Oleh Alda Muhsi

Tiba-tiba seorang teman penyair mengirim pesan singkat melalui Whatsapp, ia bilang begini (dengan sedikit modifikasi):
Sekarang aku memandang teks sebagai variasi bacaan saja. Buku yang baru terbit, buku yang mendapat penghargaan, mungkin bagus bagi orang lain, tapi tidak cocok untuk pembacaanku. Alasannya tidak menggugah, tidak ada semacam ruang yang bisa aku tinggali dalam teksnya. Tapi aku tidak ingin mengatakan karya itu jelek. Aku hanya menganggap teks itu sebagai variasi saja. Karena ‘jelek’ sangat personal, jadi aku tidak ingin mengatakannya. ‘Variasi teks’ mungkin lebih universal. Tidak hanya teks dalam buku, cerpen-cerpen yang tayang di koran lokal pun sangat datar. Apa audiens kita memang menginginkan karya-karya seperti itu?
Entah kerasukan apa ia mengirim ocehan – yang sepertinya sudah lama terpendam itu. Dalam kehati-hatian saya coba menjawab pesannya dengan pandangan awam saya.
Mau tidak mau karya ‘jelek’ yang lebih adil disebut ‘variasi’ itu pasti meramaikan jagat sastra kita. Salah satu penyebabnya antara lain honor yang disediakan koran membuat penulis-penulis yang selalu serius menggarap karya enggan mengirimkan karyanya ke koran tersebut, alhasil tulisan penulis pemulalah yang dimuat guna memenuhi kolom koran tersebut.
Kalau ditanya lagi kenapa penulis yang sudah sering menulis pun tulisannya terasa datar ketika dimuat di koran tersebut? Ya jelas penulis itu cari aman, entah karena kepingin tetap eksis (karyanya dimuat terus) di koran tersebut, entah juga karena lumayan dapat uang jajan minimal untuk beli buku. Jadi asumsinya: nulis gini ajalah, pasti dimuat juganya.
Itu masih soal koran, kalau karyanya terbit sebagai buku sudah pasti karena banyaknya vanity publisher yang lebih senang berbisnis, mencari keuntungan bagi publisher-nya saja, tanpa memperhatikan kualitas karya buku yang akan diterbitkan. Kemudahan akses yang ditawarkan vanity publisher membuat para penulis tidak perlu mati-matian berkarya dan bersaing dengan penulis lain dalam hal membukukan karyanya. Wajar saja apabila kita menemukan ‘variasi teks’ seperti yang disebutkan di awal.
Percakapan kami berlanjut membahas hal-hal lain. Kami menyepakati penggunaan sebutan ‘variasi teks’ terhadap karya-karya yang secara subjektif kami anggap ‘jelek’.