Ingin Dipanggil Sastrawan

Oleh: Alda Muhsi

Tulisan yang singkat ini hanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang saya harap handai tolan, para orang tua, cerdik pandai, dan semua pembaca bisa menjawabnya agar saya mendapat pencerahan.

Baiklah, pertanyaan pertama yang menjadi intinya saya mulai:

kenapa seseorang ingin dipanggil dengan gelar sastrawan?

Saya sedikit yakin, bagi siapa saja yang membaca ini akan meremehkan saya sebagai pemberi pertanyaan. Membesarkan diri sendiri dengan mengecilkan pertanyaan yang saya anggap besar dan sangat penting.

Jikalau dugaan saya itu benar, maka saya akan katakan, “Hai, siapa pun Anda, cobalah jawab pertanyaan saya dengan kebenaran yang konvensional dan bisa diterima akal!”

Dari pertanyaan yang saya ajukan itu tentu bisa timbul pertanyaan lain, yang menjadi pertanyaan kedua:

kenapa saya harus mempertanyakan itu?

Inilah yang menarik, yang bisa saya jadikan sebagai pembelaan diri. Sebenarnya cukup sederhana, saya hanya merasa gerah dengan gelar sastrawan itu sendiri apalagi sosok yang membangga-banggakan diri layak dipanggil dengan gelar sastrawan itu cuma punya buku dengan sistem cetak mandiri 5 sampai 10 eksemplar, baik solo maupun antologi, karya lain yang bisa dihitung jari terbit di koran lokal yang dibaca oleh koleganya saja, itu pun karyanya cacat ejaan (ejaannya luar biasa berantakan), dan karyanya itu tidak bisa memengaruhi kehidupan orang banyak. Kalau begitu layakkah orang itu dipanggil dengan gelar sastrawan?

Atau saya terlalu tinggi mengkategorikan sesiapa yang pantas mendapat gelar sastrawan?

Pertanyaan kedua rupanya melahirkan pertanyaan ketiga dan keempat. Untuk melengkapi tulisan ini baiklah akan saya tuang pertanyaan kelima:

dipanggil dengan gelar sastrawan adakah keuntungannya? Dan apabila tidak dipanggil sastrawan apa ruginya?

Apabila undang-undang menetapkan setiap sastrawan akan diberikan rumah, makanan, dan dijamin kehidupannya oleh negara, bisa jadi saya akan memakluminya. Tapi kenyataannya, orang yang mengaku sastrawan di sini, sependek yang saya tahu, jual buku kepada pemerintah setempat saja tak tembus, kena PHP terus, begitu juga pengajuan proposal kegiatan sastra semisal lomba atau sayembara, nihil hasilnya. Jadi apa untungnya gelar sastrawan Anda, Tuan? Dan apa pula ruginya jika gelar sastrawan tidak tersemat dalam status Anda? Apakah dengan begitu menjadikan Anda tidak berkarya lagi? Loh, sebutan apa yang pantas bagi pengkarya seperti itu?

Demikian pertanyaan yang saya ajukan. Jika ada yang kurang akan saya tanyakan lagi pada kesempatan berikutnya.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 pemikiran di “Ingin Dipanggil Sastrawan”