Perjalanan Menuju Ledakan Detik Puisi-Puisi Tsi Taura

Sehimpun Puisi
Ledakan Detik

Penulis:
Tsi Taura

Halaman: xxxii+143 hlm.
Ukuran: 15×23 cm
Sampul: Hard Cover
ISBN: 978-602-51844-9-9
Tahun Terbit: Agustus 2018

Perjalanan Menuju Ledakan Detik Puisi-Puisi Tsi Taura

Oleh: Sartika Sari

Puisi seringkali digunakan sebagai salah satu rujukan untuk mengetahui isu-isu sosial pada zamannya. Sebagai teks yang disusun dari struktur fisik dan batin yang erat dengan psikologis, budaya, dan lingkungan masyarakat, hal-hal yang disampaikan dalam puisi memang berpotensi untuk merepresentasikan suatu kondisi tertentu. Dalam hal ini, misalnya, puisi dinilai berelasi dengan kehidupan penyair sebagai bagian dari masyarakat sosial.

Atas dasar itu, tidak mengherankan jika puisi yang lahir pada tiap zaman memiliki karakteristik yang berbeda-beda.  Setiap puisi menawarkan rasa masing-masing. Sebagaimana yang dikatakan Waluyo (2001) bahwa rasa (feeling) merupakan bagian dari struktur batin puisi. Pengungkapannya erat dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair. Misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis, psikologis, dan pengetahuan.  Melalui teknik penulisan, pilihan kata, dan pilihan sudut pandang, puisi menghadirkan perspektif penyair. Puisi sekaligus menjadi telangkai keberadaan penyair dengan dunianya. Dengan karakteristik tersebut, puisi tidak dapat disebut sekadar rangkaian kata.

Sejak pertama membaca puisi-puisi Tsi Taura yang dibagikan pada laman media sosial facebook, akun whatsapp, dan buku Pengantin Kabut Laut,  hal yang paling berbekas dalam ingatan saya adalah kekuatan “rasa” yang dimunculkan pada tiap puisinya. Persoalan estetika yang dibangun dari pilihan kata dan teknik ungkap adalah daya pikat lainnya.

Penyair yang memiliki nama asli T. Suhaimi Idris ini lahir pada 5 Mei 1960 dari pasangan suami istri Tengku Mohd. Idris dan Sjafiah binti Sjakhduddin. Tsi Taura merupakan Insan Adhyaksa (Kejaksaaan) yang diam-diam terus menulis puisi dan cerpen. Dalam catatan kepengarangannya, tahun 1980-an puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dimuat di Mingguan Dobrak, Harian Sinar Pembangunan, Majalah Dunia Wanita, dan Harian Analisa Medan. Tahun 1990-an, Tsi Taura mendapat penghargaan sebagai penulis kreatif dari Dewan Kesenian Medan.

Perjalanan kepengarangan Tsi Taura yang terhitung panjang telah melahirkan banyak karya—beberapa waktu belakangan ini didominasi oleh puisi. Dalam buku ini, perjalanan tersebut ditandai dengan keberagaman tema yang ditampilkan. Puisi-puisi yang terhimpun dalam Ledakan Detik dimulai dari tahun 1976 hingga 2018. Suatu hari, dalam obrolan lain, penyair pernah mengungkapkan bahwa sebenarnya masih banyak puisi dari tahun sebelum 1976 yang ingin dihadirkan, namun terhalang karena dokumentasi puisi-puisi tersebut hilang.

Akan sangat menarik andai puisi-puisi awal itu dapat ditemukan sehingga mengutuhkan rantai perjalanan kepenyairan Tsi taura, dan buku ini menjadi karya retrospektifnya. Kendati demikian, puisi-puisi yang termaktub dalam Ledakan Detik, telah menunjukkan bagaimana perkembangan estetika puisi Tsi Taura bergerak.

Saya melihat perubahan itu  dalam empat fase yakni 1970-an, 1980-an, 1990-an, dan 2000-an, yang diwakili oleh beberapa puisi. Keempat fase tersebut dibentuk untuk mempermudah pendeteksian isu dan penanggalannya. Meski tentu, tidak sepenuhnya tepat dan tidak berarti saklek, karena di luar puisi-puisi yang saya amati ini, sangat terbuka kemungkinan masih adanya puisi dengan karakteristik lain. Dalam buku ini, keempat fase tersebut sengaja dilebur dan disusun secara tematis agar tidak memperketat framming dari pengelompokkan yang saya coba lakukan.

 Pertama, pada tahun 1970-an, puisi Tsi Taura banyak membicarakan problematika sosial yang berkaitan dengan aku lirik, keluarga, negara, serta hal-hal lain yang menyangkut kehidupan bermasyarakat. Misalnya yang muncul dalam puisi Jakarta, Api dalam Rumah, dan Satu Hari Kita Bergerak.

JAKARTA

Tuhan, Engkau gerakkan juga langkah ke ibu kota
Menuntut ilmu
Kampung kutinggalkan
Emak menangis di muka pintu

Jakarta tak menyapa
Aku senyap dalam bis kota
Copet mengedipkan mata

Peta dalam saku
Lusuh kumuh
Hidup baru

Puisi Jakarta menampilkan sepenggal perjalanan aku lirik (identik dengan aku—penyair) ketika hijrah ke Jakarta. Meski ditulis oleh laki-laki, puisi Jakarta sama sekali tidak menunjukkan keangkuhan, arogansi, atau misoginisnya aku lirik. Sangat berbeda dengan yang diungkapkan oleh Rutherford (1988:4)  tentang laki-laki maskulin yang senantiasa mengadopsi nilai-nilai superioritas laki-laki.

Dalam konstruksi maskulinitas konvensional, merantau—bergelut dengan dunia luar—dapat dimaknai sebagai salah satu bentuk aktivitas laki-laki dengan superioritasnya untuk mewujudkan ambisi. Namun tidak demikian yang ditampilkan Tsi Taura. Merantau dalam puisi Jakarta, cenderung direpresentasikan sebagai keputusan yang tidak lahir sepenuhnya dari diri aku lirik.

Larik “Tuhan, Engkau gerakkan juga langkah ke ibu kota” menunjukkan bagaimana pilihan merantau itu dimulakan. Kata “juga” dapat ditafsirkan sebagai penguat niat merantau yang lahir dari penyair atau sebaliknya, merantau adalah pilihan yang cenderung tidak diinginkan. 

Tetapi larik “Emak menangis di muka pintu/Jakarta tak menyapa/Aku senyap dalam bis kota” kemudian mempertegas kondisi penyair yang berat hati untuk merantau. Larik itu turut menunjukkan kedekatan antara aku lirik dengan ibunya. Meski dalam banyak pandangan, termasuk Freud yang dianalisis Beauvoir (2003) menyatakan bahwa hubungan ibu dengan anak laki-lakinya dinilai penuh keraguan karena berasal dari konstruksi gender yang berbeda, tetapi puisi Jakarta menghadirkan potret lain. Sebagaimana yang dituliskan Beauvoir (2003) bahwa banyak perempuan yang lebih suka memiliki anak laki-laki, puisi Jakarta juga merepresentasikan bahwa anak laki-laki pun memiliki ikatan emosional yang jauh lebih dekat dengan ibu.

Selanjutnya adalah puisi “Api dalam Rumah” yang menyuarakan ingatan masa kecil.

API DALAM RUMAH

Tubuhku selalu menggigir
Jantung berdebur ombak
Kudengar di balik pintu
Pekik seperti petir
Menujah sunyi
Waktu yang tak terjadwal

Kukatup telinga
Jiwaku seleramu meratah duka
Suara tangis melodi yang kau sukai

Ohh, masa kecil kita
Aku malu pada matahari
Melukis bulan di balik tingkap bergorden besi

(Medan, 1977, Tsi Taura).

Puisi ini menampilkan pilunya ingatan masa kecil aku lirik. Penyair mewujudkan bagaimana api yang “panas” itu membakar dirinya melalui citraan alam. Dalam larik “Tubuhku selalu menggigir/Jantung berdebur ombak” kecamuk fisik dan batin aku lirik digambarkan. Selanjutnya larik “Kudengar di balik pintu/Pekik seperti petir/Menujah sunyi/Waktu yang tak terjadwal” menunjukkan situasi menakutkan yang sewaktu-waktu dialami aku lirik. Dalam puisi singkat ini, penyair memaksimalkan pengungkapan emosi dengan verbalistis dan menyelesaikan sendiri konflik batinnya sebelum sampai ke pembaca. Larik “Ohh, masa kecil kita/Aku malu pada matahari/Melukis bulan di balik tingkap bergorden besi” menutup serangkaian peristiwa sentimentil yang dialami aku lirik.

Dalam tema lain, puisi “Satu Hari Kita Bergerak” memunculkan persoalan sosial sebagai tulang rusuknya.

SATU HARI KITA BERGERAK

Hidup sulit di negeri ini
Bersuara tangkap dan siksa
Lihat saja
Rasakan juga
Yang berkuasa mereka
Unjuk rasa jangan coba-coba
Koran hanya muat iklan
Tak ada kebejatan para penguasa

Inikah orde baru
Semua jangan diganggu
Tunggu sajalah hari-harimu
Tak ada abadi kekejian rakyat
Rakyat itu dekat ke Tuhan

Sudahlah kita bersunyi dulu
Simpan tenaga
Telusuri siasat
Kita jangan terlalu dilumat
Sebentar lagi suara mahasiswa mengaum

Hai kawan-kawan sependeritaan
Catat di dinding-dinding luka
Satu hari kita bergerak
Tak mundur setapak
Sebelum negeri ini luka parah

(Medan, 16 Mei 1978, Tsi Taura).

Membaca puisi ini, saya teringat dengan sajak-sajak WS Rendra yang berapi-api. Penyuaraan kritikan terhadap pemerintah disampaikan lugas. Saya sependapat dengan Joko Pinurbo (1994) yang mengungkapkan bahwa teknik pengungkapan puisi yang demikian itu, motif dasarnya tetap sama: kehendak untuk berada sedekat mungkin dengan psikologi massa. Dalam puisi ini, penyair menunjukkan upaya pendekatan dengan massanya melalui penyuaraan ketidakadilan yang diasumsikan sebagai milik bersama.

Selanjutnya, pada fase kedua, tahun 1980-an, terdapat puisi “Kembali ke Titik Nol” dan “Ziarah Terakhir”.

KEMBALI KE TITIK NOL

Nol merasuk jiwaku yang lepuh
Seperti cawan retak menampung segala yang ada dan tiada
Tak memilah ketika Nol dituang angka-angka yang antre

Jangan katakan kesetiaan tercemar di janji yang lalu
Bukan pelacur menagih cinta pada syahwat
Tak merasa apa-apa

Pulang membasuh nista
Tapi menyentuh aib yang lain
Seperti Nol bersenggama

Tuhan, isi Nol-ku dengan gairah asma-Mu
Bukan menggusur surga dalam kilauan duniawi
Kutahu alangkah hinanya hari-hariku
Muliakan hari yang berderet ukur
Seperti Nol yang bayi

(Medan, 05 Mei 1981).

Bergeser sedikit dari isu sosial, puisi-puisi tahun 1980-an didominasi oleh tema-tema religius, yang mendialogkan berbagai peristiwa yang dialami aku lirik dengan Tuhan. Dalam puisi “Kembali ke Titik Nol”, Pembicaraan aku lirik dengan Tuhan itu dibubuhi angka “nol” sebagai telangkai emosi aku dan Tuhan. Puisi ini dramatik, menyajikan adegan per adegan emosi aku lirik secara verbal.

ZIARAH TERAKHIR

Jika matamu masih sebening embun
Daun-daun tualang
Hatimu lembaran sabdaNya

Birahi kota mekar
Mengelupas iman
Aku tersingkir di jembatan yang kubangun
Kau menghempas jemariku

Kini jembatan itu menunggu lagi
Tak seperti dulu
Ketika kau ke kota
Ziarah duka
Kandil padam labuh dalam
Batu larangan terpacak risau

Seperti sejarah hilang di bibir
Kutinggalkan catatan di dinding
Ziarah terakhir

(Bahorok, Langkat, Sumut, Agutus 1984).

Bahasa santun dan penuh keheningan dalam puisi ini digunakan untuk menyembunyikan kekecewaan yang dialami aku lirik. Penyair terasa sangat berusaha melakukan sublimasi makna dan menghindari verbalistis untuk mengungkapkan perasaannya yang penuh kecamuk. Teknik ungkap tersebut menjadi pemikat tersendiri karena kemultitafsirannya.

Pada fase ketiga, puisi-puisi tahun 1990-an diwakili oleh puisi “Sajak Buat (E.R)” dan “Sepasang Sanda Jepit”.

SAJAK BUAT (E.R)

Biar saja tugu itu berlumut tebal
Tak usah dikikis hanya untuk melihat sebaris kata
Kata tak bermakna
Kau tak melukai pada hulu hatiku
Biarkan pesanggarahan itu sunyi

Tak ada lagi yang harus ditanyakan
Tak ada lagi yang perlu disesalkan
Nasib bangsawan biarlah bangsawan jua menitah asmara

Biarkan aku berlalu di sela kepedihan
Jangan halau burung-burung menjengukku
Jangan tiup seruling gembala dalam sunyiku
Kuingin mengunci pintu
Mengubur kepalsuan
Seperti kau berlalu di sela kegembiraan
Kalau pun aku keliru
Kau tak jua berani melanggar adat

Tetapi di lain waktu kau bukan seteruku
Seperti katamu
Perpisahan adat bukan perpisahan jiwa

(Medan, 15 Maret 1990, Tsi Taura).

Kepekaan Tsi Taura pada persoalan bangsa tidak hanya diwujudkan dengan merespon peristiwa-peristiwa sosial tetapi juga yang berkaitan dengan nasib bangsawan. Kata “tugu berlumut tebal”, “seruling gembala dalam sunyiku” diracik untuk menunjukkan sunyinya pesanggrahan dan besarnya ketidakpedulian itu. Sampai pada fase ini, penyair makin tampak terbiasa menandai perasaan, pandangan, dan penilaiannya melalui citraan suasana. Berbeda dengan Acep Zamzam Noor yang identik dengan gayanya mengkonkretisasi suasana, misalnya “kesunyian kita berlumut pada tembok-tembok” dalam puisi Arco Etrusco 1992,  Tsi Taura memiliki teknik olahan lain.

Pada fase keempat, menurut saya, puisi-puisi Tsi Taura dikerumuni oleh tema-tema religius.

SEPASANG SANDAL JEPIT

Buruh pabrik sandal jepit
Mencari Tuhan di mesjid
Sarung baru
Sandal jepit baru dan wangi
Tercium majikan

Buruh pabrik diinterogasi
Dan diberi penghargaan pencuri
Mandor datang menggari
Menghalau ke kantor polisi

Buruh pabrik di Pengadilan
Hakim menutup mata
Jaksa menutup nurani
Buruh menangis di pangkuan Tuhan
Tuhan membelai rambutnya dan berbisik:
Biar saja nanti kupetikkan buah surga untukmu

(Muara Bungo Jambi, 03 Mei 2002, Tsi Taura).

Ironi yang ditangkap Tsi Taura dalam puisi Sepasang Sandal Jepit tidak berhenti pada pengkritikan terhadap pengadilan. Lebih dari itu, melalui puisi ini penyair berusaha menelangkai problematika sosial yang seringkali dinilai berada di bawah kekuasaan hukum duniawi dengan sang penilai yang paling tinggi, yaitu Tuhan. Dua hal yang kerap dipisahkan, namun dihadirkan secara paradoksal oleh penyair.

LEDAKAN DETIK

Senja menimpa langkah
Deburan ombak di pantai mengaum
Tiba-tiba aku rindu menyentuh-Mu

Kubergegas menuju gamitan azan
Aku tak memiliki banyak kehidupan
Menguras aib di kening

Aku tergeming seperti kudengar bisikan langit
Ledakan detik
Firaun pun meratap sunyi

Tak seorang sahabat pun mampu menyembunyikan ragaku
Mungkin aku hilang sendiri seperti megap baung
Bukalah pintu-Mu
Biar kulantun nyanyian Jibril
Kubasuh jiwa sebelum gigir meracau

Biar indah semula jadiku
Seperti telaga cermin

(Jakarta, 5 Juli 2018, Tsi Taura).

Puisi-puisi religius Tsi Taura disampaikan dalam bentuk variatif. Dalam puisi ini misalnya, pada bait pertama, “Senja menimpa langkah/Deburan ombak di pantai mengaum/Tiba-tiba aku rindu menyentuhMu” menunjukkan hubungan erat antara aku lirik, alam, dan Tuhan. Strategi ini menjadi kekhasan puisi-puisi religius Tsi Taura. Selain itu, penyair memilih untuk secara verbal mengungkapkan kondisi aku lirik. Kelugasan penyair dalam mengungkapkan perasaannya pada Sang Khalik seperti yang diasumsikan oleh Annemarie Schimmel dalam bukunya Menyingkap Yang-Tersembunyi (Terj. Saini K.M., Cet. I, 2005:40) dan dikutip oleh Abdul Wachid B.S (2015), sebagai berikut.

“Sesungguhnya, ketunggalan-nada yang lugas dan lurus dalam pesan profetis memang diperlukan agar isi wahyu yang diterima Nabi dapat dipertahankan kemurniannya, sehingga tidak ada perubahan padanya. Sebagai akibatnya, seorang penyair Muslim yang menulis sajak dalam tradisi “profetis” cenderung menggunakan bentuk yang sederhana untuk menekankan pesannya ke dalam pembacanya.”

Dalam proses pembacaan yang dibantu dengan pengelompokan empat fase itu, hal yang menurut saya penting untuk menandai perjalanan kepenyairan Tsi Taura adalah estetika puisi-puisinya yang sangat dekat dengan estetika keindahan Melayu. Argumentasi ini dengan merujuk pada pandangan Braginsky, penyair Rusia yang pernah dimuat dalam tulisan di majalah Basis (Teeuw,2015) yang menyebutkan bahwa secara singkat dapat dikatakan ada tiga aspek pada konsep keindahan Melayu. Hal itu adalah aspek ontologis, yaitu keindahan puisi sebagai pembayangan kekayaan Tuhan Yang Maha Pencipta; berkat daya cipta-Nya keindahan mutlak dari Tuhan (al-Jamal, Yang Mahaelok) dikesankan pada keindahan dunia gejala (husn=indah), khususnya dalam karya seni dan sastra. Kemudian aspek imanen dari yang indah, yang terungkapkan dalam kata-kata seperti ajaib, gharib, tamasya, dan lain-lain, dan selalu terwujud dalam keanekaragaman, keberbagaian yang harmonis dan teratur, baik dalam alam, maupun dalam ciptaan manusia. Selanjutnya, berkaitan dengan efeknya: aspek psikologis ataupun pragmatik: efek pada pembaca yang menjadi heran, birahi, leka, lupa yang kehilangan kepribadiannya karena mabuk, dimabuk warna, keanekaragaman dan lain-lain, yang juga terungkap dalam istilah penglipur lara.

Keindahan Melayu itu, juga dekat dengan estetika puisi Jawa Kuno. Zoetmulder dalam analisis Teeuw (2015) mengatakan bahwa puisi bagi sang penyair (kawi namanya) adalah semacam yoga; kawi sendiri seorang yogin, yaitu orang yang melakukan yoga atau latihan rohani tertentu. Dengan demikian, maka menurut Teeuw (2015) jelaslah dalam pendekatan estetik Jawa Kuno ini pun, seperti dalam sastra Melayu, estetik tidak bersifat otonom; fungsi seni diabdikan pada fungsi agama; lewat seni manusia diperhadabkan dengan keagungan ciptaan Tuhan dan dia akan menghilangkan diri (atau kehilangan diri) dalam keagungan pesona itu (Melayu) atau manusia seniman lewat seni mencoba menjangkau persatuan dengan Dewa yang akhirnya akan membawa kehampaan mutlak dan kehilangan dari rantai eksistensi manusia (Jawa Kuno).

Bergerak membaca puisi-puisi Tsi Taura dari tahun 1970-an sampai 2000-an, saya seperti melihat dan diajak turut serta dalam perenungan dan penghayatan terhadap berbagai persoalan hingga akhirnya tunduk pada kebesaran Tuhan. Meski tentu, pembacaan ini masih banyak kekurangan dan tidak secara utuh dapat menangkap makna semua puisi dalam Ledakan Detik.

Dengan begitu, saya sangat berharap pembaca yang lain dapat melengkapi kerumpangan pembacaan saya, melerai benang kusut, dan menafsir lebih dekat. Demikian pembacaan saya atas puisi-puisi Tsi Taura, semoga dapat menjadi alternatif penafsiran, namun bukan tidak mungkin diabaikan. Pembacalah yang memperkayanya. Selamat membaca.

Daftar Acuan

Beauvoir, S. D. (2003). Second Sex: Kehidupan Perempuan (T. B. F. d. N. Juliastuti, Trans.). Jakarta: Pustaka Promethea.

Pinurbo, Joko. 1994. Puisi Indonesia Antara Komitmen Sosial dan Jelajah Estetik. Jurnal Kalam, edisi 1-1994.

Rutherford, Jonathan. 2014. Siapakah Laki-Laki Itu?. Dalam Male Order Menguak Maskulinitas (Ed. Rowena Chapman dan Jonathan Rutherford). Yogyakarta: Jalasutra.

Teeuw, A. 2015. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.

Wachid B.S., Abdul. 2015. Puisi Sufi A. Mustofa Bisri. Jurnal Ibda, Vol. 13, No. 1, Januari – Juni 2015.

Waluyo, Herman. 2001. Teori dan Apresiasi Puisi. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.