
Sehimpun Puisi
Setungkul Benang
Penulis:
Ubai Dillah Al Anshori
Halaman: xii+79 hlm.
Ukuran: 14.5×21 cm
Sampul: Soft Cover
ISBN: 978-602-50947-9-8
Tahun Terbit: Maret 2018
Mengindera Sekitar Rumah untuk Pergi Menjelajah
Oleh: Dedi Tri Riyadi
Dalam membaca puisi-puisi karya Ubai Dillah Al Anshori hal yang pertama terlihat adalah betapa penyair ini kerap menggunakan penginderaan, baik mata atau telinga, dalam menulis. Perihal yang diindera itulah yang kemudian menjadi hal yang tertulis dalam puisi-puisinya.
Jika dikaitkan dengan bagaimana penyair membuat judul bagi puisinya bisa dianggap bahwa isi yang detail dan mudah ditransfer karena menjadi sesuatu yang inderawi itulah kekuatan untuk menjelaskan judulnya.
Sebagai sebuah kumpulan puisi, 70 buah puisi dalam buku ini tidak dipisah-pisah berdasarkan tema per puisi, melainkan dikumpulkan begitu saja. Namun jika ditarik garis besarnya, ada tertangkap upaya keluar dari lingkungan keseharian yang kental meskipun justru dengan menampilkan apa yang ada di sekitar rumah (lingkungan ekologis, sosial) dari penyair itu.
Mantra Kampung, misalnya, puisi itu secara gamblang “meminta” bersitahan antara masa lalu, ruang lingkup penyair, sampai pada masa depannya. Begitu juga dengan puisi Terkenang Rumah yang mencoba menautkan kenangan tentang masa kecil, keluarga, rumah, dengan rasa rindu untuk pulang. Inilah upaya bagi Ubai Dillah Al Anshori untuk keluar dari lingkungannya dengan cara membawa lingkungannya itu dalam kembaranya.
Yang terjadi ketika melakukan kembara tentulah akan timbul rasa rindu. Kata “rindu” tertuang 50 kali dalam 70 puisi yang dihidang. Ini menunjukkan pergulatan batin dari penyair adalah selalu untuk kembali atau bertemu dengan yang ia cintai. Rindu yang selalu berikat dengan panjangnya jarak yang terjadi itu. Rindu adalah cara untuk melipat jarak, seperti tercantum dalam puisi berjudul “Melipat Jarak dalam Jejak” agar hilang segala murung.
Namun tidak semua kemurungan atau kesedihan yang terjadi dalam puisi-puisi dalam buku ini berasal atau timbul dari rasa rindu. Ada pula beberapa puisi bertema sosial dengan mengangkat kepedihan nelayan (Kampung Laut) atau kesedihan orang-orang yang tertimpa musibah (Langit Pecah di Mata Mereka), banjir (Episode Banjir). Dan memang sudah seharusnya jika penyair bersuara bagi kepentingan masyarakat utamanya masyarakat yang ada dalam jangkauan pandangannya atau jelajahnya. Seperti Rudyard Kipling menulis tentang Burma atau Myanmar ketika ia bertugas di sana.
Sempat pula dalam 2 buah puisi, disuguhkan pelipur atau media antara berupa kopi. Tanaman ini memang kental dengan Pematang Siantar, atau Sumatera Utara secara umum. Ini pula yang juga bisa dikesan dan diindera dari ruang lingkup penyairnya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa perkenalan pembaca dengan penyair akan terjadi pada rumah si penyair, karena itulah yang penyairnya bawa dalam kembaranya. Kesimpulan ini tampak jelas pada puisi yang berjudul, “Sudah Lama Aku Menuju Halaman,” yang bait pertamanya begini;
sudah lama aku menuju halaman, belajar mengarungi sekitar
tanpa pernah bertengkar dengan pepohonan yang
daunnya selalu gugur
Ya. Begitulah Ubai menjelaskan posisinya dalam ke 70 puisi-puisinya. Ia tidak ingin memperkenalkan diri sebagai penjelajah dunia, yang bisa mengantar pembaca pada negeri-negeri yang belum pernah ia diami. Si Penyair justru ingin menarik pembaca masuk pada dunianya. Dunia yang diakrabi penyairnya sejak kanak.
Tidak ada yang salah dengan posisi seperti itu. Di saat teknologi mengarahkan kita dekat dengan hal-hal yang jauh, posisi yang diambil Ubai Dillah Al Anshori justru terlihat menarik. Ia seolah menjadi seseorang yang gemar selfie untuk memperkenalkan rumah dan kampungnya kepada dunia lewat puisi-puisinya. Hanya saja, jika ini dianggap sebuah kelemahan meskipun bisa saja dugaan saya salah adalah, spot-spot yang penyair tunjukkan kepada dunia terasa kurang instagramable. Daun yang gugur di puisinya masih general, bukan daun yang berasal dari vegetasi unik yang tumbuh di Pematang Siantar. Demikian dengan kopi, bumbu penyedap rasa, burung dan lain-lain. Meskipun memang ada beberapa hal yang sangat local seperti Tugu Becak, Balai Bolon, Sungai Kampar, dan lainnya.
Inilah 70 buah puisi karya Ubai Dillah Al Anshori, dengan kelebihan dan kekurangannya. Seperti dituliskan dalam puisi “Setelah Pertemuan” yang ada setelah sebuah pertemuan bisa jadi ingatan yang disimpan dalam tubuh yang rapuh, atau akan tumbuh sebuah rindu, namun rindu yang ragu.
Jakarta, Maret 2017