Saya, Waktu, dan Kamu

Sartika Sari

Suatu ketika, petang menjelang, merdu lafal Quran mulai menggenang di udara. Saya pamit kepada panitia penyelenggara lomba untuk pulang lebih awal. Namun, tiba-tiba salah seorang dewan juri nyeletuk, “Sartika yang sekarang bukanlah Sartika yang dulu.” Saya terhenyak. Meski diiringi cengiran, bagi saya kata-kata itu penting dipikirkan.

Dua tahun lalu, delapan puluh persen waktu saya dinikmati di luar rumah. Terutama untuk mengikuti kegiatan-kegiatan kepenulisan. Saya senang, ya tentu. Kebebasan bernegosiasi dengan waktu pulang adalah kemerdekaan yang tak terdefinisikan bagi saya. Tapi, itu dulu. Kesenangan bagi saya, yang ternyata diingat dengan baik juga oleh rekan-rekan di sekeliling saya.

Seperti arus air, waktu berjalan terus. Saya pun demikian. Di usia 27 tahun saya menikah. Sebuah gerbang yang banyak dibahas Beauvoir dan banyak tokoh lain. Saya sendiri juga mengantongi sebuah mitos, setelah menikah, banyak perempuan penulis yang ‘hilang’. Saya berusaha mengejawantahkan mitos tersebut ketika mengamati semua rekan perempuan penulis yang sudah menikah dan cukup lama tak berkegiatan di ruang-ruang publik untuk membicarakan sastra atau lainnya. Setelah mencari tahu, saya pun tidak bergeser dari asumsi awal. Apakah saya juga akan demikian?

Sebelum sepakat menikah, saya dan calon suami saya berdiskusi dengan baik tentang konstruksi relasi suami istri yang akan dibangun. Namun tidak mudah membersihkan diri saya dari mitos-mitos yang terlanjur menempel. Maka tidak heran, setiap perubahan kecil yang saya lakukan kerap saya pertalikan dengan pengetahuan saya sebelumnya. Sebatas itu, saya tidak melibatkan kesadaran sepenuh hati. Kondisi tersebut membuat segala perdebatan beranak di kepala saya. Tak jarang, saya menghantui diri sendiri dengan berbagai syak wasangka.

Namun suatu waktu, saya pernah berhenti. Lalu menghentikan juga demonstrasi di kepala saya. Saya berusaha mengkaji kembali apa apa yang baru saya lakukan. Mengisi akhir minggu dengan suami, misalnya. Mulanya pilihan itu berat, asiknya tentu berkelana seorang diri. Sekali, dua kali, sampai beberapa kali saya coba untuk bernegosiasi dengan diri saya, sampai akhirnya sekarang saya memiliki alasan tersendiri dengan pilihan saya. Sebuah pilihan yang sama sekali tidak menekan diri saya.

Dari satu hal ke hal lain, perubahan itu saya nikmati. Daftar kegiatan menarik yang saya lakukan juga berubah. Di fase baru ini, segala urusan kecil mencuri perhatian. Meski tentu, ia berasal dan bermuara dari hulu dan hilir yang berbeda. Bagi saya, domestik-publik punya kedudukan yang sama penting. Saya yang dulu dominan di ruang publik, kini punya ketertarikan tinggi ke ruang domestik. Sebuah perasaan yang ambigu, tidak dapat saya defenisikan dengan satu kalimat panjang sekalipun. Sebab akan tumpang tindih, salip menyalip, atau saling membelakangi.

Kalau Beauvoir pernah bilang bahwa pernikahan ibarat institusi yang memaksa perempuan masuk dalam kewajiban dan rutinitas, saya merasakan itu. Menariknya, kata ‘memaksa’ punya keberagaman sudut tafsir. Saya juga terpaksa, dipaksa oleh keinginan dan kegembiraan saya untuk menikmati relasi dengan suami saya.

Rasa itu berulang terus, setelah punya anak, kegembiraan itu bertambah. Lambat laun, ternyata waktu saya justru sebagian besar berlalu dengan rutinitas di dalam rumah dan pekerjaan. Ruang bebas yang dulu saya geluti bergeser ke dalam bentuk lain yang juga membebaskan hasrat saya.

Saya yang sekarang adalah saya dengan ideologi baru. Pengamatan ‘kamu’, sekaligus menyadarkan saya tentang sebuah mitos yang dulu saya piara. Bedanya, sekarang saya punya jawaban sendiri atas pertanyaan-pertanyaan itu, dan, berbeda dengan dugaan-dugaan publik tentang pernikahan yang mengerikan bagi penulis perempuan. Bahwa “bergeser” atau “berubah” tidak berarti “menghilang”. Setelah menikah, pemanfaatan waktu sangat variatif, maka belum tentu itu berarti kematian seorang penulis perempuan. Cheers!

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 pemikiran di “Saya, Waktu, dan Kamu”