Ada Pejabat yang Cinta Buku

Cerita dari Lapak Buku episode 5

Oleh: Alda Muhsi

Ada pejabat yang cinta buku. Judul tulisan ini bisa menjadi pertanyaan kepada khalayak luas. Tapi bagi kami ini adalah sebuah pernyataan. Di tengah masalah-masalah pejabat yang berkaitan dengan perbukuan yang membuat kita ternganga, setidaknya kami bertemu dengan salah seorang pejabat yang cinta buku.

Sejak wapres menyatakan dengan lantang bahwa ia tak baca buku, tentu saja ada sedikit getaran di etalase-etalase kami. Ibarat getaran mistar gawang tertembak bola sepakan keras Cristiano Ronaldo atau Zlatan Ibrahimovic. Getaran itu sampai pula pada jantung kami. Bagaimana bila pernyataan itu mempengaruhi banyak orang, dan yang enggan membaca buku semakin kehilangan daya tarik untuk membaca?

Kemudian ada seorang pejabat di salah satu perguruan tinggi di Medan meminta kami untuk tidak lagi mencetak buku karena pembaca buku sudah tidak ada. Ia sebut kami harus move on. Sungguh pernyataan konyol dari seorang direktur politeknik di hadapan wakil menteri (saat itu kami ikut terlibat diskusi santai dengan wakil menteri ekonomi kreatif di Medan). Entahlah beliau bergelar doktor atau profesor, untung saja kami tidak tahu pasti.

Tapi biarlah persoalan itu menjadi tanggung jawab negara. Ibarat bayi yang makan berselemak, ada ibu atau pembantu yang mengelap/membersihkannya. Atau tuna wisma yang menumpang buang air di toilet musala tanpa membersihkannya langsung kabur, sebab ada marbot yang akan menyucikannya.

Pembaca buku akan tetap membaca buku walau dunia runtuh, orang-orang memandang sinis, dianggap aneh, dan semakin terpinggirkan.

Baru-baru ini, ketika kami dan tim Ngobrol Buku menggelar kegiatan diskusi 100 tahun Sitor Situmorang di Kede Buku Obelia, tanpa janji dan persiapan, tiba-tiba seorang petinggi, mantan bupati salah satu daerah di Sumut hadir. Ia memborong buku-buku di rak kami. Ia mengaku senang membaca prosa, dan meminta kami merekomendasikan buku cerpen penulis lokal Sumatera Utara.

“Setiap datang ke satu daerah yang ada toko bukunya, saya akan mencari buku-buku karangan penulis lokal,” ungkapnya dengan ringan sembari membawa setumpuk buku belanjaan.

Ah, ternyata ada juga pejabat yang senang baca sastra, cinta buku, dan mengapresiasi penulis-penulis lokal. Kehadiran sosok itu seakan melupakan persoalan dua pejabat yang mengucilkan buku sebelumnya.

Berkaitan dengan Sitor, ia berharap ada situs budaya dan sejarah yang bisa dijadikan destinasi wisata di kampung Sitor, yang di dalamnya bisa diisi salah satunya toko buku yang mengoleksi buku-buku Sitor dan penulis lokal lainnya.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.