Mengait-nguatkan Bahasa dengan Aljabar

Oleh: Muhammad Badzlan Darari*

Sembilan tahun sudah saya mengenal sosok Hasan Al Banna. Saya dan Hasan berasal dari almamater universitas yang sama, tetapi saya dan Hasan menggeluti keilmuan yang berbeda dan menekuni dunia pekerjaan yang bertolak belakang. Saya berkubang angka-angka (akademisi matematika), sedangkan Hasan berladang kata-kata.

Kualitas kedekatan kami terjalin melalui percakapan santai sambil menikmati varian kopi, hampir setiap hari. Perdebatan, argumentasi, dan pertukaran pikiran dalam segala bidang kehidupan kami tunaikan saban kami bertemu santai ngopi. Terkadang, bagi saya percakapan santai tersebut menjadi moda healing dari penatnya aktivitas keprofesian yang saya jalani. Oleh karena itu, perbincangan dengan Hasan sembari ditemani secangkir kopi, cukuplah bagi saya untuk menyegarkan pikiran dan mengembalikan tujuan hidup saya.

Namun, saya tidak dapat memastikan: apakah pikiran saya tetap segar atau malah berdenyar ketika Hasan menodong wawasan perspektif saya terhadap buku puisinya yang berjudul Jenis-genius Hujan. Saya hanya bisa memastikan bahwa saya tidak dapat menolak todongan Hasan, sekalipun saya gamang memulai dari titik yang mana.

Kendati demikian, baiklah. Pertama-tama saya ingin mencoba menempatkan karya Hasan sebagai karya ilmiah, terutama dari sisi kebermanfaatan. Saya berpendapat bahwa kebermanfaatan karya ilmiah pada kehidupan lebih bermakna daripada jumlah sitasinya. Sesungguhnya kalimat tersebut merupakan nasihat bagi saya sendiri! Ya, karena saya berpikir bahwa penelitian dan publikasi menjadi salah satu tuntutan profesi saya.

Dari segi kebermanfaatan, karya sastra Hasan adalah sebuah karya ilmiah karena saya telah lama merasakan kebermanfaatannya bagi kehidupan pribadi saya, setidaknya sejak tahun 2015. Buku cerpen Hasan berjudul Malim Pesong, misalnya berisi pandangannya tentang kehidupan yang acap terlontar dalam percakapan-percakapan santai kami pada sejumlah kesempatan ngopi. Unek-uneknya tentang penggunaan bahasa sehari-hari pada sesi percakapan santai kami lainnya, saya temukan secara acak dalam buku puisinya Kopi dan Kepo.

Nah kali ini, percakapannya dengan Sang Pencipta—berupa doa dan harapan (kritik) yang bercampur-aduk, yang juga berselang-seling di antara percakapan santai kami, saya temukan dalam buku puisi Jenis-genius Hujan ini. Menurut saya, karya Hasan yang telah saya baca dihasilkan dari pengalaman (empirical) dan olah pikir yang tajam (reasoning) serta telah melalui tahap diskusi dengan khalayak untuk merampungkan keutuhan pandangan (dissemination) Hasan. Andai saja ada tahap pengkajian literatur, maka karya sastra tersebut layak menjadi karya ilmiah. Atau jangan-jangan, kajian literatur diam-diam sudah menyusup atau bahkan lebur dalam karya Hasan?

Ah, saya pada akhirnya tidak tertarik menjawabnya. Saya kemudian lebih tertarik merenungi kata ulang ‘jangan-jangan’ dan ‘diam-diam’ yang terkandung dalam pertanyaan saya. Saya mematut-matut pikiran: kata ‘jangan’ mengalami pergeseran arti setelah diulang menjadi ‘jangan-jangan’. Begitu juga dengan kata ‘diam’ saat sendiri tidak bermakna sepersis dengan ‘diam-diam’.

Dalam buku Jenis-genius Hujan ini saya banyak menemukan (semacam) kata ulang. Mengapa saya katakan ‘semacam’? Saya tidak bernyali memastikannya sebagai kata ulang. Namun setidaknya, secara bentuk berwujud kata ulang. Saya tetap tidak memiliki keberanian sekalipun sedikit banyaknya saya paham beberapa jenis kata ulang, termasuk kata ulang berubah bunyi. Namun saya menemukan keganjilan yang tersebar dalam puisi-puisi Hasan. Keganjilan kata ulang! Perkenankan saya kemudian menyebutnya dengan istilah kata ulang modifikasi.

Setidaknya saya menemukan 60-an kata ulang modifikasi dalam buku Jenis-genius Hujan ini. Bantu saya menyimaknya secara saksama: ‘tergula-gila’, ‘terwaras-warak’, ‘⁠berselisik-bisik’, ‘⁠bercuap-cakap’, ‘⁠rupa-rapinya’, ‘⁠jenis-genius’, ‘⁠tubuh-tumbuhan’, ‘⁠mondar-mundur’, ‘⁠melingkar-ingkar’, ‘bersempil-sempit’, ‘⁠berembuk-rombak’, ‘⁠corak-carik’, ‘⁠surat-sirat’, ‘⁠jalar-jalur’, ‘⁠iseng-asing’, ‘sesuap-sayup’, ‘seluas-puas’, ‘⁠mengata-ngatahi’, ‘⁠mencerca-caci’, ‘⁠menuding-miring’, ‘⁠mengutak-kutuk’, ‘⁠menyeru-gerung’, ‘⁠rekah-redam’, ‘kesah-kisah’, ‘⁠bara-buru’, ‘⁠riak-teriak’, ‘kumat-kamit’, ‘⁠kira-kura’, ‘terka-teki’, ‘⁠mengaku-angkuh’, ‘buat-buatkan’, ‘⁠berpundak-undak’, ‘⁠lampai-melambai’, ‘⁠sekap-mendekap’, ‘⁠gorong-royong’, ‘⁠pohon-bohongan’, ‘⁠hujan-ujian’, ‘laga-lagu’, ‘tenang-benderang’, ‘terkunang-kenang’, ‘⁠terantuk-angguk’, ‘menggulung-gelengkannya’, ‘⁠terkantuk-antuk’, ‘⁠bergoyah-goyang’, ‘⁠kempis-kembang’, ‘⁠pawai-dawai’, ‘⁠lurik-larik’, ‘⁠desah-desih’, ‘⁠awan-awang, ‘⁠awang-awan’, ⁠’baja-biji’, ‘kias-kuis’, ‘⁠selingan-ringan’, ‘⁠selebat-kelebat’, ‘⁠sepekat-pikat’, ‘⁠abu-aba’, ‘⁠tunggang-lenggang’, ‘⁠tuba-tiba’, ‘⁠biru-buru’, ‘⁠suka-siku’, ‘⁠berbuah-ubah’, ‘⁠bersinggah-sanggah’, ‘⁠sayap-sayup’, ‘⁠dian-daun’, ‘⁠berdesis-desus’, ‘⁠hitung-untung’, ‘⁠mengutang-hitung’, ‘⁠ada-aduh’, ‘⁠sayu-mayur’, ‘⁠kutu-kata’, ‘⁠dupa-doa’, ‘⁠terbata-buta’, ‘⁠pecinta-minta’, ‘⁠berlomba-loba’, dan ‘⁠asas-ususnya’.

Apakah sekalian pembaca menemukan yang lain? Silakan melengkapi hasil amatan saya sambil menikmati varian kisah hujan olahan Hasan. Sembari itu, izinkan pula saya memaparkan hasil sorot pandang pikiran saya terhadap hasil modifikasi kata ulang bikinan Hasan.

Begini, saya menemukan Hasan memodifikasi setiap kata ulang dengan mengganti satu atau dua huruf pada kata tersebut, baik pada kata bagian pertama ataupun bagian kedua. Modifikasi kata ulang tersebut tidak mengubah peran kata, tetapi mengubah makna dalam konteksnya, entah menjadi lebih luas atau lebih sempit. Perluasan dan penyempitan makna kata ulang modifikasi tidak bergantung pada huruf apa yang diganti ataupun kata bagian mana yang diganti. Kata ulang-kata ulang modifikasi tersebut memiliki peran yang tetap pada lirik-lirik puisi Hasan. Bahkan menurut saya, pembaca boleh jadi menangkap hal lain yang secara otomatis malah memperkaya maksud penyair.

Dalam kajian matematika, mengganti (substitusi) sebuah huruf (variabel) pada bentuk aljabar tidak mengubah strukturnya, tetapi mengubah nilainya jika variabel tersebut diberi sebuah besaran dari bilangan real. Kemungkinan perubahan nilai semakin besar atau semakin kecil tidak hanya bergantung pada perubahan variabel, tetapi juga memperhatikan operasi yang terlibat pada struktur aljbar tersebut. Sebagai contoh, ketika bentuk x2 + x diberi nilai x = 2 maka bentuk aljabar bernilai  6, sedangkan jika kita beri nilai x yang lebih kecil dari 2, yaitu x = 1 maka imbasnya bentuk aljabar mengalami penurunan nilai menjadi 2.

Nah, lain cerita jika kita beri nilai x lebih kecil lagi yaitu x = -3, maka bentuk aljabar mengalami peningkatan nilai kembali menjadi 6. Bagaimana jika kita beri nilai x = -5; apakah nilai bentuk aljabar akan kembali turun atau semakin meningkat?

Nah, boleh tidak jika saya menyatakan ada kemiripan konsep antara modifikasi kata ulang pada buku ini dengan modifikasi struktur aljabar pada ranah ilmu matematika? Jika memang ada, apakah hubungan tersebut bersifat ilmiah?

Menjawab pertanyaan tersebut, menurut saya sama rumitnya dengan menganalisis pernyataan kolega atau teman saat hujan yang turun menunda kepulangannya dari kantor. Kolega atau teman saya tersebut acap berucap: “…sedang menunggu hujan”. Pikiran saya menjadi usil: bukankah yang ditunggu adalah redanya hujan? Bukankah hujan sedang dalam keadaan turun dan percuma jika ditunggu lagi?

Nah, di ruang pemikiran yang lain, Hasan malah benar-benar menunggu turunnya hujan agar dapat menuliskan puisi tentang hujan serta ‘rupa-rapi’ sikap manusia dalam merespons hujan. Bagi saya pribadi, pada beberapa bagian; isi buku ini mengandung sindiran bagi siapa pun yang sesuai anjuran agama meyakini bahwa hujan adalah rezeki dan rahmat, tetapi mengapa malah mempertontonkan perilaku sebaliknya?

Demikianlah. Silakan menikmati buku Jenis-genius Hujan ini dengan cara pandang masing-masing pembaca. Paling remis menurut saya, pembaca akan dibawa menelusuri sekaligus memahami perasaan hujan. Bagaimana misalnya perasaan hujan terhadap orang-orang yang mencintainya secara tulus, terhadap orang-orang yang mencintainya secara dusta, dan terhadap orang-orang yang benar-benar membencinya? Bagaimana kira-kira pandangan hujan terhadap unsur alam lainnya, seperti angin, awan, dan tanah? Seusai membaca deretan karya Hasan dalam buku ini, saya pribadi bertanya: bagaimana jika hujan itu adalah saya?

Medan, September 2024

*Dosen Matematika di Universitas Negeri Medan

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.