PUISI-PUISI M. SALRIAN SINGH

Kotak Makanan

‎‎Hidup ini penuh dengan makan
‎Dan kotak-kotak yang berdatangan
‎Dari pasukan dapur penunggang truk,
‎Membawa kotak demi kotak kala siang
‎Kotak makanan‎

‎Negara ini juga gila makan
Hutan dimakan atas nama konsesi lahan
‎Kotak makanan gratis tak lupa dibagikan
‎Jutaan kritikan yang dianggap celotehan
‎Gila makanan‎

‎Mati itu penuh dengan makanan
Dari kotak-kotak yang berpulangan
‎Diangkut truk-truk penuh pasukan
‎Setelah siang membawa pulang yang keracunan
‎Kotak makanan

Makanan oh makan lah yang banyak
‎Tak usah ribut soal harga pokok, dolar, BBM
‎Biarkan itu urusan pemberi makan, pembangun sekolah dan koperasi
‎Gila makanan

Budaya Bangsa Bertuah

‎Budayaku budaya bertuah
‎Tempat waktu seperti karet mentah
Tempat uang seakan kue ultah
‎Dinyanyikan, ditiup, dibagikan tanpa riuh‎

‎Bangsaku bangsa bertuah
‎Tempat keberanian itu barang mewah
‎Tampat tersimpan rupa seribu wajah
‎Diam di depan dalam dusta yang mendarah

‎Budaya bangsa bertuah
‎Tempat Sabang, Merauke dipaksa marah
‎Tempat menusia berserakan tak berarah
‎Hanya bergerak ikuti kata ayah‎

‎Budaya bangsa bertuah
Asal bapak senang menjadi arah
‎Jujur berbudi luhur jadi masalah
Orang orang saling beradu benar salah‎

Budaya itu indah tak berbahaya
Bangsa yang lemah kan terperdaya
‎Bertuah indah dipandang mata
‎Kuat bertahan dari gerus arus dunia

Terang Boelan

‎‎Kata orang
‎Terang boelan itoe martabak
‎Dijual di jalan Serdang
‎Dibeli orang cina hingga keling
‎Dijual orang Jawa hingga Melayu

‎‎Kata orang
‎Kota Medan itoe keras
‎banjak jang teriak-teriak
‎di djalan-djalan kota itoe
‎Klakson mikrolet berjoeang
‎Tanpa henti‎

‎Kata orang
Terang boelan ada di Medan
‎Dijoeal di djalan Serdang hingga japaris
‎Sekarang itoe Doeloe
‎Kini Medan dikenal oleh teriakannja
‎Kembalikan Medan jang Doeloe
‎Dengan terang boelannja‎

Koe ingat Doeloe
Kala terang boelan masih dijoeal
‎Kala kita Medan masih Bestari
‎Adipura enam Yuni doea riboe doea belas
‎boekti kota Medan pernah berdjaya
‎Doeloe ke kini, Medan kota kita tercinta ‎

Pinggir Jalan‎

‎Di pinggir jalan
Segelas kopi dan orang tua
‎Buta, menari nari di jalan kota
‎Hingga dibawa serdadu berbaju coklat‎

‎Sungguh, pinggir jalan itu
Tempat lalu lalang tanpa palang
‎Kopi dijajakan tiap malam
‎Paginya disambut hiruk-pikuk kemacetan‎

‎Ku di pinggir jalan kala itu
Kala pagi datang membawa kesemrawutan
‎Ku genggam kopi malam itu di jalan itu
‎Kopi yang dingin kembali memanas, telingaku?‎

‎Klakson berteriak
Dari sopir angkot yang sibuk memaki
‎Dan pemotor tak berotak
‎Punya motor tanpa aturan
‎Jalanan tak bertuan‎

‎Ku di pinggir jalan itu
Dengan kopi sisa malam tadi
‎Kubuang semua
‎Tertawa teriak hingar bingar jalanan kota Medan

M. Salrian Singh, kelahiran Kota Medan 16 Desember 2007, anak sulung dari tiga beraudara,  Saat ini aktif sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan. Bahagia menulis puisi dan mengirimkannya ke media dan perlombaan.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.