Puisi Sartika Sari

Puisi Sartika Sari

Punggung Sepi Sahilan

perjalanan paling jauh ditempuh dalam ingatan

bayang-bayang kehidupan

atau setangkai mawar yang tertidur di tengah jalanan lengang

pada tubuhnya, sepi digiring seperti anak-anak kampung

berlarian di bawah hujan

tertawa di bawah terik matahari petang

ketika papan dan atap terus berbincang tentang pertalian

atau jendela-jendela menatap

seperti segandeng mata kucing kehausan

di ujung jari-jarinya,

sepi bercengkrama satu sama lain

mengingat-ingat masa hidup

masa kecil

dan masa kematian

hingga masa-masa yang kini

memunggungi mereka

sepi menerjemahkan diri jadi debu

di hamparan nisan

dan rumput kering

sementara sepi-sepi yang lain

beranak pinak di antara tepas tua,

lelo, gong, tombak, payung, dan pedang

sepi kemudian memulangkan badan

pada keriput di kening tuan puan

Medan, 2018

Membayangkan Kehidupan

pada malam yang ricuh, kukenang dikau, raja

tanah ini menyimpan apik bau tubuhmu

angin dan daun menyaksikan titah

sejak rantau daulat sampai rantau andiko

kami susuri jejak dan pacak

langit sudah berganti wajah

orang-orang bertukar tiap masa

maka, kujemput lagi kematian di rumahmu

pada dinding-dinding yang dingin

di antara jejeran fotomu

yang tertidur panjang

lalu kubawa pada barisan pemuda

kusampaikan pada orang-orang di jalan raya

tapi batu telah menjadi tubuh

lidah telah menjadi kaca

kaki sudah menjadi langit

dan masa lalu mengasing

dari segala penjuru

terpujilah semesta

yang masih menyimpan dalam-dalam namamu

di ujung jalan

dan kedukaan

Medan, 2018

Sejumput Mimpi di Bukit Rimbang

kalau ada yang bertanya,

di mana sekolahmu,

maka akan kujawab,

“sekolahku ada di sini,”

sambil menunjuk hati

karena bangunan

hanya persoalan penafsiran

kalau ada yang bertanya,

di mana lampumu?

saat itu akan kubawakan

semangkuk kegelapan

untuk menidurkan malam-malamnya

yang gersang

kalau ada yang bertanya,

kau bisa apa?

aku akan diam,

menatapnya pelan-pelan

dan membawanya masuk ke angan-angan

karena ketidaktahuan

hanya milik orang-orang yang putus keyakinan

biar sungai memperpanjang perpisahan

bagiku, perjuangan tidak musti

berdiri berhadapan

Medan, 2018

Sartika Sari lahir di Medan, 1 Juni 1992. Sejumlah karyanya terbit di Waspada, Medan Bisnis, Analisa, Jurnal Medan, Batak Pos, Mimbar Umum, Buletin Jejak, Majalah Kampus Universitas Riau, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Horison, Haluan Padang, koran Hari Ini, Majalah Sabana, Majalah Zine, Riau Pos, Indo Pos, Kompas, Media Indonesia, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Tempo, Jawa Pos, Republika,  surat kabar Borneo Kinabalu (Malaysia), dan sejumlah antologi. Buku pertama Sartika berjudul Elegi Titi Gantung merupakan kumpulan puisi yang diterbitkan tahun 2016.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.