, artinya mendekatkan diri pada penyakit bahkan kematian. Lantas, bagaimana dengan jiwa seni para sastrawan? Apakah jiwa seninya berdiam diri saja atau sebaliknya?
Salah satu sastrawan bernama Made Adnyana Ole menciptakan sebuah puisi pada bulan Mei 2020 berjudul “Kawan Menulis Berita Hari Ini” dalam rangka turut empati dikarenakan wabah yang telah membekukan pondasi-pondasi kehidupan masyarakat seluruh dunia terkhususnya di Indonesia. Saat ini, kegiatan-kegiatan sastra kebanyakan dilaksanakan melalui online juga. Sebagai contoh lain, dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Medan ke-430, Pelaksana tugas (Plt) Walikota Medan Ir. H. Akhyar Nasution, M.Si. begitu mengapresiasi diadakannya Lomba Baca Puisi Online. Kegiatan ini dianggap dapat memotivasi sekaligus membangkitkan semangat para pencinta seni terutama dalam menghadapi pandemi. Tidak hanya puisi saja, seni lain seperti lukis, teater, tari, maupun musik diikutsertakan juga. Perlombaan ini diikuti oleh 122 peserta dan para pemenang diberi hadiah oleh Plt Walikota Medan. Selain itu, para mahasiswa Universitas Prima Indonesia juga turut serta dalam merespon adanya virus corona dengan memberi sebuah karya cover online. Para mahasiswa yang saat ini menduduki semester 4 dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia itu turut empati sehingga menyisihkan waktu dengan membuat cover online. Mereka menyanyikan lagu nasional dengan diiringi musik, selain itu dalam video tersebut tersisipkan sebuah puisi dan kata-kata motivasi yang mengajak para masyarakat untuk tetap berdiam diri di dalam rumah guna memutus rantai penyebaran virus corona. Cover online tersebut dapat dilihat di akun Instagram resmi @pagiia18 kelas mahasiswa tersebut. Tak henti-hentinya para seniman untuk berkarya. Hal itu dibuktikan meluncurnya sebuah buku antologi puisi dan prosa bertajuk Khazanah Kekayaan Budaya Sumatera Utara di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) pada hari Jumat, 17 Juli 2020. Namun, kegiatan-kegiatan seperti teater saat ini ditunda, yang biasanya dilaksanakan di gedung tersebut guna dalam memutus rantai penyebaran virus tersebut.
Kini, aksi baca puisi sangat melejit di tengah pandemi corona dengan tujuan menghilangkan kecemasan atau kekhawatiran akibat virus corona yang semakin meluas. Seperti, para sastrawan mengadakan aksi baca puisi komedi atau humor. Mereka berasal dari berbagai daerah dan pembacaan puisi dilaksanakan pada akun Instagram masing-masing dan dibaca secara bergantian. Bahkan kegiatan-kegiatan sastra tersebut dihubungkan dengan program donasi guna membantu orang-orang yang telah terdampak virus corona.
Para sukarelawan juga tidak hanya berasal dari sastrawan. Salah satunya dari kalangan artis. Mereka juga melakukan aksi seperti cover nyanyi online dan setiap donasi yang terkumpul mereka berikan secara sukarela, contohnya Didi Kempot, Afgan, dan penyanyi-penyanyi lainnya. Tak hanya cover saja, banyak para penyanyi menciptakan sebuah lagu yang bertema covid-19 dan bertujuan menyemangati para pejuang melawan virus corona. Jadi, segala kegiatan sastra saat ini kebanyakan dilaksanakan melalui online. Walau demikian, para seni dan sastrawan tak berhenti untuk menciptakan karya-karya yang lebih baik sebab itulah jiwa yang sudah berakar pada diri mereka.
Kondisi yang saat ini semakin menjadi-jadi mengharuskan Pemerintah dalam membuat sebuah keputusan New Normal agar dapat mengembalikan situasi seperti dulu. Namun, bukan berarti bebas seperti sediakala. New Normal yang dimaksud ialah ketika setiap masyarakat harus memulai kehidupan yang baru dengan cara mengikuti protokol kesehatan, seperti jaga jarak, rajin cuci tangan, menggunakan handsanitizer dan pengukuran suhu tubuh di setiap tempat-tempat tertentu. Harapan-harapan para pecinta seni juga sama halnya dengan keputusan Pemerintah. Walau demikian, kegiatan sastra saat ini belum dapat dilakukan secara keseluruhan dengan tatap muka kecuali dengan tetap mengikuti prokol kesehatan. Semoga wabah ini cepat berlalu dan diharapkan kepada setiap masyarakat agar tetap patuh pada protokol kesehatan guna mengembalikan situasi seperti semula. Memulai kehidupan baru jauh lebih baik agar terhindar dari virus-virus yang berada di sekitarnya. Para pecinta seni dan sastra juga tetap optimis dalam meningkatkan karya-karya agar dapat membangun citra karya seni, jangan menjadikan wabah ini sebagai penghalang dalam berkreativitas. Jadikanlah wabah ini sebagai ujian dalam hidup guna menyadarkan setiap individu tentang berharganya pola hidup sehat jasmani dan rohani.
*Penulis merupakan Mahasiswa Universitas Prima Indonesia
Redaksi menerima kiriman opini dan liputan dari mahasiswa seluruh Indonesia. Karya orisinal, belum pernah diterbitkan di media lain, tidak melanggar hak cipta orang lain, dan tidak memancing terjadinya konflik SARA. Tulisan lebih baik disertakan foto dan data diri penulis berbentuk narasi maksimal 5 baris. Kirim ke surel: obelia.publisher@gmail.com