Oleh: Sartika Sari

Di antara berbagai cara dan medium mengungkapkan perasaan, Titan—penyair Sumatera Utara yang tekun ini—memilih puisi. Tapi jangan berharap kalau kita akan bertemu dengan larik-larik sunyi atau liris pada tiap lembar hunian puisi-puisinya.
Pada usia yang masih sangat muda, Titan yang lahir pada 2 Desember 1999, itu menyimpan banyak ingatan dan masih segar-segarnya melakukan petualangan. Ia gemar mengumpulkan pernak-pernik perasaan orang sekitar dan dirinya sendiri. Dalam proses perjalanan tersebut, ia membentuk dirinya—diri puisi—yang disusun dalam buku ini.
Diri penyair/diri puisi yang kita temukan dalam buku kumpulan puisi ini tersusun dari juntaian benda-benda makrokosmos dan mikrokosmos. Begitu memang, cara penyair hadir dalam kehidupan dan kehidupan yang dihadirkan dalam puisi-puisinya.
Pembaca yang budiman, di tengah hiruk pikuk perpuisian tanah air, membaca puisi Titan dapat menambah energi kita untuk menikmati kegaduhan hidup lewat pertanyaan-pertanyaan esensial yang mungkin kerap terlupakan. Namun, sepenting apakah esensi itu? Apakah setiap hal harus memiliki esensi? Kitakah yang harus mencari esensi? Ataukah memunculkan esensi?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, berkelindan di berbagai tempat dan ruang. Pertanyaan yang sering dinilai penting, tak jarang menjadikan manusia seperti liyan. Titan banyak bergerak pada wilayah ini. Perjalanannya mencari, menemukan, mempertanyakan, dan mencaci maki kenyataan atau bahkan perasaannya sendiri menjadi bacaan yang menyenangkan. Dari puisi-puisinya, kita dapat menertawai ketakutan kita sendiri atas hal-hal yang dianggap harus esensial.
Membaca puisi Titan, seperti sedang melihat jari-jari Sartre mengomentari kehidupan manusia masa kini. Ya, Titan—mungkin juga perpanjang Sartre, sedang menunjukkan kepada pembaca bahwa eksistensi telah mendahului esensi. Ia mendialogkan tubuhnya, perasaannya, dengan berbagai elemen di dunia yang mengganggu dirinya. Tanpa peduli apakah material yang ia susun itu harmonis atau tidak. Maka, dari dialog tersebut, lewat puisi-puisi ini, eksistensi seorang penulis dibentuk, dan terbentuk terus menerus. Makna bukanlah pusat yang dituju.
Puisi bagi Titan, ibarat seonggok tubuh kekar, gemar bertualang di segala musim. Tubuh kekar tersebut—puisi—kerap berlari, berjalan dalam senyap, melompat, lalu menghilang begitu saja, sesuka hati. Karenanya, ia kerap menumpahkan gelisah, rasa takut, juga kesenyapan. Celakalah!
Dengan karakter puisi yang demikian, buku ini berpotensi untuk membantu pembaca, keluar dari kerangkeng perasaan yang belakangan sering diperjualbelikan di berbagai media atau ruang-ruang umum lainnya. Puisi yang terhimpun di dalam buku ini mengajak kita berdialog dengan hal-hal yang absurd. Oleh karenanya, ia menambah daftar karya dalam jagad sastra Indonesia yang berjiwa kuat, berkarakter, dan ambisius.
Perjalanan Rekayasa Semiotika Titan
Ketika membaca puisi-puisi Titan dalam Celakalah, tentu banyak pertanyaan pembaca yang berpotensi muncul dan beranak pinak. Misalnya “Apa maknanya? Kenapa begini? Titan memang begitu nulisnya?
Ya, impresi pertama saya juga demikian. Kemudian pertanyaan-pertanyaan itu yang mendorong saya untuk menyusuri jejak kepenulisan Titan. Saya tidak mengetahui pasti kapan Titan mulai menulis. Saya mengenalnya sejak ia bergabung di Fokus UMSU.
Jika dilacak dari datanya pada PDDIKTI, nama Titan Sadewo tercatat memiliki NIM 1702040044, artinya ia termasuk mahasiswa Angkatan 2017—lima tahun lalu. Atas dasar itu, saya coba menelusuri puisi-puisinya yang dipublikasikan di media massa sejak tahun 2017. Di sejumlah media, saya menemukan puisi-puisi Titan. Namun, temuan saya dimulai tahun 2018. Mari, simak puisi berikut.
DI SEGARA /4/
Badai menerkam kapal berlayar
adakah perjalanan bersarang?
kita belum ingin pulang.
FKIP UMSU / FOKUS UMSU (2018/Harian Analisa)
Tahun 2018, dalam pembacaan saya, puisi-puisi Titan ditulis dengan pola yang cenderung mirip dengan puisi-puisi lain pada zaman itu. Kecenderungan yang dimunculkan yaitu bersifat liris, metaforis, dan terbuka dalam penyampaian puncak “suara” penyair/aku lirik. Puisi “Di Segara” menurut saya, dapat merepresentasikan karya-karya Titan pada masa itu. Kita bergerak ke tahun 2019. Mari, nikmati puisi berikut.
Kemudian Hari
dia mengetuk pintu dan kita
tak peduli siapa yang datang
kecuali tukang pos mengantar
surat kenangan dari anak-cucu
menjadi renta ialah menghitung
uban, usia yang memutih juga
memijat punggung–pegal encok
merajai tubuh kita: perihal tua
membungkuk tanda bahwa kita
telah melawan waktu dan keriput
bukti perjalanan panjang berdua
lewati hari-hari haru membiru
di kalender tak ada tanggal merah
‘tuk menyayangimu dan mengingat
masa muda seperti memutar film
yang tak pernah tayang di bioskop
gramofon melagukan suaramu
khusyuk kudengar sambil baca
kamus besar bahasa kita
dan mencoret kata ajal.
2019 (buruan.co)
Persoalan-persoalan kemanusiaan, mulai dari relasi yang sangat personal hingga relevansinya dengan kehidupan masyarakat sosial kerap diasah dalam puisi-puisi Titan di tahun 2019. Ia semakin berani memperluas jangkauan kepuitisannya dalam berbagai sudut dan bentuk yang imajinatif juga futuristik. Hemat saya, Titan sedang giat-giatnya membangun simulacrum atau dunia imajiner sebagaimana yang pernah disebutkan Jean Baudrillard. Bergeser ke tahun 2020, berikut puisi yang menurut saya dapat mewakili kepenyairan Titan.
Surat Wasiat Amir
aku telah pergi, Kamaliah
jauh, ke tempat tak bernama
jangan cari atau ingat aku
anak itu, ajarkan derita
juga sejarah berdarah
di Langkat
aku dibesar-lenyapkan
tanah ini rumah kita, Kamaliah
meski kecemasan-kebencian selalu ada
namun kau harus ingat satu hal:
dalam kamus besar bahasa kita
termaktub kata maaf
bila anak itu bertanya tentang revolusi
jawablah dengan tenang
ucap tanpa gemetar
tanpa isyarat ketakutan
sesekali kunjungi aku
tanah & nisan menunggu
ajarkan ia fatihah
jangan lupa air mata
juga doa mekar dalam keranjang
dari sini, aku berteriak, Kamaliah
memanggil segala yang mungkin
berharap kau mendengar
tapi hanya kekosongan;
kehampaan.
2020 – titan sadewo (bacapetra.co)
Puisi-puisi Titan yang dipublikasikan pada tahun 2020 didominasi isu peristiwa-peristiwa sejarah. Pergerakan isu yang mencolok dalam puisi-puisi Titan menunjukkan bagaimana perjalanan spiritual penyair. Selain karena bertambah ruang-ruang sosialnya, saya yakin bahwa pemilihan isu yang dilakukan Titan didorong pula oleh ambisi penyair untuk menuntaskan rasa penasarannya terhadap isu-isu yang dinilai berjarak jauh dari keberadaannya. Ya, inilah Titan. Kompas perjalanannya adalah pertanyaan-pertanyaan yang mengusik siang dan malamnya.
Karakteristik serupa, saya temukan dalam puisinya yang terbit di bacapetra.co tahun 2021.
Chairil ke Pulau Seberang
naiklah ke kapal ini, Ril!
kapal yang mengantar Hapsah ke dermaga
kecewa. ke laut kerajaan duka. ke kota yang
melupa sebuah nama. pengembaraan selalu
tergesa-gesa, seperti kesedihan menerkam
tanpa aba. masihkah kau tahan air mata?
naiklah ke kapal ini, Ril!
kau tak memerlukan peta & kompas. sebab
arah adalah darah yang mengucur dari dada
ingatlah Hapsah & bocah itu, seorang yang
tak bisa kau sentuh. serupa luka, membenci
jari, tangan & usaha tuk menyembuhkan
turunlah dari kapal ini, Ril!
kesia-siaan ialah nakhoda yang menuntunmu
nuju ketidakpastian. maukah kau berhenti
umpama musafir kehausan? keringat kau
sakit berabad yang mengalir. kumpulkan
& teguklah tanpa bimbang! sesungguhnya
Hapsah tak pernah sampai padamu.
2021 – titan sadewo (bacapetra.co)
Keberagaman isu yang dimunculkan Titan dalam puisi-puisinya memang tidak se-ringan kapas. Tiap menikmati puisi-puisinya, ada saja pe-er yang ia sisipkan bagi pembaca. Misalnya bagaimana ia sekonyong-konyong menyebut medusa dalam puisi “latent content” dan Kamaliah dalam puisi “Surat Wasiat Amir”. Kemudian, tentu saya pun dikejutkan dengan eksperimen-eksperimen baru yang ia lakukan pada teks-teks lirisnya.
Mayoritas puisi dalam Celakalah ditulis dengan rekayasa ruang dan tanda. Eksperimen tersebut pada akhirnya memberi kesan tersendiri terhadap pemaknaan pembaca terhadap puisi-puisi yang ditulis Titan. Perbedaan mencolok saya temukan pada puisi “Perempuan yang Berlendir” sebagai berikut.
Perempuan yang Berlendir
—Oka Rusmini
kotak itu, jangan kau buka lagi
sebab
kesedihan menembak berkali-kali
suaranya burung paruh sepatu berbicara
di sini, perempuan itu telah merampas segala
yang kupunya: mata bernanah, mulut berbuih & dada
berdarah. perlahan, aku ingin membukanya. Oka, jangan
sebab
ketidakmampuanku menerima hadiah darinya: segelas liur komodo
& sepiring daging rangkong. dialah yang menghapus namamu dari
kamus besar bahasa kehancuran.
ketika gunungmu muntah,
hutanmu menjerit & lautmu berteriak!
sungguh
segalanya telah musnah, Oka.
bahkan setelah kotak itu kau buka,
dendam muncrat tiba-tiba.
2021
Puisi “Perempuan yang Berlendir” telah diterbitkan tahun 2021 di bacapetra.co. Puisi yang ditujukan kepada novelis Oka Rusmini tersebut merepresentasikan relasi aku lirik dan perempuan yang dituturkan berpengaruh besar dalam menciptakan kehancuran. Puisi tersebut ditulis dengan bentuk yang konvensional. Meski bersifat naratif, Titan tetap berupaya membangun sekat-sekat rasa dan makna melalui pemenggalan kata pada tiap larik. Seperti membaca puisi yang lain, puisi “Perempuan yang Berlendir” menyisahkan kesan yang padu, sebagai sebuah puisi utuh yang mengirim makna ke pembaca tanpa misteri besar.
Betapa terkejutnya saya, ketika mendapati puisi “Perempuan yang Berlendir” ternyata juga dijadikan puisi dalam buku Celakalah, dan telah diproduksi ulang dengan rekayasa semiotika ruang yang baru.

Puisi “Perempuan yang Berlendir” dalam Celakalah telah meniadakan sosok Oka yang dalam bacapetra menjadi orang kedua dan berdialog dengan aku lirik. Perbedaan selanjutnya ada pada larik 1 dan 3. Penyair membangun jarak antarkata. Jarak tersebut, menurut saya, berhasil menciptakan ruang jeda atau ruang reduplikasi atau ruang penajaman makna kata sebelumnya. Sebagai pembaca, saya merasakan bagaimana desain tersebut berpengaruh terhadap kesan kedalaman makna yang saya terima.
Selain itu, Titan juga menghidupkan kekuatan-kelemahan energi kata dengan memperbesar ukuran, menebal-tipiskan bentuk huruf. Rekayasa tersebut, hemat saya, bekerja dengan baik.
Karakter puisi dengan sibuk dengan tipografi setidaknya semakin mencuat saat “Tragedi Winka dan Sihka” ramai diperdebatkan. Pada masa itu, tipografi dinilai menjadi kekuatan tersendiri bagi sebuah puisi. Di luar asumsi itu, dalam pembacaan saya, puisi-puisi Titan yang juga diseragamkan secara sadar menggunakan rumus “jarak-tebal-miring-garis” adalah sebuah rekayasa semiotika yang menarik, tapi juga perlu diwaspadai.
Misalnya dalam larik;
ketidakmampuanku menerima hadiah darinya: segelas liur komodo
& sepiring daging rangkong. dialah yang menghapus namamu dari
kamus besar bahasa kehancuran.
Tanda garis yang ada pada kata dialah yang telah mengubah makna secara besar-besaran. Ketika diterbitkan pada lama bacapetra.co, tanpa tanda garis pada kata dialah yang membentuk makna bahwa sosok perempuan yang berlendir-lah yang berperan menghapus namamu dari kamus besar bahasa kehancuran. “Perempuan” sebagai pelaku aktif dalam tiap fase yang dituturkan aku lirik. Namun dengan tanda garis pada dialah yang meniadakan sosok perempuan yang berlendir beserta tindakannya. Alhasil, yang muncul sebagai penghapus namamu adalah justru ketidakmampuan aku lirik.
Rekayasa yang dilakukan Titan memang telah berhasil menimbul-lemahkan kekuatan sebuah kata dalam puisi-puisinya. Strategi tersebut sekaligus menciptakan alternatif-alternatif pembacaan yang baru bagi pembaca.
Kendati demikian, berkaca dari temuan dalam puisi Perempuan yang Berlendir tersebut, agaknya penyair perlu menyediakan ruang kontemplasi yang lebih panjang, meski untuk sekadar memastikan pilihannya dalam menggaris-tidakkan sebuah kata pada puisi-puisi yang telah lebih dulu menemui pembacanya secara konvensional. Sebab tentu, perubahan makna yang dalam waktu singkat dibedakan tersebut sangat mengusik kehidupan puisi di hati pembacanya masing-masing.
Begitupun, paparan ini hanyalah hasil pembacaan dari saya—satu pembaca. Perolehan makna pada tiap pembaca akan berbeda. Bagi pembaca yang menyenangi keharmonisan, buku ini direkomendasikan bagi Anda. Lihatlah, bahwa harmoni ada dalam lorong yang luas, bermacam, dan (mungkin) sering di-gelap-kan.
Titan telah menyajikan menu puisi yang cocok bagi para pembaca yang ingin mencicipi dunia tanpa histori. Maka, mari hayati dengan cara sendiri-sendiri. Lepaskan histori yang menempel di sudut mana pun. Mulainya memaknai lagi, mulai dari sebuah ahistori!
Disampaikan dalam kegiatan Ngobrol Buku pada 23 Desember 2022