CERPEN
Oleh: Alda Muhsi

Kita kembali dipertemukan oleh nasib. Entah nasib baik atau buruk aku masih sulit menerjemahkannya. Di restoran cepat saji yang ramai oleh anak-anak aku melihatmu menuju wastafel. Sambil mencuci tangan kau mengamati wajahmu lewat pantulan cermin. Wajah itu masih sama indahnya, bahkan keindahan yang terpampang semakin matang, bagai buah ranum, harum. Tapi aku tidak berani mendekatimu, apalagi harus bersisian. Kukira baru kali ini aku miliki rasa enggan untuk menghampirimu. Apa sebabnya? Kupikir kau bisa menerkanya. Apakah kau sempat melihatku kala itu? Aku juga tidak tahu. Yang kutahu garis-garis di dahimu semakin bertambah. Gembung di kelopak matamu semakin merah, seperti ruam pada bayi akibat popok yang sudah lama tidak diganti.
Aku bisa memulihkanmu – seperti tekad dan janjiku dulu – andai kau mau, tapi kau harus banyak belajar membangun benteng yang kokoh agar tak goyah. Sebab kita tidak boleh jauh melangkah. Seperti dokter dan pasien, hanya ada sedikit waktu untuk bertemu, hanya ada beberapa sesi untuk diskusi, dan kemudian ada obat penenang, bukan obat penyayang. Kita bukan keledai yang mesti jatuh di lubang yang itu-itu juga. Walaupun mesti kita akui siapa yang tidak menjadi bodoh atas nama cinta? Artinya keledai yang jatuh di lubang yang sama itu karena sangat mencintai perjalanannya? Bisa jadi. Eh, tapi yang lebih berarti bersama siapa ia melakukan perjalanan itu. Barangkali ia sengaja menjatuhkan diri supaya punya waktu lebih panjang untuk kebersamaan? Supaya ada yang membangkitkan dan menyemangati?
Di restoran cepat saji yang salah satu ruangannya dipakai untuk acara ulang tahun anak-anak itu, kita berada di sana. Bisa saja kucegat kau selepas membasuh tangan di wastafel, tapi aku tidak melakukannya. Aku masih belum punya kata-kata yang tepat untuk kuutarakan. Begitulah pertemuan tanpa janji dan rencana, mulut harus dikunci supaya tidak nyerocos seenaknya hingga melanggar batas. Oh ya, omong-omong soal ulang tahun, beberapa hari lalu kau baru merayakannya, kan? Aku tahu, walau tak pernah ingat. Apa kau menanti ucapan dariku? Ucapan yang selalu kuawali dengan sajak-sajak indah perihal mata dan dagumu yang terbelah? Aduh, kalau iya aku sangat menyesal telah membiarkan penantianmu sia-sia belaka. Tapi bukankah yang paling penting adalah doa untuk kebahagiaanmu? Apa lagi doa yang diam-diam dimintakan tanpa tahu orang yang didoakan.
Sudah tiga menit kau di wastafel yang membiaskan wajahmu itu. Cukup lama untuk ukuran cuci tangan orang normal, tapi waktu yang wajar untuk orang yang berusaha meluruhkan puluhan kisah. Setelah membilas tanganmu yang bersabun kau bergeser tiga langkah ke kiri untuk mengeringkannya dengan mesin. Kemudian kau kembali ke tempat dudukmu. Selanjutnya giliran aku menuju wastafel. Sambil menyiram tangan melalui air di keran – menyeka sela-sela jari – aku menaikkan pandangan, melihat apa yang ada di hadapanku. Kurasa keputusanku untuk tidak menemuimu adalah hal yang benar. Sebab di sana, sejajar mataku kulihat kau bersandar di bahu seseorang yang dulu kau sumpah-serapahi. Selekas itukah kau berbalik arah? Katamu benar, kau mengalami perubahan besar. Hanya aku saja yang tidak pernah hadir dalam setiap perubahan itu. Ah, pemandangan itu tidak hanya menyakitkan mataku, lebih-lebih membakar harapan di dadaku yang ingin membahagiakanmu. Inikah waktu yang tepat mengucap selamat tinggal? Melepas segala yang masih terikat?
Aku selesai mencuci tangan. Ketika sampai di rumah barangkali aku harus segera mandi.
Medan, 7 Agustus 2022