
Kotak Makanan
Hidup ini penuh dengan makan
Dan kotak-kotak yang berdatangan
Dari pasukan dapur penunggang truk,
Membawa kotak demi kotak kala siang
Kotak makanan
Negara ini juga gila makan
Hutan dimakan atas nama konsesi lahan
Kotak makanan gratis tak lupa dibagikan
Jutaan kritikan yang dianggap celotehan
Gila makanan
Mati itu penuh dengan makanan
Dari kotak-kotak yang berpulangan
Diangkut truk-truk penuh pasukan
Setelah siang membawa pulang yang keracunan
Kotak makanan
Makanan oh makan lah yang banyak
Tak usah ribut soal harga pokok, dolar, BBM
Biarkan itu urusan pemberi makan, pembangun sekolah dan koperasi
Gila makanan
Budaya Bangsa Bertuah
Budayaku budaya bertuah
Tempat waktu seperti karet mentah
Tempat uang seakan kue ultah
Dinyanyikan, ditiup, dibagikan tanpa riuh
Bangsaku bangsa bertuah
Tempat keberanian itu barang mewah
Tampat tersimpan rupa seribu wajah
Diam di depan dalam dusta yang mendarah
Budaya bangsa bertuah
Tempat Sabang, Merauke dipaksa marah
Tempat menusia berserakan tak berarah
Hanya bergerak ikuti kata ayah
Budaya bangsa bertuah
Asal bapak senang menjadi arah
Jujur berbudi luhur jadi masalah
Orang orang saling beradu benar salah
Budaya itu indah tak berbahaya
Bangsa yang lemah kan terperdaya
Bertuah indah dipandang mata
Kuat bertahan dari gerus arus dunia
Terang Boelan
Kata orang
Terang boelan itoe martabak
Dijual di jalan Serdang
Dibeli orang cina hingga keling
Dijual orang Jawa hingga Melayu
Kata orang
Kota Medan itoe keras
banjak jang teriak-teriak
di djalan-djalan kota itoe
Klakson mikrolet berjoeang
Tanpa henti
Kata orang
Terang boelan ada di Medan
Dijoeal di djalan Serdang hingga japaris
Sekarang itoe Doeloe
Kini Medan dikenal oleh teriakannja
Kembalikan Medan jang Doeloe
Dengan terang boelannja
Koe ingat Doeloe
Kala terang boelan masih dijoeal
Kala kita Medan masih Bestari
Adipura enam Yuni doea riboe doea belas
boekti kota Medan pernah berdjaya
Doeloe ke kini, Medan kota kita tercinta
Pinggir Jalan
Di pinggir jalan
Segelas kopi dan orang tua
Buta, menari nari di jalan kota
Hingga dibawa serdadu berbaju coklat
Sungguh, pinggir jalan itu
Tempat lalu lalang tanpa palang
Kopi dijajakan tiap malam
Paginya disambut hiruk-pikuk kemacetan
Ku di pinggir jalan kala itu
Kala pagi datang membawa kesemrawutan
Ku genggam kopi malam itu di jalan itu
Kopi yang dingin kembali memanas, telingaku?
Klakson berteriak
Dari sopir angkot yang sibuk memaki
Dan pemotor tak berotak
Punya motor tanpa aturan
Jalanan tak bertuan
Ku di pinggir jalan itu
Dengan kopi sisa malam tadi
Kubuang semua
Tertawa teriak hingar bingar jalanan kota Medan
M. Salrian Singh, kelahiran Kota Medan 16 Desember 2007, anak sulung dari tiga beraudara, Saat ini aktif sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan. Bahagia menulis puisi dan mengirimkannya ke media dan perlombaan.