Oleh: Roy Julian

Puisi-puisi Seiska dalam kumpulan puisi Lepas Muasal (2021) ini, memperlihatkan puisi sebagai perayaan kenangan. Kenangan-kenangan yang asalinya berangkat dari ruang yang paling privat itu kemudian dibawa keluar menjadi sebuah peristiwa pembacaan dalam ruang publik.
Puisinya seakan-akan ditulis hanya untuk seseorang, atau untuk dirinya sendiri, sebuah rahasia, personal. Semacam ruang samar yang menggoda pembaca untuk masuk ke dalam dan menyalakan lampu untuk melihat ada apa di dalamnya. Hal yang sebenarnya juga terjadi pada banyak penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya yang bergaya liris, Seiska seperti ingin membuka apa yang tertutup dalam dirinya dengan cara yang rahasia, tapi juga terkadang bisa begitu verbal dan terbuka tanpa tedeng aling-aling. Distribusi kenangan-kenangan dalam puisi-puisinya dinarasikan dalam berbagai pintu masuk seperti perenungan diri, cinta dalam hubungan lelaki-perempuan, juga dalam hubungan antara anak, orangtua dan tuhan. Hampir seluruh puisi-puisinya merupakan bayangan biografis dirinya yang berpendar-pendar ke sana kemari. Kenangan di dalam puisi-puisi Seiska mendapatkan perwujudannya dalam bentuk luka, rindu, sepi, harapan dan sekaligus bayang-bayang traumatik.
Penguburan Puisi
puisiku mati dibunuh ibu
pisau dapur menancap di dada
dalam liang yang sejengkal kukuburkan
di halaman di bawah pohon jambu
tak ada kenangan yang menggilas hati
ia mati dalam sepi
Lhokseumawe 2010
Di dalam puisi itu, kata puisi dipersonifikasi sebagai makhluk hidup yang kemudian mengalami kematian karena dibunuh ibu dengan pisau dapur yang menancap di dadanya. Kita langsung bisa menangkap adanya suasana kekerasan yang kental pada bait awal puisi. Puisi yang mati terbunuh itu barangkali adalah harapan, atau suatu bagian yang sakral atau terdalam dari diri si penulis. Sementara ibu dalam puisi itu tidak dihadirkan sebagai sosok yang seringkali dianggap sebagai sumber kelembutan dan kasih sayang setiap anak pada umumnya, namun justru hadir sebagai seorang ‘pembunuh’, pelaku kekerasan yang menancapkan sebilah pisau dapur ke dada puisi. Makna yang terbangun di dalam puisi digunakan untuk melihat makna lain yang berada di luar puisi. Citraan kontradiktif yang ditawarkan Seiska dalam puisi itu seperti ingin melakukan dekonstruksi makna pada pemahaman normatif kita tentang seorang ibu. Sesuatu yang memunculkan gumpalan traumatik yang bisa kita rasakan di dalamnya.
Sebuah perang di kota ini
sesore begini
tak kutemukan perang di kota ini
tapi bedil tertangkap mata
menyelinap di tiap tutur
panas membara
dalam suara nan berbisik
perang telah lama sembunyi
dalam dindingdinding meunasah
syukurlah angin tak kencang bertiup
hingga api hanya retih
di tapak kaki
lalu redam di tiap wudhu
Lhokseumawe, 2009
Penamaan tempat dan tahun penulisan di bawah puisi itu sangat membantu saya sebagai pembaca untuk membangun relasi antara isi puisi dengan latar sosial dan politik yang terjadi saat puisi ditulis, yang merujuk pada konflik bersenjata berkepanjangan yang pernah terjadi antara GAM dengan militer di Aceh pada saat itu. Dalam puisi itu, saya juga bisa merasakan gelombang traumatik yang tercipta dari ruang external (kondisi politik yang dialaminya saat itu) yang menyelinap ke dalam ruang internal dalam diri, yang kemudian menemukan muaranya dalam sebuah kegiatan ibadah, yaitu wudhu. Sebuah upacara pembersihan diri menuju sebuah persembahan kepada yang maha.
Namun tidak setiap puisi memiliki cukup pintu atau jendela untuk bisa saya masuki. Sebagai pembaca, kadang saya hanya bisa berada di luarnya, melihat desain kata pada baris-barisnya. Kadang saya tersandung dengan pilihan kata yang tidak bisa saya alami dengan tubuh saya; menjadi tiang besar, tetapi sama sekali tidak bisa menopang dinding-dinding makna dalam puisi. Puisi kadang memerlukan ruang kosong yang biasanya muncul dengan pilihan kata yang tidak ada artinya. Ruang kosong ini bisa berfungsi menggoyahkan usaha pembaca untuk mendapatkan atau memberi makna dari dan untuk puisi.
Demi Cinta
kemarin kugadaikan tawaku
pada angin yang membuka jasa pegadaian
katanya itu gadai syariah
dengan sistem yang menolak disebut riba
aku hendak membeli cintamu
tapi cintamu naik harga tanpa pemberitahuan
melambung tinggi mengejek kantungku
hari ini kugadai hasratku
kutambahkan impian dan kata rayu dalam daftar gadai
juga separuh rasa di hatiku
cukuplah
ini cukup untuk membeli cintamu
kutemui engkau dengan hati senang
setitik senyum masih melekat
tapi aku tak punya rayu
membujukmu
menjual cinta padaku
entah kenapa aku sangat ingin membeli cintamu
padahal kau tak mampu membuatku tertawa
Lhokseumawe, 2009
Seiska menggunakan strategi penulisan dengan pendekatan ekonomi dalam puisi ini. Cinta diletakkan dalam perspektif jual-beli. Kata gadai, pegadaian, gadai syariah, naik harga, melambung tinggi, bahkan riba, dipilih sebagai diksi yang membanjiri puisi ini untuk menegaskan posisinya sebagai kaum ‘dhuafa asmara’. Strategi penulisan itu justru membuat puisi ini menjadi terasa begitu obsesif dan sekaligus ringkih pada saat yang sama.
Kenangan, adalah satu-satunya hal yang bisa kita andalkan untuk mengakses masa lalu. Melalui kenangan, momen-momen puitik seringkali tercipta secara organik dalam diri seseorang, entah itu penyair atau bukan penyair. Seperti saat kita melihat sesuatu lalu lantas teringat pada sesuatu yang lain, atau mendengar sesuatu lalu spontan terkenang pada hal yang lain. Dan semuanya hadir dengan cara yang samar dan tak terduga. Mengalami sebuah kejadian di masa lalu dan mengenang kejadian itu di masa kini adalah dua hal yang berbeda. Kenangan selalu datang dalam bentuk yang samar, dalam perasaan yang tak lagi sama seperti saat kita mengalaminya sebagai sebuah pengalaman tubuh.
Terminal
kita pernah bersua di sini
sebagaimana kedatangan dan kepergian
di antara riuh rayuan pedagang
suarasuara mesin bis antar kota
di terminal, peluh dan debar bukan soalan
hasrat
meski jemari terkait erat
mata tak lepas dari bayangan
ini bukan perihal rindu
kita hanya khawatir
terpisah di keramaian
sementara perpisahan belum sempat diucapkan
Jakarta, 2015
Dalam puisi ini Seiska menghadirkan identitas ruang, yaitu terminal, sebagai pintu masuk bagi munculnya kenangan. Terminal tidak lagi dilihat sebagai sebuah ruang transit semata, tapi juga adalah tempat hadirnya kenangan tentang kecemasan sebuah perpisahan yang dikhawatirkan terjadi sebelum waktunya. Deskripsi tentang keramaian para pedagang dan deru suara mesin bus, secara kontradiktif justru semakin menguatkan momen kesunyian dalam puisi ini. Waktu sebagai dokumen beralih menjadi waktu sebagai kenangan. Kenangan yang terlempar, tersingkirkan. Bayangan di sini menjadi penting sebagai perayaan atas kenangan yang terlempar itu untuk keluar dari situasi hampa. Bahasa menjadi satu-satunya media sebagai lubang pertahanan untuk melawan kecemasan. Sebagai tempat kita bisa menyimpan kenangan, kepercayaan, sejarah asal-usul maupun identitas dalam peralihan waktu yang buas. Kenangan mendapatkan ibu kandungnya melalui bahasa, dalam hal ini, puisi.
Puisi menciptakan waktunya sendiri, durasi yang khas, yang berbeda dengan durasi prosa. Waktu pada puisi tidak dilihat sebagai satuan geometri dari bagaimana sesuatu dideskripsikan menjadi alur narasi. Waktu pada puisi merupakan perjalanan “me-nama-i” kenangan dengan mengubahnya menjadi gema dari imaji-imaji. Kata sebagai imaji dalam puisi, bayangannya belum tentu diterima sebagai bayangan yang sama dalam ruang pemaknaan pembaca. Puisi jadi semacam konstruksi yang tidak pernah bisa menjadikan strukturnya sebagai bangunan utuh. Struktur yang batasnya hanya ada antara puisi-yang-ditulis dengan puisi-yang-dibaca. Waktu yang dibawa oleh puisi dan waktu yang dibawa oleh pembaca menghasilkan pertemuan baru dan momen-momen puitik yang kadang tidak terduga. Kejelian Seiska dalam menangkap momen-momen puitik yang terjadi di sekelilingnya, justru banyak saya temui dalam puisi-puisi pendeknya.
Haba I
pada pukat yang menjerat
masih kubaca gelepar ikanikan
mata bulat memerah pasrah
dari asin air laut
terpisah
Lhokseumawe 2017
Dalam puisi itu terlihat bagaimana penyair bekerja dengan kurasi kata yang ketat, pengolahan kalimat yang padat dan diksi yang efektif. Ikan-ikan yang menggelepar dalam jeratan pukat, yang terpisah dari asin air laut, ditangkap Seiska sebagai momen puitik untuk menggambarkan suasana ketercerabutan dari semacam kampung halaman. Ini adalah semacam puisi yang saya kira bisa mewakili siapa pun yang pernah merasa tercerabut atau terbuang dari asal-usulnya sendiri. Ikan-ikan itu, barangkali adalah diri kita sendiri.
Hal lain yang ingin saya sampaikan adalah tentang motif kesunyian dalam puisi-puisi Seiska. Apa yang saya maksud dengan motif di sini adalah, sesuatu yang berulang. Sesuatu yang simptomatik. Menggejala dalam berbagai puisinya. Sebagian besar puisi yang ada di dalam kumpulan puisi ‘Lepas Muasal’ ini berbicara tentang kesunyian. Kata ‘sunyi, sepi, sendiri’ merupakan satu cluster dari apa yang saya maksud sebagai kesunyian.
Ketika Sepi
kueja sepi sebagai rindu
ditusuknya aku berkalikali
duh, takmatimati
maka kucari kau di segala puisi
di tiap liris yang tertulis
di semua warna yang terlukis
gedunggedung tumbuh
kisahkisah menubuh
pohon rubuh
dedaunan luruh
mungkin kau pergi menjelma apapun
namun luka menetap
kenangan mengendap
Medan 2018
Rindu
sebab tak ada sunyi yang mampu memukul bunyi
maka kutulis namamu di sepanjang pantai
sebagai doa yang tak pernah selesai
Lhokseumawe, 2018
Sunyi
Ini sunyi tak punya bunyi
Kosong merambat sampai di ubun
Turun ke dada nyanyikan balada
Tentang senyap
Lesap di tubuh
Lhokseumawe, 2009
Ketiga puisi di atas, saya anggap cukup mewakili sekian banyak puisi dalam ‘Lepas Muasal’ yang berbicara tentang sunyi. Maka pertanyaan saya, ada apakah dengan kesunyian sehingga ia terasa seolah menjadi begitu penting untuk ditulis dalam puisi? Pertanyaan itu kemudian menyeret saya jauh ke masa lalu.
Kita tahu bahwa salah satu tonggak penting dalam sastra modern Indonesia ditandai dengan terbitnya buku puisi ‘Nyanyi Sunyi’ Amir Hamzah. Kenapa itu menjadi sangat penting, karena pada tahun 60-an, ketika Sapardi Joko Damono menerbitkan buku puisi ‘Dukamu Abadi’, buku itu kemudian disebut oleh Goenawan Muhamad sebagai nyanyi sunyi kedua. Dari situ kita bisa melihat betapa pentingnya teks-teks Amir Hamzah ini sebagai semacam penanda dari tonggak-tonggak perkembangan sastra Indonesia, khususnya puisi. Lalu apa yang dimaksud ‘sunyi’ oleh Amir Hamzah dalam puisi ‘Nyanyi Sunyi’ itu? tentu maksudnya adalah kesunyian alam. Bahwa di hadapan alam, atau dalam pengertian tertentu, juga bisa ditafsir di hadapan tuhan, manusia menjadi begitu kecil, sendiri dan tak berdaya. Sebuah suasana yang kemudian menciptakan rasa sunyi. Jadi, upaya untuk mendudukkan perkara kesunyian ke dalam puisi bisa dipahami sebagai peristiwa existensial-relijius. Namun kesunyian yang ditulis oleh Amir Hamzah, sebenarnya bisa ditarik lebih jauh lagi, bukan semata tentang kesunyian makhluk di hadapan alam semesta atau kebesaran tuhan, tapi juga kesunyian dari sebuah negeri yang terjajah. Kesimpulan itu saya ambil setelah saya membaca salah satu teks Amir Hamzah yang dikutip oleh Afrizal Malna dalam buku essaynya ‘Sesuatu Indonesia’
“Setelah runtuhnya kota Malaka dihumbalangkan peluru D’Alfonso, panglima peranggi itu, maka melayanglah semangat kesusasteraan pujangga melayu. Sultan Ahmad mundur ke hulu Moar didatangi peranggi pula. Lari ke Paku, dari Paku menuju Pahang, dari Pahang menyeberang ke Bintan. Tiada boleh bertahan lagi sebagai kijang dihambat harimau. Cerai berailah rakyat melayu lari membawa diri. Menyusuri pantai merenangi sungai. Kian kemari bagai daun diterpa angin. Sunyilah dada anak melayu. Padamlah api syair. Keringlah mata pantun.”
Dari teks itu kita bisa melihat bahwa kesunyian yang dimaksud Amir Hamzah bukan sekedar kesunyian yang bersifat romantika belaka, tapi juga adalah sebuah kesunyian historis. Sebuah kesunyian yang lahir dari cerminan pengalaman penghancuran kebudayaan dan tradisi masyarakat di hadapan kolonialisasi.
Lalu apa yang terjadi setelah segala kehancuran itu? Apa yang bisa kita rasakan? Apa yang terjadi kemudian adalah kesunyian dalam bentuk yang lain. Suatu kesunyian yang dideskripsikan, atau diimplisitkan ada dalam sajak Sitor Situmorang yang berjudul ‘Pulanglah ia si anak hilang”
Si anak hilang kini kembali
Tak seorang dikenalnya lagi
Berapa kali panen sudah
Apa saja telah terjadi?
Seluruh desa bertanya-tanya?
Sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
Ia lebih hendak bertanya.
Selesai makan ketika senja
Ibu menghampiri ingin disapa
Anak memandang ibu bertanya
Ingin tahu dingin Eropa.
Anak diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya
Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira.
Malam tiba ibu tertidur
Bapa sudah lama mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang.
Dari puisi itu terlihat jelas bahwa pengalaman tercerabut dari kampung halaman, terasing di negeri-negeri Eropa, lalu kembali ke Indonesia ternyata hanya untuk menyadari bahwa sesungguhnya ia masih berada di Eropa dan belum benar-benar pulang (pikirannya, benaknya, aspirasinya). Dengan kata lain, puisi ini ingin bercerita tentang pengalaman ketercerabutan historis dan kultural yang dialami oleh Sitor Situmorang justru ketika ia kembali ke kampung halamannya yang ternyata sudah tak bisa ia kenali lagi. Ia telah menjadi orang asing di rumahnya sendiri.
Kesunyian selalu dekat dengan rasa keterasingan, kertecerabutan dari akar dan kehilangan makna. Semacam perasaan ketidak-berumahan atau ketidak-menentuan tentang kemana nasib akan membawa kita. Situasi kesunyian yang seperti itu juga muncul dalam puisi-puisi Chairil Anwar.
Perhitungan
Banyak gores belum terputus saja
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya.
Langit bersih-cerah dan purnama raya …
Sudah itu tempatku tak tentu di mana
Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran.
Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran
Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi …!?
Kini aku meringkih dalam malam sunyi
1943
Secara kultural, motif kesunyian dalam kesusasteraaan Indonesia sesungguhnya berakar pada realitas kolonial, seperti yang tadi disebutkan oleh Amir Hamzah. Pengalaman betapa tidak adanya pondasi yang bisa dirujuk oleh bangsa kita karena akar budaya yang dihancurkan dan dimanipulasi selama masa penjajahan. Hilangnya lanskap kultural telah membuat kita menjadi masyarakat yang kehilangan orientasi karena tidak adanya rujukan yang bisa dijadikan pegangan.
Disadari atau tidak disadari, dimaksudkan atau tidak dimaksudkan, jejak kesunyian kultural itu juga terlihat dalam beberapa puisi Seiska. Setidaknya, begitulah yang saya rasakan sebagai pembaca.
Hikayat Istana
di tanah bertuah
musim semi pernah habis
dibakar matahari
tak ada keriangan pun tersisa
segala rindu menjelma arang
sungaisungai kering hingga ke nadi
luka mendamba masa lalu
di atas panggung
bunga bermekaran
kuning di pinggang
merah muda di dada
melambailambai berlenggang
masa lalu sudah lewat, ucapmu
matahari lahir berulang
angin berdesau membawa sunyi
suara-suara kehilangan bunyi
adakah yang mati dua kali?
wangi kamboja
melayang
di ubunubun
Serdang Bedagai, 2019
Saya kira, tantangan kita dalam membaca motif kesunyian adalah bagaimana kita bisa merespon motif ini dengan kritis. Artinya, karena secara kultural, kesunyian erat kaitannya dengan kolonialisme di Indonesia, maka seharusnya kita tidak menerimanya mentah-mentah sebagai motif keindahan yang steril, tapi juga sebagai sesuatu yang muncul karena ada alasan-alasan historis di dalamnya. Problemnya adalah motif kesunyian ini seringkali diperlakukan secara naif sehingga kita abai terhadap kandungan-kandungan historis yang ada di dalamnya, yang sebetulnya berkaitan dengan tiga setengah abad penjajahan di negara ini. Karena sesungguhnya kesunyian itu bukanlah sebuah barang jadi yang sudah ada di dalam diri kita. Kesunyian adalah sesuatu yang dipaksa masuk oleh sejarah ke dalam tubuh kita. Bahwa kita merasa sunyi, karena kita tidak punya rujukan. Kita merasa sepi karena kita kehilangan alamat rumah kita sendiri.
Sebagai penutup, saya ingin mengutip satu puisi terakhir dari kumpulan puisi ‘Lepas Muasal’.
Ya Kau Benar, Aku Ingin Pulang
ya kau benar
aku ingin pulang ke arah benderang
bukan jelaga tempat kerlip bintangbintang
bukan pula ke arah petang
aku ingin pulang ke arah benderang
tempat cahaya tak berkelang
dan warnawarna tak kenal lekang
Tuhan
Medan, 2015